Konsumsi Listrik dan Transportasi Sumbang Emisi Terbesar Kota Solo
Kepadatan arus lalu lintas terlihat di Jl. Adisucipto, Manahan, Banjarsari, Solo, Rabu (5/2/2020). (Solopos-Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO – Sektor listrik dan transportasi menyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar di Kota Solo. Pada 2019, emisi GRK yang dihasilkan kota dari kategori penggunaan energi menembus 1,296 juta ton CO2 ekuivalen/tahun.

Dikutip Solopos.com dari laporan "Inventarisasi Gas Rumah Kaca Kota Surakarta" yang diterbitkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo (2019) menunjukkan total emisi GRK yang dihasilkan pada 2019 mencapai 1,534 juta ton CO2 ekuivalen/tahun.

Seminar Tuyul: Kisah Tuyul Dari Omongan Masyarakat Hingga Bisa Disuap

Secara terperinci, emisi itu disumbangkan dari empat kategori yakni penggunaan energi 1,296 juta ton CO2 ekuivalen/tahun, proses industri dan penggunaan produk 15,7 ton CO2/tahun, pertanian, kehutanan dan penggunaan lahan 61.023,65 ton CO2 ekuivalen/tahun, dan pengelolaan limbah 177.243,84 ton CO2 ekuivalen/tahun (selengkapnya lihat grafis).

Bukan Begal, Ini Yang Paling Ditakuti Pengendara Mobil Zaman Dulu

Jumlah emisi yang dihasilkan itu meningkat dibanding emisi dari dari kategori penggunaan energi pada 2018 sebesar 1,217 juta ton CO2 ekuivalen/tahun.
Jika dilihat lebih dalam, emisi dari penggunaan energi 2019, sebagian besar berasal produksi karbondioksida dari konsumsi listrik sebesar 813.034,52 ton CO2/tahun dan transportasi 326.633,62 ton CO2/tahun.

Kota Solo Supermacet, Inilah Beberapa Strategi Mengurai Macet Di Sejumlah Negara

Dalam laporan itu DLH menyatakan mitigasi GRK transportasi merupakan masalah yang pelik. Ada sejumlah faktor penghambat upaya mitigasi, salah satunya beban transportasi yang besar di Kota Solo atas dampak status kota sebagai pusat pelayanan wilayah hinterland sehingga mendorong tingginya angka komuter, terutama pada hari kerja.

Selain itu, klaim Solo sebagai tujuan wisata dan kota meeting, incentive, conference, and exhibition (MICE) juga menambah beban lalu lintas kota terutama pada akhir pekan dari wisatawan domestik dan lalu lintas dari daerah sekitarnya.

LHKPN Sriyono: Dulu Cuma Rp18,4 Juta, Kini Rp1,6 M

Berikutnya, kemudahan kepemilikan kendaraan pribadi memudahkan masyarakat membeli kendaraan baru untuk kegiatan sehari-hari. Hal itu memperparah kultur masyarakat yang enggan menggunakan kendaraan umum maupun bersepeda atau berjalan kaki saat bepergian.

1.635 M2 Tanah Wakaf Terdampak Pembangunan Waduk Pidekso Wonogiri

Pertumbuhan kendaraan setiap tahun di Kota Solo juga menambah konsumsi bahan bakar. Pada 2018, misalnya pembelian BBM pertalite mencapai 21.120 kiloliter (selengkapnya lihat grafis).

Terakhir, soal pertumbuhan dan perkembangan transportasi online, Kelebihannya, masyarakat bisa beralih dari kendaraan pribadi dengan layanan ini. Namun, di sisi lain, pembelian kendaraan untuk transportasi online melonjak akibat ketiadaan regulasi yang mengaturnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho