Ilustrasi (JIBI/SOLOPOS/Dok)

Solopos.com, JAKARTA -- Kewaspadaan terhadap aksi teror yang kemungkinan terjadi pada akhir tahun saja disarankan diperpanjang karena teror juga sangat berpotensi terjadi pada awal 2020.

Saran itu disampaikan pengamat intelijen Ridlwan Habib di Jakarta, Rabu (4/12/2019). Dia mengatakan saran memperpanjang kewaspadaan tersebut karena berkaca pada kejadian bom Thamrin pada Januari 2016.

Kala itu, ungkap dia, kewaspadaan tingkat tinggi dilakukan pada akhir tahun 2015, yaitu pada momen menjelang perayaan Natal sampai Tahun Baru 2016.

"Yang terjadi adalah serangan dilakukan di bom Thamrin Sarinah pada tanggal 11 Januari 2016 artinya setelah kewaspadaan itu turun," kata dia dilansir Antara.

Artinya, kata Ridlwan Habib, jangan sampai kewaspadaan hanya terfokus pada beberapa hari di 25 Desember, 31 Desember, dan 1 Januari saja, karena pola yang dipakai pelaku teror kian waktu terus berubah.

Untuk akhir 2019 sampai Januari 2020 ini menurut Ridlwan cukup berpotensi terjadi serangan teror, namun modelnya sedikit berubah dibandingkan kejadian pada tahun-tahun sebelumnya.

"Mereka menunjukkan konsistensi dan eksistensi bahwa mereka tetap eksis dan ada di Indonesia, untuk menunjukkan itu pada pimpinan mereka (ISIS) Abu Ibrahim Al Hashimi yang menjadi amir khilafah mereka di Suriah," katanya.

Terkait metode yang mungkin dipergunakan para pelaku teror, ungkap Ridlwan Habib, serupa dengan yang terjadi pada mantan Menkopolhukam Wiranto.

"Serangan kecil menggunakan pisau, bahan-bahan yang ada di sekitar kita, dilakukan secara khusus kepada figur-figur atau orang-orang yang dianggap menjadi musuh mereka," ujar Ridlwan.

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten