Kisah Darmolam, Warga Sragen Perintis Pasar Ular di Ngadirojo Wonogiri
Darmolam, 60 (kanan), memeriksa ular yang ditawarkan penjual di pasar ular belakang Sub Terminal Ngadirojo, Desa Ngadirojo Kidul, Wonogiri, Senin (13/1/2020). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)

Solopos.com, WONOGIRI -- Wonogiri memiliki pasar hewan ular yang aktif setiap pasaran Pon dalam penanggalan Jawa. Lokasinya di selatan Subterminal Ngadirojo, sekitar 100 meter dari Kantor Kecamatan Ngadirojo.

Jangan membayangkan pasar itu seperti pasar pada umumnya. Pasar ini tak memiliki kios atau los bahkan tak ada papan nama. Pasar ini sekadar tempat pemburu dan pembeli ular bertransaksi.

Pasar tanpa sekat ini terletak di sepetak lahan milik warga di dekat jembatan. Di lokasi itulah para penjual dan pembeli ular berkumpul.

Pantauan Solopos.com belum alam ini di pasar tersebut, para penjual dan pembeli datang ke lokasi itu pada pagi hari. Darmolam, 60, salah satunya.

Dia baru saja tiba dari rumahnya di Masaran, Sragen, dengan naik bus. Ia selama ini dikenal sebagai pengepul ular. Tepat pukul 08.30 WIB, kedatangannya disambut beberapa penjual ular yang sudah cukup lama menunggu.

Mereka rata-rata mantan pemburu ular. Di dekat mereka ada sejumlah kantong terikat rapat berisi ular bandotan macan atau akrab disebut macanan dan ular sowo kembang atau piton yang ditaksir panjangnya lebih dari tiga meter dengan berat 11 kilogram.

Pengalihan Arus Flyover Purwosari, Ini Jalur-Jalur Lalin Yang Direkayasa Dishub Sukoharjo

Setelah menghabiskan sebatang rokok, Darmolam mulai membuka kantong-kantong berisi ular itu. Ia memindahkan ular ke kantong yang ia bawa dibantu salah satu pemburu.

Tak ada kesulitan saat ia memindahkan ular macanan. Sebaliknya, saat memeriksa ular sowo kembang, ia harus mengikat dulu mulut ular itu kuat-kuat.

Gigitan ular piton bisa membikin cedera serius kendati tak mengakibatkan kematian. Kepada Marno, 55, salah satu penjual ular, Darmolam menuturkan dua ekor ular yang ia bawa harganya Rp50.000.

Ular macanan yang berukuran kecil hanya dihargai Rp10.000, sisanya Rp40.000. Tak ada tawar menawar dalam transaksi. Pria asal Jati Gading, Ngadirojo Lor, itu menerima harga yang ditawarkan Darmolam.

Ular yang dibawa Marno bukan hasil buruan. Ular itu masuk ke dalam rumah dan sedang mengincar burung peliharaannya dua hari sebelumnya. Ia lalu menangkap dan menjual ular itu.

“Belakangan rumah saya sering kedatangan ular,” keluh pria yang mengaku sudah 15 tahun tidak memburu ular.

Pemburu ular lainnya, Marto Waluyo, 55, asal Jendi, Girimarto, masih aktif berburu ular kendati tak selalu mujur. Ia bisa pulang dengan membawa lima ekor ular tangkapan tapi kadang ia pulang dengan tangan hampa.

Sejarah Bus Eka-Mira: dari PO Flores hingga Kecelakaan Maut di Purwosari Solo 1981

Pekerjaannya sebagai pemburu ular bermula saat ia pergi ke hutan mencari kayu bakar. Tiba-tiba seekor ular macanan berukuran satu lengan orang dewasa melewatinya.

Antara girang dan gemetar, ia bingung bagaimana menangkap ular itu. Ia nekat mengejar ular itu hingga ke lubangnya. Perjuangan yang cukup berat hingga akhirnya ia bisa menaklukan ular itu hidup-hidup.

“Ular itu saya jual laku Rp1.500 pada 1987. Kalau sekarang ular jenis harganya murah,” ujar dia. Pekerjaannya sebagai pemburu ular membuat dirinya dijuluki Marto Ulo.

Harga ular memang sedang turun. Ular macanan sebelumnya bisa sampai Rp100.000 per ekor turun menjadi Rp40.000 per ekor. Ular piton yang sebelumnya Rp300.000 per ekor untuk panjang minimal tiga meter, turun menjadi Rp100.000 per ekor.

Ular berbisa jenis kobra justru memiliki harga paling murah. Kobra ukuran besar hanya dihargai Rp12.000-Rp15.000 per ekor. Harga yang murah itu agar masyarakat tidak memburu ular berbisa secara sembrono.

Kesalahan sedikit saja memburu ular ini bisa berakibat fatal. “Kalau menangkapnya sembrono kan bisa meninggal dunia. Saya tegur. Jangan sembrono. Kalau bisa jangan diburu,” ujar Marto Ulo yang mengaku sudah 20 tahun berjualan di pasar itu.

Pasar ular itu terbentuk secara alamiah. Awalnya, Darmolam melihat banyak ular yang ditangkap saat petani bekerja di sawah. Ia berpesan kepada kawan-kawan sesama petani agar ular itu dikumpulkan.

Jadi Ajang Rekreasi, KA Bandara Solo Angkut 2.800 Orang/Hari

Ia sanggup membeli ular-ular itu. Petani pun menjual ular itu ke rumah Darmolam di Masaran, Sragen.

Karena dirasa terlalu jauh, ia menyarankan agar berkumpul saja di dekat Pasar Ngadirojo, seperti lokasi yang saat ini ada. Waktunya disepakati setiap pasaran Pon. “Lama-lama di sini hafal kalau setiap Pon bertemu di sini. Kalau 20 tahunan mungkin ada saya di sini,” ujar dia.

Sekitar sejam kemudian, Darmolam selesai mengemasi semua ular yang dibelinya. Ia sunggi kantong plastik penuh ular itu menuju Sub Terminal Ngadirojo.

Ia segera pulang ke Masaran. Pada pasaran Pon berikutnya ia akan kembali lagi ke sana.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho