PENIPUAN CPNS KARANGANYAR : Ini Kisah Pelapor Kasus Penipuan 66 Honorer Rp2,8 Miliar
Kasubbag Humas Polres Karanganyar, AKP Suryo Wibowo, (kanan), didampingi Kanit 2 Satreksim Polres Karanganyar, Aiptu Suwandi, menunjukkan barang bukti kasus penipuan dan penggelapan di Mapolres Karanganyar, Jumat (19/6/2015). (JIBI/Solopos/Sri Sumi Handayani)

Penipuan CPNS di Karanganyar masih diselidiki kepolisian.

Solopos.com, KARANGANYAR — Pelapor pada kasus penipuan terhadap 66 orang dengan iming-iming menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS), Mulyo Partono, 44, mengaku mencari calon korban secara getok tular. Namun, dia emoh disebut sebagai calo atau perantara.

“Ini dilematis. Saya enggak mau disebut perantara atau calo. Saya hanya disuruh Sunardi [tersangka kasus penipuan CPNS]. Sunardi berperan sebagai pengambil kebijakan,” kata Mulyo saat dihubungi Solopos.com, Kamis (25/6/2015).

Warga Macanan, Kebakkramat, Sunardi, sudah meringkuk di tahanan Polres Karanganyar atas tuduhan penipuan CPNS. Sedangkan, warga Kwangsan, Jumapolo, Mulyo masih menjalani pemeriksaan penyidik Polres Karanganyar sebagai saksi.

“Masih sering dipanggil untuk dimintai keterangan. Ya saya menyampaikan apa yang saya lihat dan alami,” tutur dia.

Mulyo menceritakan perkenalan dengan Sunardi beberapa tahun lalu. Menurut Mulyo, perkenalan dengan Sunardi difasilitasi dua anggota Kodim 0727/Karanganyar berpangkat Serma dan Kapten. Mulyo diiming-imingi dua anggota Kodim itu dapat membantu meloloskan menjadi CPNS.

Tim BKN

“Saat itulah saya ditemukan dengan Sunardi. Dia [Sunardi] mengaku anggota tim tujuh BKN pusat bertugas merekrut CPNS di seluruh Indonesia, anggota BIN berpangkat Mayor Jenderal, dan pernah dititipi 1.000 orang di Mabes Polri,” cerita Mulyo.

Mul –sapaan akrab Mulyo Partono- akhirnya mengetahui semua itu palsu. Namun, Mul enggan mengatakan komisi dari Sunardi setelah berhasil mendapatkan calon korban penipuan CPNS. Padahal Mul sudah menyetor Rp2,826 miliar ke rekening Sunardi di BCA dan Mandiri. Sejumlah setoran dilakukan secara tunai di rumah Sunardi, di tempat makan, dan di jalan.

“Itu uang dari 66 orang. Besaran berbeda tergantung ijazah. Sunardi yang menentukan harga. Saya hanya menyampaikan. Soal komitmen, [uang] kata Sunardi beres. Semua saya lakukan berdasarkan perintah Sunardi,” jelas dia.

Namun, lagi-lagi Mul enggan menyebutkan komisi dari Sunardi. Sebanyak 66 orang itu dari Soloraya, Purwodadi, Grobogan, Jogja, Surabaya, Kediri, dan lain-lain. Mereka tenaga kerja honorer kategori 1 (K1) dan beberapa orang berstatus wiyata bakti (WB). Bahkan, Mul mengaku salah satu dari 66 orang adalah kerabatnya.

“Ya, saya titipkan [saudara]. Siapa tahu berhasil. Nyoba, mbok menowo bejo. Ternyata, tidak ada satupun yang lolos. Saya melaporkan Sunardi karena tidak menepati janji. Saya hanya diiming-imingi,” jelas dia.

Sementara itu, Kepala Sub Bagian (Kasubbag) Humas Polres Karanganyar, AKP Suryo Wibowo, mewakili Kapolres Karanganyar, AKBP Mahedi Surindra, menuturkan semua pernyataan Mulyo akan menjadi bahan bagi penyidik. Namun, dia enggan berspekulasi terkait status Mulyo.

“Saat ini [Mulyo] masih saksi. Kami juga sudah memeriksa 13 orang saksi, termasuk Mulyo,” tutur dia saat dihubungi Solopos.com, Kamis.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya








Kolom