Regulasi PJU Pintar Solo Sudah Siap, Tinggal Tunggu Investor Saja
Ilustrasi PJU. (Solopos/Dok)

Solopos.com, SOLO -- Pembuatan Peraturan Daerah (Perda) Solo tentang revitalisasi penerangan jalan umum atau PJU pintar dengan berskema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) sudah rampung.

Kini, Pemkot Solo tengah menunggu investor yang siap menanam modal dalam proyek revitalisasi layanan PJU Kota Solo agar sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Ini baru proses lelang investor. Sebelumnya memang sudah banyak yang tertarik, tapi baru lihat-lihat. Ketertarikan investor ini tampak saat market sounding beberapa waktu lalu. Dari situ, kami lihat ada minat pasar berarti proyek ini marketable atau menjual,” terang Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Solo, Endah Sitaresmi Suryandari, kepada wartawan, Kamis (24/9/2020).

Update Covid-19 Solo: Klaster Perkantoran Jebres Tambah 3 Kasus Lagi, Total 10 Orang Positif

Sita, sapaan akrabnya, mengatakan saat ini tengah menyusun persyaratan lelang pengadaan PJU pintar Solo itu. Ada puluhan poin yang menjadi persyaratan yang seusai dengan pasar. Jika dianggap menguntungkan, maka investor yang melirik dipastikan lebih banyak.

“Kementerian Keuangan [Kemenkeu] telah menunjuk PT Sarana Multi Infrastruktur [PT SMI, Persero] menjadi konsultan yang membantu kami menyusun proses ini,” katanya.

Meterisasi PJU

Sasaran proyek meliputi PJU pada jalan arteri/kolektor dan jalan lingkungan sepanjang 975 kilometer. Dalam dokumen rancangan kerja sama, kedua pihak akan melakukan pemasangan PJU baru menggunakan LED, meterisasi PJU.

Sempat Ngarep Dapat Nomor Urut 01, Tim Bajo Pilkada Solo: 02 Juga Oke, Artinya Victory

Juga operasional, pemeliharaan, termasuk penggantian lampu dan utilitas terkait dengan sistem cerdas. Kerja sama pengadaan PJU pintar Solo itu memiliki masa konsesi selama 10 hingga 20 tahun masa operasi dengan masa konstruksi dua tahun.

Lebih lanjut, Sita mengatakan mayoritas PJU Kota Bengawan menempel pada tiang PLN, Telkom, maupun swadaya masyarakat. Hanya 10 persen yang merupakan tiang mandiri pengadaan Pemkot.

“Dari ribuan PJU itu pula, masih ada 20 persen yang belum termeterisasi dan hampir seluruhnya menggunakan lampu pelepas gas bukan LED,” katanya.

Tambah 17 Kasus Baru Positif Covid-19 Kota Solo, Ini Perinciannya

Tanpa meterisasi, biaya abonemen PJU itu jadi tertagih flat atau tak terukur. Sita menyebut penggantian tiang terutama untuk yang menempel pada tiang Telkom maupun tembok warga. Hal itu agar Pemkot bisa mengatur cahaya pada daerah-daerah tertentu.

Jamak temuan pada beberapa titik yang mendapati cahayanya lebih terang karena tersedia tiang untuk lampu. Per bulan, Pemkot membayar Rp3,7 miliar-Rp3,8 miliar untuk PJU.

Biaya Perbaikan

Dengan demikian, selama 12 bulan, biaya yang harus Pemkot bayarkan ke PLN mencapai Rp45 miliar. Hal itu belum termasuk biaya perbaikan dan pemeliharaan dana yang keluar sampai Rp50 miliar.

Masih Pandemi, KPU Solo Pede Targetkan Partisipasi Pemilih Pilkada 2020 Sampai 77,5 Persen

“Selama dua tahun konstruksi itu, kami membayar dengan nilai sama tapi manfaatnya lebih baik. Ke depan, mungkin bisa lebih efisien,” jelasnya.

Sita mengakui proses lelang PJU pintar Solo itu terkendala pandemi Covid-19. Komunikasi dan koordinasi secara daring tidak utuh menjawab interaksi.

“Kami tidak berinteraksi langsung. Pakai layar kan satu-satu. Kami nyela juga agak susah, walau gampang ada yang membatasi kami lah. Tapi, kami harap tahun depan lelang selesai dan mulai proyek,” ucapnya.

Update Covid-19 Solo: Klaster Perkantoran Jebres Tambah 3 Kasus Lagi, Total 10 Orang Positif

Sebelumnya, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengatakan jika merujuk paparan PT SMI, meterisasi mampu menghemat 50 persen biaya pajak tersebut. Rudy, panggilan akrabnya, berharap proyek PJU pintar dapat terealisasi pada 2021.

“Pasti profit karena saat wacana ini mengemuka, sudah banyak perusahaan yang menawarkan kerja sama,” kata Rudy, belum lama ini.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom