Intip Keunikan Pasar Jadul Ciplukan Karanganyar, Pakai Ketip Buat Transaksi Jual Beli

Pasar Ciplukan yang berjarak 15 kilometer atau 28 menit berkendara dari pusat Kabupaten Karanganyar berada di bawah pengelolaan Desa Wisata Lembah Dungde (WLD).

 Pasar Ciplukan, Mojogedang, Karanganyar.  (Solopos/Sri Sumi Handayani)

SOLOPOS.COM - Pasar Ciplukan, Mojogedang, Karanganyar. (Solopos/Sri Sumi Handayani)

Banner Wisata Joglosemar

Solopos.com, KARANGANYAR — Dukuh Mlilir, Desa Gentungan, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menyimpan potensi wisata yang menawarkan konsep pedesaan, salah satunya Pasar Ciplukan.

Pasar Ciplukan yang berjarak 15 kilometer atau 28 menit berkendara dari pusat Kabupaten Karanganyar berada di bawah pengelolaan Desa Wisata Lembah Dungde (WLD).

Desa WLD ini sudah mengantongi surat keputusan (SK) Bupati Karanganyar tahun 2020. Status desa wisata maju dan berkembang. Satu langkah lagi menuju desa wisata mandiri.

Baca juga: Kisah Perjuangan Tancuti Cerdaskan Ibu-Ibu Buta Aksara di Karanganyar

Desa WLD menawarkan paket wisata perdesaan, seperti tol sawah atau disingkat Tolsa di Lembah Dungde, tubbing di Kali Kayen, dan petik buah di kebun jeruk lemon California. Wisata edukasi juga ada, yaitu tanam dan panen padi, tanam jamur, pelihara kambing, kerajinan tas dari plastik, rumah tiwul, dan nasi jagung.

Masing-masing objek wisata itu berada di bawah pengelolaan kelompok sadar wisata (pokdarwis). Nah, seluruh pokdarwis tergabung menjadi satu di bawah koordinasi Desa WLD.

Desa WLD juga menawarkan fasilitas homestay di rumah penduduk. Fasilitas lain yaitu jajan ke pasar dengan konsep zaman dulu atau jadul, yaitu Pasar Ciplukan. Pasar Ciplukan menyerupai pasar tiban itu buka setiap Minggu pukul 07.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB atau 13.00 WIB. Wisatawan bisa jajan penganan, makanan, minuman, dan mainan tradisional di Pasar Ciplukan.

Baca juga: Simak Lur, Ini Aturan Penting PPKM Darurat di Karanganyar

Hal yang berbeda pengunjung tidak bisa membayar menggunakan uang rupiah. Pengelola Pasar Ciplukan menerapkan alat transaksi khusus, yakni ketip. Mereka menggunakan kayu dibentuk menyerupai koin tetapi berlubang di tengah. Nilai satu koin kayu Rp2.000.

Pengunjung harus menukarkan uang rupiah dengan ketip ke petugas di lokasi pasar. Setelah itu, bisa belanja sepuasnya. Harga penganan, makanan, dan minuman di Pasar Ciplukan bervariasi mulai Rp2.000.

Tidak hanya uang ketip, Pasar Ciplukan juga bersolek. Solopos.com mendapatkan cerita lokasi yang menjadi Pasar Ciplukan ini dahulu Sendang Ijo. Menjadi wajar karena pasar ini lebih rendah dari jalan. Pengunjung harus menuruni jalan setapak dari tanah yang dipadatkan dan dibuat berundak.

Mempercantik dengan Ornamen

Pengelola tidak banyak mengubah tampilan sendang. Mereka hanya memadatkan tanah agar pengunjung nyaman berjalan-jalan. Pohon dan tanaman di sendang juga dirapikan agar tidak terlihat wingit.

Pengelola menempatkan sejumlah ornamen untuk mempercantik, seperti gentong untuk tempat cuci tangan, jembatan mungil dari bambu, sejumlah tempat duduk dari bambu ditempatkan dekat pohon besar.

Lapak pedagang pun dibuat dari bambu. Bentuknya menyerupai gubuk di sawah. Total 26 lapak menjajakan aneka makanan, minuman, dan penganan. Lalu tiga lapak menjajakan mainan tradisional. Setiap lapak memasang tulisan menu dan harga barang yang dijual dengan uang ketip.

Baca juga: Kisah Di Balik Wayang Werkudara Yang Iringi Dalang Ki Manteb Soedharsono Hingga Pemakaman

Penjual Pasar Ciplukan juga berdandan khas orang desa tempo dulu. Mereka mengenakan baju atau bawahan dari kain lurik.

Ketua Desa WLD, Mulyono, saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (3/7/2021), mengingat kali pertama Pasar Ciplukan dibuka dan diresmikan Bupati Karanganyar, Juliyatmono, pada Minggu (23/10/2020).

Mulyono menceritakan Desa WLD dirintis warga setempat pada 2017. Status saat itu desa wisata rintisan.

“Masing-masing objek wisata tersebut dikelola kelompok sadar wisata [pokdarwis]. Lantas, pokdarwis menginduk ke Desa WLD. Tahun 2018 mengantongi SK Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga [Disparpora]. Tetapi memang pada 2017 sampai 2019 itu belum begitu aktif,” cerita Mulyono saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (3/7/2021).

Baca juga: Punya Wedang Gemblung hingga Sega Ketingan, Pasar Bahulak Sragen Siap-Siap Go Nusantara

Tujuan awal pengembangan Desa WLD adalah untuk pemberdayaan masyarakat. Mulyono mengklaim objek wisata itu muncul atas inisiatif warga.

Pasar Ciplukan menjadi objek wisata paling baru tahun lalu. Belum lama, Desa WLD menambah pasar baru tidak jauh dari Pasar Ciplukan, yakni Pasar Tani. Konsepnya mengadopsi Pasar Ciplukan, tetapi barang yang dijajakan berbeda.

Petani Merasa Untung

Pasar Tani menjual hasil panen petani, seperti beras, palawija, aneka bunga, tanaman hias, burung, ayam, dan hasil panen musiman lain. Barang yang dijajakan dihargai Rp5.000 hingga Rp200.000.

“Bagaimana hasil pertanian masyarakat bisa dijual langsung kepada pembeli sehingga tidak melalui banyak tangan. Hasil akhirnya petani merasa untung karena meningkatkan harga jual, bagi pembeli masih murah. Ini juga bagian dari inovasi supaya Pasar Ciplukan semakin ramai,” jelas dia.

Mulyono berharap makin banyak masyarakat setempat merasakan dampak Desa WLD. Itulah yang menjadi alasan masyarakat terus berinovasi.

Baca juga: Indahnya Gunung Sepikul Sukoharjo Jadi Lokasi Bikin Video Klip Hingga Syuting Film

Dia mencontohkan Pasar Ciplukan tidak hanya menjadi lokasi jajan, tetapi juga menyelenggarakan kegiatan.

“Kami gandeng komunitas lalu membuat acara. Selain itu, kami buat festival. Misalnya festival apem, kupat [ketupat]. Rencana awal festival rutin setiap bulan. Biaya dari iuran pedagang dan tidak perlu mahal. Kami harus berinovasi biar makin banyak orang luar penasaran. Pasar tradisional kan rawan permasalahan. Kalau hanya gitu-gitu saja ya akan mundur,” jelasnya.

Membangun Ekonomi Desa

Mulyono bermimpi masyarakat di Desa WLD dapat merasakan banyak manfaat dari desanya sendiri. Mereka semakin maju, bisa berkarya dan membangun ekonomi di desa. Arahnya pengembangan desa wisata yang sesungguhnya.

“Secara ekonomi jelas menguntungkan. Tetapi, Pasar Ciplukan ini bisa memberikan semangat masyarakat untuk maju, berkarya, gotong royong membangun desa,” jelasnya.

Baca juga: Jajan di Pasar Mbatok Karanganyar Pakai Kayu, Cek Aturan Baru Pasar Unik Ini

Bayangkan, Anda berkunjung ke satu kawasan itu mendapatkan banyak pilihan wisata alam khas pedesaan. Salah satu warga Dukuh Mlilir, Nur, berjualan pecel gendar, buah-buahan, dan minuman di Pasar Ciplukan. Dia mengaku mendapat tambahan penghasilan sejak membuka usaha satu kali dalam sepekan di pasar tiban. Pada hari biasa Nur berjualan bubur di rumah.

“Ya lumayan, daripada Minggu di rumah. Saya bisa menambah penghasilan,” tutur Nur saat berbincang dengan Solopos.com.

Bupati Karanganyar, Juliyatmono, mendukung upaya masyarakat meningkatkan kesejahteraan dengan memanfaatkan potensi alam. Dia mendorong masyarakat mengembangkan wisata sesuai potensi.

“Kami siap memberikan dukungan sesuai kebutuhan. Semua yang ada di desa itu bisa untuk wisata. Orang sinau kehidupan silakan ke sini. Apa pun ada di Karanganyar,” tutur Bupati.


Berita Terkait

Berita Terkini

Girpasang, Pesona Kampung Terisolir di Lereng Merapi

Kampung terisolasi di lereng Gunung Merapi, Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, menjadi magnet orang-orang karena panorama alam dipadu kearifan lokal.

Glamour Camping di Lawu Park Tawangmangu, Cara Kemah Semewah Hotel

The Lawu Park memiliki fasilitas glamour camping untuk para wisatawan yang ingin berkemah di alam namun tetap mewah dan tak perlu repot.

Mengintip Koleksi Jarik Waldjinah di Museum Batik Walang Kekek Solo

Koleksi kain jarik milik maestro keroncong Waldjinah yang indah dapat dilihat di Museum Batik Walang Kekek di Solo.

Eksotis & Elegan, Museum Tumurun di Solo Suguhkan Masterpiece Seniman Top Indonesia

Keberadaan Museum Tumurun menjadi penanda bangkitnya seni rupa di Kota Solo, Jawa Tengah,

Menengok Industri Batik di Kampung Batik Semarang, Lokasinya di Dekat Kota Lama

Kota Semarang memiliki kampung batik di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur, dengan pengrajin batik yang mulai tumbuh.

Penampakan Kafe Jamu Nguter Sukoharjo, Tempat Nongkrong Cozy Dengan Minuman Menyehatkan

Kafe Jamu Nguter di dekat Pasar Nguter Sukoharjo menawarkan minuman tradisional yang menyehatkan dengan tempat yang cozy dan modern.

Sajikan Rasa Dan Nama Kekinian, Kafe Jamu Nguter Sukoharjo Digandrungi Milenial

Kafe Jamu di Kecamatan Nguter, Sukoharjo, menyediakan aneka minuman jamu dengan rasa dan nama unik serta kekinian guna menarik kaum milenial.

Perjalanan Industri Jamu Nguter Sukoharjo, Dari Jamu Gendong Hingga Kafe

Industri jamu Nguter, Sukoharjo, telah melewati perjalanan panjang mulai dari produksi dengan pemasaran menggunakan jamu gendong hingga kafe.

Uniknya Kerajinan Limbah Organik, Suvenir Khas Desa Wisata Kandri

Ada berbagai kegiatan ekonomi kreatif warga di Desa Wisata Kandri, Gunungpati, Semarang seperti pembuatan kuliner hingga beragam kerajinan.

Di Kali Pusur Klaten, River Tubing Bisa Bayar Pakai Sampah

River tubing atau susur sungai di Kali Pusur, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten bisa dilakukan hanya dengan membayar menggunakan sampah.

Dari Polanharjo hingga Tulung, Ini Deretan Wisata Air Alami di Klaten

Kecamatan Polanharjo di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah bisa disebut sebagai gudangnya wisata air yang memanfaatkan sumber mata air alami.

Menjelajah Jejak Peradaban Hindu-Budha di Dataran Tinggi Boyolali

Menjelajah jejak peradaban Hindu-Budha di dataran tinggi Boyolali.

Menarik, Belanja Bisa Lanjut Wisata Tubbing dan Petik Buah di Pasar Ciplukan Karanganyar

Belanja bisa melanjutkan wisata tubbing dan petik buah di Pasar Ciplukan Karanganyar

Asa Seribuan Pembatik di Desa Wisata Batik Girilayu Karanganyar Dongkrak Perekonomian

Harapannya pemerintah memberikan perhatian dan minat khusus sehingga Desa Wisata Batik Girilayu bisa meningkatkan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan.

Kisah Perjalanan Batik Girilayu Hingga Jadi Produk Khas Karanganyar

Kampung Batik Girilayu berbenah perlahan setelah tumbuh pengusaha baru batik, dimulai dari pembentukan kelompok.

Belanja Makin Asyik Pakai Koin Gerabah di Pasar Pinggul Klaten

Pasar ini hanya digelar sekali dalam selapan (35 hari), yakni Minggu Legi dengan jam buka relatif singkat, mulai pukul 05.30 WIB-10.00 WIB.