Kota Solo Supermacet, Inilah Beberapa Strategi Mengurai Macet di Sejumlah Negara
Antrean kendaraan bermotor terlihat saat akan melintasi flyover Manahan, Jl. Adisucipto, Solo, Kamis (20/2/2020). (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO – Kota Solo dirundung kemacetan. Perjalanan warga dalam kota sejauh sekitar 9 kilometer kini ditempuh 1,5 jam. Padahal, biasanya perjalanan itu hanya butuh 30 menit.

Kemacetan menjadi masalah yang umum bagi sejumlah kota dengan pertumbuhaan kendaraan bermotor cukup tinggi. Macet selain menimbulkan kerugian ekonomi, ia juga berkontribusi pada kerusakan ekologis dari emisi karbon yang dihasilkannya.

Sejumlah kota lantas berbenah diri untuk keluar dari macet. Ada banyak konsep yang diadopsi untuk mengurai kemacetan itu. Namun, secara umum, prasyaratnya masih sama yakni mempermudah akses pejalan kaki dan pesepeda, bukan mobil.

Boyolali Bakal Jadi Penyumbang Cukai Plastik Tertinggi Di Soloraya?

Akses yang mapan untuk pesepeda dan pejalan kaki memungkinkan munculnya konsep bike sharing untuk mempermudah mobilitas warga. Bike sharing pernah diluncurkan di Malioboro, Jogja pada 2018. Bike sharing mempermudah warga berpindah tempat dengan menyewa sepeda di lokasi tertentu.

Bahkan, di Jakarta dan kota besar lainnya kini ada fasilitas grabwheel untuk menunjang pergerakan mikro warga dalam kota. Warga berpindah tidak lagi menaiki sepeda motor atau mobilnya.

Beli Oli Pertamina, Berbagi Kebaikan Ke Seluruh Nusantara

Satu konsep yang cukup populer belakangan ini adalah transport demand management (TDM). Model ini mengatur permintaan dari setiap perjalanan warga mulai dari berangkat dari rumah ke tempat tujuan hingga kembali ke rumah.

TDM bisa berjalan baik jika angkutan umum bukan hanya tersedia melainkan juga menjangkau seluruh daerah yang diakses warga. Konsep ini berjalan mulus salah satunya di Portland, Amerika.

Pilkada Boyolali: Ini Dia Calon Independen Penantang Cabup PDIP Said Hidayat

Berikutnya ada transit oriented development (TOD). Model ini mengembangkan wilayah berbasis transit. Namun, konsep ini kerap gagal dipahami sehingga kota-kota yang mengadopsinya justru membangun infrastruktur baru ketimbang mengelola yang ada.

Ada pula model electronic road pricing (ERP). ERP membatasi kendaraan yang melintas dengan cara membebankan biaya kepada pengguna jalan. Model ini berjalan cukup baik di Singapura yang memang sudah mapan sistem transportasinya.

Serunya Bocah-Bocah SD Belajar Lalu Lintas Bareng Zebi

Di Indonesia, ERP memilki kelemahan salah satunya banyak “jalan tikus” yang menjadi pilihan alternatif melintas. Artinya, kemacetan tidak selesai tapi hanya berpindah lokasi.

Penambahan suplai jalan tidak efektif mengatasi kemacetan. Sebuah studi di Amerika menemukan, pembangunan jalan selebar 26 lajur tidak serta memperlancar lalu lintas. Hasilnya, perjalanan mereka justru lebih lambat.

Produksi Padi Sukoharjo 2020 Diprediksi Turun? Ini Sebabnya

Kini, banyak kota di dunia mulai melakukan diet jalan. Jalan yang semula lebar untuk kendaraan pribadi dipangkas untuk menambah trotoar dan jalur sepeda. Model ini sudah diadopsi di California, North Carolina, Florida, Los Angeles, dan lainnya.

Konsep lain yang terbilang baru, yakni penutupan jalan untuk mobil. Jalan lalu difungsikan dengan konsep berbagi jalan, misalnya kendaraan boleh lewat tapi batas maksimum kecepatan 30 km per jam. Model ini ternyata bisa mendorong orang untuk berjalan kaki saat bepergian. Seperti yang terjadi di Spanyol salah satunya.

Ekonomi Tumbuh Tapi Rakyat Masih Miskin, Ini Sederet Masalah Serius Pemerintah

Dikutip dari fastcompany.com, penutupan Jalan Boulevard Saint-Germain di Paris berhasil mengurangi setengah volume lalu lintas dari semula 2.600 kendaraan per jam menjadi 1.301 kendaraan per jam.

Bahkan, dikutip dari Forbes.com, Wali Kota Paris, Anne Hidalgo, membuat kebijakan progresif untuk warganya dengan menyusun masterplan kota dengan slogan “Kamu bisa menemukan apapun yang kamu butuhkan dalam 15 menit.” Waktu itu bukan dengan mengendarai mobil, melainkan jalan kaki dan bersepeda.

Pesan Megawati Soal Isu Politik Dinasti Di Tengah Perebutan Rekomendasi

Dalam konsep itu, penataan kota dan transportasi didesain sedemikian rupa agar masyarakat bisa melakukan aktivitasnya dalam radius 15 menit. Untuk merealisasikan konsepnya, Hidalgo berencana menghapus 60.000 dari 83.500 ruang parkir di jalanan Kota Paris.

Hanya satu tujuan Hidalgo melakukan itu semua, yakni membuat udara makin bersih dan meningkatkan kualitas hidup warga Paris. Hidalgo menargetkan programnya itu rampung pada 2024.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho