Asisten Pelatih Persis Solo, Dani Suryadi. (Solopos/Ivan Andimuhtarom)

Solopos.com, SOLO – Satu gebrakan besar dilakukan Persis Solo jelang bergulirnya Liga 2 musim 2020. Mereka kini mempekerjakan seorang analis di bidang sepak bola untuk membantu tim pelatih menyajikan program latihan dan evaluasi tim.

Sosok yang mendapat kepercayaan tersebut bernama Dani Suryadi, 29. Lelaki asal Bandung, Jawa Barat itu sudah bergabung pada latihan perdana Persis di Stadion Sriwedari, Solo, Rabu (20/11/2019) pagi WIB. Sepanjang sesi latihan, ia terus berada di samping Pelatih Kepala Persis, Salahudin.

Penunjukan Dani bukan sesuatu yang mengejutkan. Musim ini, ia membantu Jakarta United, sebuah tim Liga 3 DKI Jakarta yang dimiliki bos Persis Vijaya Fitriyasa, menjuarai kompetisi kasta ketiga di Indonesia tersebut. Kiprahnya di Jakarta United diharapkan mampu membawa kemajuan untuk Persis.

“Status saya asisten pelatih. Saya membantu apapun terkait kebutuhan pelatih dan asisten pelatih lain,” ungkapnya saat berbincang dengan awak media seusai latihan.

Dani memulai kiprahnya di bidang sepak bola sejak 2013. Mulanya, ia menonton sepak bola Eropa, merekamnya, mengavaluasinya, kemudian membikin tulisan. Ia juga belajar statistik. Uniknya, Dani adalah seorang analis kimia. Ia bahkan sempat melanjutkan pendidikan di bidang psikologi. Baginya, semua ilmu yang ia pelajari saling berhubungan.

Ia kemudian terbang ke Inggris untuk mengikuti kursus lisensi pelatih Level II FA yang berada di bawah naungan UEFA selama setahun mulai 2015. Jika dikonversi, Level II FA setara dengan lisensi C AFC. Mulanya ia tinggal di Yorkshire, kandang Hull City. Setelah beberapa bulan, ia kemudian pindah ke Leicester City. Saat itu, Leicester City mengukir sejarah dengan menjadi kampiun Liga Premier Inggris 2016.

“Pada saat belajar lisensi kepelatihan Level II FA UEFA, ternyata kepakai [statistik]. Pelatih harus bisa semua. Tak hanya ini bagus, ini enggak. Tapi balik lagi ke data. Analisanya tak hanya kualitas, tapi kuantitas juga,” tuturnya.

Dani sempat kebingungan saat pulang ke Indonesia. Hal itu lantaran lisensi pelatih yang ia miliki berbeda dengan yang biasa dipakai di Indonesia, lisensi AFC. Ia pernah diledek beberapa orang karena lisensinya tak berguna di negeri sendiri.

“Mereka bilang kenapa saya enggak kerja di sana [Inggris]. Saya kemudian jadi volunteer di Diklat Persib Bandung, lalu ke PSSI untuk AFC A. Saya bertemu Coach Salahudin di sana,” ujar dia.

Di Jakarta United, Dani memiliki tugas untuk menganalisis statistik pertandingan. Kekurangan yang ada selama pertandingan dicatat lalu dimasukkan dalam program latihan. Hal senada kemungkinan juga akan ia lakukan di Persis. “Tapi keputusan ada di pelatih kepala,” kata dia.

Dani menuturkan tim pelatih bagaikan dokter. Mereka harus mendiagnosa kekurangan tim kemudian mencari solusi untuk memperbaiki kekurangan itu. Lebih lanjut, program latihan yang diberikan juga tidak melulu berdasar pengalaman tetapi berbasis sains dan data.

“Jadi kamu ngapain lari dua meter? mengapa tidak tiga meter? Harus ada pertanyaan seperti itu dari pemain. Pemain harus mulai kritis. Ini ngapain. Ini prinsipnya apa? Saya pengen ada class room, tanya jawab. Saya pengen mereka tidak iya-iya, tapi tidak paham. Itu dibantu coach salah dengan pengalaman, tugas saya bikin kombinasi,” paparnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten