Menyikapi Wabah Virus Corona dalam Islam
Ilustrasi orang berdoa. (Reuters)

Solopos.com, SOLO—Beberapa waktu terakhir, dunia heboh dengan beredarnya virus corona. Berbagai spekulasi dan persepsi muncul ke permukaan menyikapi virus corona yang telah menewaskan banyak orang ini.

Satu hal yang menjadi keyakinan, bahwa setiap bencana datangnya dari Allah dan merupakan rahasia Allah. Sebagai seorang muslim harus senantiasa berikhtiar dan bertawakal tanpa perlu menuduh atau menghakimi. Segala sesuatu yang diberikan Allah merupakan suatu hal terbaik dan selalu ada hikmah sebagai pelajaran bagi manusia, meskipun itu bencana.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang thiyarah mengurungkan dia dari hajatnya maka ia telah berbuat syirik. Lalu, para sahabat bertanya pada Rasulullah, lalu apa kaffarahnya, Rasulullah menjawab, hendaknya ia berdoa.” (H.R. Muslim)

Pekan Depan, Persis Solo Tantang Semen Padang

Wakil Katib Syuriah Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Solo, Ustaz Muhammad Zainal Abidin, saat dijumpai Solopos.com di sela-sela kegiatannya, Kamis (30/1/2020) menyebut thiyarah atau mempercayai nasib sial karena sesuatu hal atau dalam istilah jawa pageblug merupakan hal yang dilarang oleh Allah.

Menurutnya, dibalik bencana selalu ada pelajaran untuk manusia, tergantung sudut pandang manusia melihat sebuah bencana atau azab itu. “Seluruh kejadian di sekitar itu datangnya dari Allah, sebagai mukmin tentunya pandangannya selalu positif," ujarnya.

"Peristiwa semacam virus corona harus menambah iman seseorang. Tetapi, manusia dituntut untuk ikhtiar seperti selalu menjaga kesehatan serta melalui usaha batin yakni berdoa kepada Allah seperti selawat syifa,” imbuh Zainal.

Kisah Pemancing Selamatkan Puluhan Peserta Susur Sungai Sempor: Banyak Suara Tangis

Ia menambahkan Alquran merupakan syifa atau obat, dalam beberapa ayat Allah menyebut tentang pengobatan. Ia menjelaskan dalam riwayat Bukhari, ada sebuah riwayat tentang seorang kepala suku yang sakit. Puluhan tabib tidak bisa mengobati penyakit kepala suku itu. Hingga akhirnya, ada seorang tabib yang mengobati tabib itu dengan membaca Al-Fatihah.

Ternyata, kepala suku itu sembuh dan menghadiahi kambing dalam jumlah banyak. Tetapi, tabib itu ragu-ragu terkait hukum mengonsumsi hadiah berupa kambing itu. Lantas, ia menemui Rasulullah untuk menanyakan halal dan tidaknya kambing itu. Rasulullah lantas memperbolehkan tabib itu mengonsumsi kambing hadiah itu.

Zainal menambahkan pengobatan medis merupakan sarana berikhtiar kepada Allah selama memenuhi beberapa syarat. Menurutnya, pengobatan medis harus dilakukan kepada dokter ahli bukan kepada dukun abal-abal. Lalu, ketika meminum obat sebagai wasilah harus obat halal atau tidak terpapar najis.

Ikut Cari Korban Susur Sungai Sempor, Motor Relawan Hilang Dicuri

Ia menyebut mengonsumsi obat najis dalam fiqih diperbolehkan selama keadaan darurat bukan hanya sekadar terpaksa. Ia menyebut keadaan darurat yang dimaksud yakni apabila seseorang tidak mengonsumsi obat itu maka ia akan meninggal dunia. Tetapi, hukum mengonsumsi obat itu tetap haram.

Ia menambahkan setelah berobat ke dokter dan mengonsumsi obat harus tetap meyakini bahwa Allah lah yang menyembuhkan. Menurutnya, dokter dan obat-obatan hanya sekadar perantara untuk berikhtiar kepada Allah. Lalu, selalu tawakal dengan berdoa agar Allah segera memberi kesembuhan.

Allah berfirman,“Dan kami turunkan dari Alquran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang zalim hanya akan menambah kerugian,” (Q.S. Al-Isra : 82).


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho