Limbah Masker dan APD di India Jadi Batu Bata
Pembuatan Brick 2.0 yang dipublikasikan Selasa (1/9/2020). (Thehindu.com)

Solopos.com, GUJARAT — Di tengah pandemi Covid-19, limbah masker dan alat pelindung diri alias APD melimpah, bahkan memicu krisis sampah plastik di seluruh dunia. Kondisi itu rupanya mendorong Binish Desai membuat penemuan baru, yakni Brick 2.0, batu bata dari limbah masker dan APD.

Binish Desai adalah pria India yang selama ini dikenal dengan julukan Recycle Man of India. Ia membuat suatu gebrakan baru dalam pemanfaatan limbah masker dan APD, yakni dengan menciptakan batu-bata ramah lingkungan.

Dikutip dari India Times, Selasa (1/9/2020). Desai membuat batu bata ramah lingkungan itu dalam upaya menanggapi krisis lingkungan dari limbah medis selama pandemi Covid-19.

Gadis Indigo Ungkap Hantu Penghuni Pabrik Cerutu Jogja

Menurut laporan dari Central Pollution Control Board (CPCB) di National Green Tribunal. India menghasilan sekitar 101 metrik ton (MT) limbah biomedis terkait Covid-19 setiap hari. Jumlah tersebut merupakan tambahan dari rata-rata timbunan sampah biomedis normal yang berkisar 609 MT/hari.

Pada bulan April, ketika lockdown mulai diterapkan di India, Desai mulai berkutat di laboratorium rumahnya. Ia mulai berpikir solusi apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi limbah masker dan APD selama pandemi Covid-19.

"Awalnya, semua orang membicarakan tentang lockdown yang akan membantu mengurangi polusi. Tapi saya malah memikirkan bagaimana jumlah permintaan setelan dan masker APD yang meningkat dan bakal merusak lingkungan," ??kata pendiri Eco-Eclectic Technologies yang berbasis di Gujarat, yang fokus terhadap recycle limbah.

Syarat Roro Jonggrang Awal Mula Candi Sewu di Dekat Jogja

Ia pun mulai mempelajari bahan limbah masker dan APD. Ia mengumpulkan masker dari keluarganya. Dia bahkan kemudian mencoba bekerja sama dengan rumah sakit, mal, dan salon untuk mendapatkan limbah APD.

52 Limbah APD

Awalnya, ia melakukan eksperimen kecil-kecilan untuk mengetahui kandungan material dari masker dan APD tersebut. “Untuk memeriksa ketahanan material, saya melakukan eksperimen prototipe kecil dan meneliti berbagai kombinasi pengikat,” ujar Desai.

Batu bata yang dibuat Desai mengandung 52% APD dan limbah maker, 3% pengikat, dan 45% limbah kertas. “Untuk batu bata ini, rasio keberhasilannya adalah 52% APD + 45% limbah kertas + 3% pengikat," jelas Desai, yang telah masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2018: List of successful social entrepreneurs.

Ceritakan Pabrik Cerutu di Jogja, Gadis Indigo Diselingi Tawa Misterius

Dikutip dari The Hindu, varian teranyar batu bata, yakni Brick 2.0, tiga kali lebih kuat daripada batu bata konvensional. Batu bata itu juga dua kali lipat lebih besar daripada batu bata biasa. Selain itu, harganya pun akan lebih murah daripada batu bata konvensional.

"Varian baru, Brick 2.0, lebih kuat dan lebih tahan lama. [Batu bata ini] tiga kali lebih kuat daripada batu bata konvensional dengan ukuran dua kali lipat, dan setengah harga," katanya seraya menambahkan bahwa batu bata itu tahan api, dapat didaur ulang, dan menyerap kurang dari 10% air.

Batu bata baru ini akan dijual dengan harga 2,8 rupee atau Rp554 setiap buahnya. Desai mengatakan dia sudah mulai menerima beberapa pesanan dari arsitek dan desainer interior di India.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya


Kolom