Ini 4 Penyeberangan Kuno Bengawan Solo di Sragen, Tertulis di Prasasti

Di dalam Prasasti Canggu dituliskan sejumlah nama penyeberangan kuno Bengawan Solo di sejumlah daerah. Empat di antaranya di Sragen, termasuk Penyeberangan Barang.

 Ilustrasi penyeberangan Bengawan Solo. (Dok)

SOLOPOS.COM - Ilustrasi penyeberangan Bengawan Solo. (Dok)

Solopos.com, SRAGEN — Menjadi sungai terpanjang di Jawa, Bengawan Solo mengular melintasi sejumlah kabupaten dan kota. Salah satunya Kabupaten Sragen. Sebelum pembangunan infrastruktur gencar dilakukan, banyak warga di Sragen yang memanfaatkan perahu dan sesek sebagai sarana menyeberangi Bengawan Solo.

PromosiPemungutan Suara Pemilu 2024 pada 14 Februari 2024

Salah satu sarana penyeberangan tradisional itu ada di Dukuh Butuh, Desa Banaran, Sambungmacan, Sragen. Namanya penyeberangan Barang. Penyeberangan ini termasuk penyebarangan kuno. Sebagai bukti, nama penyeberangan Barang termuat dalam Prasasti Canggu atau Parasastri Trowulan I yang ditulis pada 1358 Masehi atau pada masa Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk.

Prasasti tersebut menyebut ada 44 desa penyeberangan di sepanjang aliran Bengawan Solo dan 34 desa di aliran Bengawan Brantas. Sejumlah penyeberangan di wilayah Sukowati (Sragen) yang disebutkan dalam prasasti tersebut di antaranya Desa Barang (Butuh, Banaran, Sambungmacan), Desa Pakatelan (diduga Katelan, Kecamatan Tangen), Desa Amban atau Ngamban (di Desa Gawan, Kecamatan Tanon), dan Desa Wareng (diduga di Tanggan, Kecamatan Gesi).

Penyeberangan Barang di Sragen
Sejumlah pemerhati sejarah menaiki perahu saat menyeberangi Sungai Bengawan Solo di Penyeberangan Barang, Dukuh Butuh, Desa Banaran, Sambungmacan, Sragen, beberapa waktu lalu. (Istimewa/Priyanto)

Baca Juga: Adanya Sand Bag di Tanggul yang Jebol Bikin Warga Pilang Sragen Tenang

Dari cerita tutur di Dukuh Butuh, Banaran, Sragen, penyeberangan Barang itu merupakan penyeberangan kuno. Di sekitar penyeberangan itu ditemukan batu yoni. Orang-orang dulu pernah menemukan perhiasan manik-manik beraliran Hindu/Buddha.

Seorang pemerhati sejarah asal Tanggan, Kecamatan Gesi, Sragen, Jarwanto, menduga Desa Pakatelan identik dengan Desa Katelan di Tangen dan lokasinya berada di pinggir Bengawan Solo. Jarwanto pernah menelisik pinggiran Bengawan Solo, tepatnya di sebelah barat Jembatan Ganefo. Ia menemukan sisa-sisa bangunan yang fungsinya sebagai tempat penyeberangan lama.

Dari Tangen ke barat, Jarwanto ingat saat masih kecil juga ada dua penyeberangan Bengawan Solo yang berdekatan dengan rumahnya, yakni Penyeberangan Sapen dan Penyeberangan Dalungan. Warga Tanggan, Gesi, yang hendak ke Sragen melewati dua alternatif penyeberangan Bengawan Solo itu. Sekarang dua penyeberangan itu diganti dengan Jembatan Sapen.

Baca Juga: Tanggul Jebol, 120 Keluarga di Pilang Sragen Terancam Banjir

Matinya Penyeberangan Sapen dan Dalungan

Jarwanto menduga Desa Wareng yang disebutkan dalam Prasasti Canggu kemungkinan adalah penyeberangan Sapen dan Dalungan itu. Ini karena keduanya berada di antara Desa Pakatelan dan Amban atau Ngamban.

“Penyeberangan itu sebelum 1991 masih digunakan sebagai akses utama masyarakat Tanggan, Gesi ke Sragen [kota]. Pada 1991 itu Jembatan Prayunan atau Jembatan Sapen dibangun dan jasa penyeberangan di Sapen dan Dalungan tidak lagi berfungsi,” papar Jarwanto, Sabtu (8/1/2022).

Sebelum ada jembatan Sapen, Penyeberangan Dalungan itu menjadi akses utama warga menuju ke Pasar Gonggang dan Kota Sragen. Begitu masuk musim kemarau, perahu tak lagi digunakan karena air surut. Sebagai gantinya warga membuat jembatan sesek dari bambu sehingga kendaraan bermotor atau sepeda angin bisa menyeberang secara bergantian.

Baca Juga: Catatan Banjir Bandang Bengawan Solo, Waspada Lur!

“Bagi warga yang menyeberang ada uang jasa Rp100 untuk perorangan dan Rp300 untuk kendaraan bermotor. Di sekitar penyeberangan juga ditemukan punden tua,” jelas Jarwanto.

Pemerhati sejarah dari Yayasan Palapa Mendira Harja Sragen, Lilik Mardiyanto, menyampaikan Desa Ngamban di Desa Gawan, Tanon, Sragen itu merupakan lokasi penyeberangan kuno Bengawan Solo. Dia menyampaikan lokasi tersebut menghubungkan ke Keputren Dewi Tunjung Biru dan ada pendapa lama.

“Fungsi penyeberangan itu bukan untuk berdagang tetapi untuk bertamu bagi siapa pun yang hendak masuk ke wilayah Sukowati. Di penyeberangan itu ada tokoh Mbah Butuh yang bertugas menerima tamu. Mbah Butuh menghuni tempat itu sekitar 1330 Masehi,” ujar Lilik.

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

Data dan Fakta Risiko Bencana Jakarta dan Kaltim

+ PLUS Data dan Fakta Risiko Bencana Jakarta dan Kaltim

Pulau Jawa memiliki paparan risiko bencana tinggi dibanding pulau lain, namun indeks risiko bencana lebuh tinggi dimiliki Kalimantan Timur dibanding DKI Jakarta.

Berita Terkini

Eksklusif! Gibran Buka-Bukaan, Siap Jadi Sales demi Kota Solo

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka buka-bukaan mengenai rencana-rencananya dalam wawancara eksklusif dengan Presiden Direktur SMG, Arif Budisusilo.

RSI Surakarta Resmi Luncurkan Layanan BPJS Kesehatan

Adanya layanan BPJS Kesehatan ini bisa meningkatkan pelayanan kepada seluruh pasien RSI Surakarta sesuai prosedur pelayanan yang berlaku.

2 Perempuan Diduga Pelaku Prostusi Online Ditangkap di Indekos Solo

Tim gabungan menangkap dua orang perempuan yang diduga pelaku prostitusi online saat tengah berdua-duaan dengan laki-laki di kamar indekos wilayah Serengan, Solo.

Tengah Malam di Bangunan Tua Rumah Jagal Solo, Serem Lur!

Rumah jagal atau pemotongan hewan di kompleks Kantor DKPP Solo merupakan salah satu bangunan tua dari awal 1900-an yang masih terjaga keasliannya.

Pandemi Belum Berakhir, Tim Gabungan Solo Gencarkan Lagi Razia Masker

Petugas gabungan TNI, Polri, dan Pemkot Solo kembali menggencarkan razia masker untuk mengingatkan masyarakat yang mulai abai menerapkan protokol kesehatan padahal pandemi belum berakhir.

Kasus Covid-19 Wonogiri Naik, Jekek Minta PTM 100 Persen Dievaluasi

Jekek menilai perlu ada strategi baru untuk mencegah penularan Covid-19 varian Omicron di lingkungan satuan pendidikan.

Waduh, Banyak Naskah Kuno Berharga di Mangkunegaran Solo Hampir Rusak

Kondisi naskah-naskah atau manuskrip kuno di perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunegaran Solo hampir rusak sementara upaya penyelamatan terkendala sarpras.

BBWSBS Hitung Lagi Kebutuhan Anggaran Revitalisasi Rawa Jombor

BBWSBS sebelumnya sudah mengusulkan ke Kemen PUPR agar mengalokasikan anggaran Rp68 miliar untuk kegiatan revitalisasi Rawa Jombor pada 2023.

Giliran Soropaten, Mranggen, & Manjungan Klaten Dapat SK Desa Wisata

Tiga desa yang memperoleh SK bupati Klaten tentang desa wisata, yakni Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom; Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, dan Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen.

Tambah Terus, 200-An Pemulung Mengais Rezeki di TPA Putri Cempo Solo

Jumlah pemulung yang mengais rezeki di antara tumpukan sampah TPA Putri Cempo Mojosongo, Solo, terus bertambah dari tahun ke tahun,

Sibangga Jadi Wadah Polres Sukoharjo Gali Permasalahan Masyarakat

Kapolres menambahkan permasalahan keamanan dan ketertiban masyarakat bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian melainkan juga ada peran masyarakat di dalamnya.

Molor, Proyek 2021 Jalan Watuondo-Pogog Wonogiri Tak Kunjung Rampung

Hingga Januari ini proyek jalan Watuondo, Kecamatan Bulukerto-Pogog, Kecamatan Puhpelem senilai Rp3,985 miliar belum rampung.

Buat yang Mau Wisata Lampion Imlek, Dapat Pesan dari Kapolresta Solo

Kapolresta Solo Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak memberikan sejumlah pesan kepada warga yang ingin berwisata menikmati keindahan lampion Imlek di Pasar Gede dan Balai Kota Solo.

Kasus Naik Lagi, Jekek: Covid-19 Enggak Bisa Ditangkal dengan Akik

Joko Sutopo menegaskan Covid-19 tidak dapat ditangkal hanya dengan akar bahar, akik, atau benda lain yang dianggap memiliki kekuatan tertentu.

Duh, Kasus Aktif Covid-19 di Wonogiri Naik Lagi

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wonogiri menilai kasus aktif Covid-19 di Wonogiri naik lagi lantaran penerapan protokol kesehatan kendur.

Penyelesaian Sengketa Lahan Sriwedari Solo Bisa Jadi Legacy Gibran

Penyelesaian sengketa lahan Sriwedari Solo antara Pemkot dengan ahli waris RMT Wirjodiningrat bisa menjadi legacy atua warisan Gibran sebagai Wali Kota kelak.