Pasutri Indonesia Kembali Jadi Bomber ISIS Usai Deradikalisasi, Ini Jejaknya
Ilustrasi militan ISIS (Cnn.com)

Solopos.com, SOLO -- Wacana pemulangan ratusan warga negara Indonesia (WNI) bekas pengikut Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) menjadi kekhawatiran baru. Itu seiring kekhawatiran adanya aliran balik para mantan kombatan ISIS ke Asia Tenggara, khususnya Filipina selatan.

Meski saat ini para mantan anggota ISIS dikabarkan ingin kembali ke Indonesia, sebagian pihak meragukan niat mereka. Setidaknya, pasangan suami istri mantan kombatan ISIS bernama Ruille Zeka dan Ulfa adalah bukti kekhawatiran itu bukan isapan jempol.

Laporan jurnalis BBC untuk kawasan Timur Tengah, Quentin Sommerville, yang dirilis BBC Indonesia dalam video berjudul Menelusuri jejak suami istri pengebom bunuh diri ISIS asal Indonesia, Jumat (7/2/2020), menjelaskan jejak pasangan ini. Mereka pernah berupaya memasuki Suriah untuk bergabung sebagai fighter ISIS, namun gagal.

Jateng Sediakan 10 Rumah Sakit Rujukan Virus Corona

Namun Ruille Zeka dan Ulfa tak begitu saja kembali ke Indonesia. Mereka bertahan di Turki dan tinggal di sebuah rumah di Istanbul selama beberapa bulan.

Rumah tersebut kemudian dirazia oleh kepolisian setempat dan mereka dideportasi ke Indonesia. Petualangan mereka di Suriah pun gagal.

"Gagal menjadi martir di Suriah, mereka mencoba ke negara yang dekat. Kini mereka bergerak ke Malaysia yang membuat mereka terkoneksi lagi dengan ISIS," kata Quentin dalam laporannya.

Perangi Virus Corona, Perakit Iphone di China Bikin 2 Juta Masker/Hari

Ruille Zeka dan Ulfa sempat menjalani program deradikalisasi di sebuah pusat rehabilitasi di Jakarta. Namun rupanya mereka kembali lagi terkoneksi dengan ISIS.

Keduanya lalu melanjutkan perjalanan ke Filipina. Mereka dikabarkan menjalankan perintah ISIS di Pulau Sulu, Filipina selatan. Komitmen ini tak lepas dari kesulitan yang mereka hadapi di Istanbul beberapa waktu lalu.

Guyonan Netizen Indonesia: Sama Borax Saja Kebal, Apalagi Virus Corona

"Cukup kaget kami ada informasi seperti itu, kami di-WA [Whatsapp] bahwa beliau berdua itu melakukan bom bunuh diri kembali. Jadi tidak menyangka di sini cukup baik cukup kooperatif bahkan dibandingkan dengan yang lain dia yang paling...," kata Sri Musfiah, konselor di pusat rehabilitasi Handayani, Jakarta Timur, kepada Quentin dalam video itu.

Pada 2017, pusat rehabilitasi yang bernama resmi Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Handayani, Bambu Apus, Jakarta Timur, itu memang menjadi tempat rujukan bagi para WNI yang dideportasi dari Suriah. Saat ditanya Quentin apakah ratusan WNI yang masih terjebak di Suriah tak akan lagi terlibat aksi teror, Sri menggeleng.

"Kami tidak bisa menjamin," kata dia.

Andre Rosiade Bantah Pesan Kamar, Hotel Kyriad: Kami Punya CCTV

Quentin dalam video itu juga berbincang dengan Sofyan Tsauri, mantan ekstrimis yang pernah mengenal pasangan itu. Mereka pernah bertemu di pusat rehabiliutasi.

Sofyan secara eksplisit khawatir dengan ide pemulangan WNI dari Suriah itu. Menurutnya, para mantan kombatan ISIS itu tak bisa dipercaya.

"Menurut saya itu berisiko dan harus dipikir ulang, dan saya termasuk orang yang tidak setuju kalau mereka masuk ke Indonesia. Karena akan menjadi probem, akan menjadi masalah, karena mereka termasuk orang-orang yang tidak bisa dipercaya," kata Sofyan dalam video itu.

Profil Andre Rosiade di Wikipedia Berubah, Ada Bab Penjebakan PSK

Menurutnya, ada beberapa tempat favorit bagi kalangan jihadis setelah kematian pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi. Pertama, kata dia, adalah Filipina selatan sebagai pusat aksi mereka di kawasan Asia Tenggara.

"Yang kedua mereka juga mulai membuka jalur untuk ke Afghanistan atau disebut dengan Khorasan, dan itu seperti ada pembiaran."



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom