Polemik Jebakan Tikus Berlistrik, KTNA Sragen: Petani Butuh Solusi, Bukan Ditakut-Takuti Ancaman Pidana
Kapolsek Sragen Kota AKP Mashadi (tengah) bersama Muspika Sragen Kota memasang imbauan larangan pemasangan jebakan tikus beraliran listrik di wilayah Desa Kedungupit dan Tangkil, Sragen Kota, Sragen, Sabtu (9/5/2020). (Istimewa)

Solopos.com, SRAGEN -- Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen Suratno menyayangkan pernyataan Bupati Sragen yang mengancam memidanakan petani pemasang jebakan tikus berlistrik jika sampai mengakibatkan orang meninggal dunia.

Suratno mempertanyakan sikap Pemkab Sragen untuk perlindungan terhadap petani karena jebakan berlistrik itu bukan untuk orang tetapi untuk tikus.

Dihubungi Solopos.com, Kamis (14/5/2029), Suratno mengatakan mestinya Bupati mencarikan solusi terbaik yang memiliki efektivitas sama dengan jebakan tikus berlistrik itu, bukan malah menakut-nakuti petani.

Suratno menyatakan selama ini di kalangan petani Sragen hanya jebakan tikus berlistrik yang paling efektif karena dalam waktu tiga malam bisa membunuh 1.000 ekor tikus.

Oprokan Pasar Klithikan Notoharjo Semanggi Solo Ditutup 3 Hari, Ada Apa?

“Petani sebenarnya bisa diberi pengertian. Misalnya kalau memasang jebakan itu diberi rambu-rambu, seperti lampu, rambu tanda bahaya, dan dijaga. Dengan pengertian itu petani akan mengikuti, bukan ditakut-takuti ancaman pidana. Kami minta Bupati mencarikan solusi yang ideal dan efektif untuk membasmi tikus,” ujar Suratno.

Dia berpendapat kalau memang gropyokan yang efektif lalu bagaimana aksinya dari Pemkab Sragen. Dia tidak ingin petani yang berinisiatif untuk gropyokan terus menerus tanpa dukungan dari dinas terkait.

Suratno menyatakan KTNA sudah mengusulkan supaya ada pengadaan 1.000 ekor burung hantu sebagai predator alami terhadap hama tikus itu. Hal itu supaya petani di Sragen mengurangi pemakai jebakan tikus berlistrik.

Orang Gangguan Jiwa Dikeroyok Sampai Meninggal di Banyudono Boyolali, Begini Rekonstruksi Kejadiannya

“Hama ini masif. Petani berjibaku membasminya. Jebakan tikus berlistrik itu yang paling efektif. Seolah-olah peran pemerintah belum kelihatan atas keberpihakan kepada petani,” ujarnya.

Terpisah, anggota Komisi II DPRD Sragen, Sri Pambudi, menyarankan supaya pihak-pihak terkait duduk bersama dan bersinergi. Masyarakat dan pemerintah bersam-sama menjaga keseimbangan alam supaya jaring rantai makanan di sawah tidak terputus.

Keseimbangan Alam

Dia mengatakan ular sebagai pemangsa tikus nyaris tidak ada sehingga keseimbangan alam terganggu. Pemkab harus mengedukasi petani supaya membasmi tikus dengan cara-cara aman dan tidak membahayakan petani itu sendiri.

Pasien Covid-19 Sembuh di Sukoharjo Terus Meningkat, Kini dari Mojolaban & Kartasura

"Bagi saya, yang efektif itu ya cara lama, yakni fumigasi di lubang-lubang tempat persembunyian tikus. Kalau sarangnya terdeteksi bisa efektif,” katanya.

Sebelumnya, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati melarang petani memasang jebakan tikus berlistrik karena membahayakan nyawa manusia.

Bila masih nekat memasang jebakan tersebut dan sampai mengakibatkan orang meninggal, petani tersebut akan dituntut secara hukum atau dipidanakan.

Pembagian Bansos JPS Covid-19 Solo, Rudy: Warga Pilih Salah Satu, BST Atau Paket Sembako!

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menjanjikan pengadaan burung hantu pada 2021 mengingat anggaran tahun ini dialihkan untuk penanganan wabah Covid-19.

Dia mengatakan solusi yang paling efektif dengan fumigasi atau pengasapan pada lubang tikus saat padi masih ada. Dia melanjutkan saat sawah bera baru dilakukan groyprokan massal dan kerja bakti sanitasi lingkungan sawah.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho