Kategori: Karanganyar

Kisah Tragis Mbah Pani Karanganyar: 2 Tahun Osteoporosis, Belum Rasakan Bantuan Pemerintah Sudah Meninggal


Solopos.com/Sri Sumi Handayani

Solopos.com, KARANGANYAR -- Warga lanjut usia di Dusun Ngentak, RT 003/RW 011, Desa Jumapolo, Kecamatan Jumapolo, Karanganyar, Mbah Pani, 58, meninggal pada Minggu (3/1/2021). Pani didiagnosis osteoporosis atau kondisi tulang lemah dan rapuh.

Solopos.com sempat berbincang dengan anak sulungnya, Parmi, 40, pada Jumat (25/12/2020). Parmi menceritakan kondisi ibunya yang kala itu membutuhkan bantuan kesehatan.

Keluarganya tidak memiliki biaya pengobatan penyakit osteoporosis yang diderita Mbah Pani di Karanganyar. Mereka juga tidak memiliki jaminan kesehatan dari program pemerintah.

Terima 55 Bulan Remisi, Abu Bakar Ba'asyir Akhirnya Bebas Murni

Mereka berinisiatif mendaftarkan diri secara mandiri agar biaya pengobatan lebih ringan. Sayangnya, Pani belum sempat menikmati fasilitas tersebut, Tuhan berkehendak lain.

Menurut Parmi, ibunya sakit sejak dua tahun terakhir. Tetapi kondisi Pani memburuk sejak empat bulan terakhir. Minggu, Mbah Pani menyerah terhadap penyakitnya.

Solopos.com menerima berita duka dari salah satu sukarelawan yang mendampingi Pani dan keluarga pada Senin (4/1/2021). Mbah Pani meninggal di salah satu rumah sakit swasta di Kota Solo pada Minggu pukul 23.30 WIB. Jenazah Pani dimakamkan pada Senin pukul 11.00 WIB di permakaman setempat.

1 Rumah di Sambirejo Sragen Ludes Terbakar

Dirawat di RS Swasta Solo

Ketua Sukarelawan Militan Kecamatan Jumapolo, Dwi Hery Wibowo, menceritakan sebelum meninggal dunia, keluarga membawa Mbah Pani ke rumah sakit karena mengeluh kesakitan.

"Dibawa ke puskesmas dulu. Tetapi pihak puskesmas mengaku tidak mampu menangani. Akhirnya dibawa ke RSUD Karanganyar. Ada prosedur yang harus ditempuh pihak rumah sakit kala itu berkaitan dengan protokol kesehatan Covid-19. Tetapi pihak keluarga menolak. Akhirnya dibawa ke rumah sakit khusus di Kota Solo," kata Hery saat berbincang dengan Solopos.com, Senin.

Sayangnya, Mbah Pani belum bisa mendapatkan perawatan di rumah sakit milik pemerintah tersebut karena pertimbangan tertentu. Pihak keluarga memutuskan membawa Pani ke rumah sakit swasta di Kota Solo. Di rumah sakit tersebut, Pani mendapatkan penanganan.

"Jadi pada hari Minggu itu keluarga mondar-mandir ke rumah sakit mulai pukul 17.30 WIB. Mereka mengupayakan kesehatan Mbah Pani. Saat di rumah sakit swasta itu kesulitan hendak memasukkan cairan infus karena tubuh Mbah Pani terlalu kurus," ujar dia.

Dicari Polisi! Pembuang Limbah Medis di Karanganyar Masih Misterius

Tulang Punggung Keluarga

Tulang punggung keluarga itu akhirnya menyerah pada Minggu tengah malam. Perempuan yang pernah merantau ke ibu kota sejak usia belia, berjualan jamu gendong untuk memenuhi kebutuhan keluarga itu menutup mata selamanya. Penyakit itu menggerogoti tubuhnya perlahan.

"Meninggal karena sakit. Pemakaman tanpa protokol. Bisa jadi karena terlambat penanganan. Keluarga menerima keadaan tersebut," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Hery menyampaikan terima kasih kepada seluruh dermawan yang sudah mengulurkan tangan untuk Pani. Dia berharap kematian Mbah Pani menjadi pembelajaran bersama untuk masyarakat maupun pemerintah.

Wali Kota Solo: Sekolah Boleh Buka Jika Kasus Baru Covid-19 Kurang dari 10

Dia mengajak masyarakar agar lebih memperhatikan kondisi orang yang tinggal di sekitar lingkungan masing-masing. Dia juga meminta pemerintah beserta perangkatnya di tingkat RT dan RW tidak menutup mata terhadap kondisi warga.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu. Keluarga dan warga sekitar tidak dapat membalas kebaikan dermawan. Ke depan kami berupaya membantu keluarga mengurus surat kematian. Seperti pesan Pak Camat agar perangkat setempat membantu menyelesaikan administrasi itu," tutur dia.

Solo Dapat Jatah 4.364 Dosis Vaksin Covid-19 Sinovac

Selain administrasi kematian, Sukarelawan Militan Kecamatan Jumapolo juga akan membantu keluarga memastikan tentang hutang yang ditanggung Mbah Pani hingga akhir hayat. Pani pernah menceritakan kepada Hery bahwa dirinya memiliki hutang kepada salah satu perbankan pelat merah.

"Kami bantu sesuai kemampuan. Ini menjadi perhatian kami. Kami akan membantu mengecek kelanjutan hutang di bank. Saat ini tulang punggung keluarga adalah anak bungsu. Dia bekerja di tempat budidaya jamur. Suami mbah Pani, mbah Yono itu buruh serabutan."

Share
Dipublikasikan oleh
Chelin Indra Sushmita