Ilmuwan ASU Teliti Kemungkinan Virus Corona Melemah Usai Mutasi
Ilustrasi virus corona (Covid-19). (Freepik)

Solopos.com, JAKARTA – Ilmuwan dari Arizona State University (ASU) meneliti mutasi Covid-19 yang belakangan makin mirip dengan SARS. Peneliti ASU mengatakan virus corona jenis baru ini kemungkinan perlahan mulai melemah usai mengalami mutasi.

Kasus Positif Covid-19 Klaten Tambah 1 Orang, Diduga Transmisi Lokal

Dalam studi ASU, ilmuwan menggunakan teknologi baru di Genomics Facility University yang dikenal sebagai sekuensing generasi. Fungsinya untuk menyaring genom SARS-CoV-2, yakni virus yang menyebabkan COVID-19. Rilis yang diterbitkan pada 6 Mei 2020 oleh ASU menjelaskan bahwa lebih dari 16.000 sekuens SARS-CoV-2 telah dikirimkan ke Jerman, Organisasi Ilmiah GISAID’s EpiCoVTM Database.

Para peneliti menggunakan 382 sampel pengusapan hidung (swab) dari orang yang terindikasi COVID-19 di Arizona. Sampel ini diambil untuk mengidentifikasi mutasi SARS-CoV-2 baru yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Dilansir Sputnik News, Kamis (7/5/2020), dalam salah satu genom, yang dikenal sebagai AZ-ASU2923, 81 pasangan basa DNA dalam gen yang disebut ORF7a terhapus. Gen ORF7a menghasilkan protein aksesori yang membantu virus dalam menginfeksi dan mereplikasi di dalam tubuh manusia.

Prediksi WHO: Tidak Ada Vaksin Virus Corona Sampai Akhir 2021

Mutasi Virus Corona

Protein ini dipercaya dapat membantu virus memintas sistem kekebalan tubuh dan memungkinkan virus untuk menggandakan dan membunuh sel sebelum menyebar ke orang lain.

“Protein virus dianggap membantu SARS-CoV-2 menghindari imunitas manusia, dan akhirnya membunuh sel. Kondisi ini membebaskan virus untuk menginfeksi sel-sel lain dalam reaksi berantai yang dapat dengan cepat menyebabkan virus membuat salinan dirinya sendiri di seluruh tubuh,” tulis rilis tersebut.

Penghapusan gen yang menghasilkan protein pada sampel Covid-19 menunjukkan bahwa virus mungkin melemah, mirip dengan yang penyakit yang menyebabkan SARS.

Pasien Positif Covid-19 Kabur dari Jakarta ke Banyumas Naik Travel

“Salah satu alasan mengapa mutasi ini menarik adalah karena itu mencerminkan penghapusan besar yang muncul dalam wabah SARS 2003,” tutur Efrem Lim, seorang peneliti ASU dan penulis studi utama.

Selama pertengahan dan tahap akhir epidemi SARS, virus mengalami mutasi yang melemahkannya. Saat ini para peneliti ASU sedang melakukan percobaan tambahan untuk memahami konsekuensi fungsional dari mutasi virus tersebut.

Kesimpulan Terlalu Dini

Meski demikian, rekan penulis studi Matthew Scotch mengatakan kepada New York Post bahwa saat ini terlalu dini untuk menyatakan bahwa virus corona Covid-19 sudah berhasil melemah.

Mudik Dilarang, Tapi Bus AKAP Boleh Beroperasi, Pemerintah Mau Apa?

“Yang perlu diingat adalah bahwa satu virus memiliki penghapusan besar yang menunjukkan bahwa virus dapat ditularkan tanpa memiliki bagian lengkap dari bahan genetiknya. Ini adalah satu virus dan kami tidak menyarankan bahwa ini berarti ‘pelemahan’ dalam bentuk apa pun,” kata Scotch.

Scotch juga menegaskan bahwa tidak ada yang mengejutkan, tentang bagaimana virus telah bermutasi sejauh ini. Ia mencatat bahwa perbedaan dalam hasil klinis lebih tentang respon imun individu dan komorbiditas daripada perbedaan dalam genomik virus.

Studi terbaru muncul setelah laporan yang diterbitkan pada 30 April oleh para ilmuwan di Los Alamos National Laboratory (LANL), New Mexico. Studi ini menunjukkan jenis baru virus corona Covid-19 yang lebih dominan dan menular daripada varietas sebelumnya.

10 Kesiapan Menikah Versi BKKBN, Apa Saja?

Menurut para peneliti, jenis baru ini muncul pertama kali pada Februari 2020 di Eropa dan kemudian bermigrasi ke Pantai Timur Amerika Serikat. Para pejabat mencatat bahwa strain tersebut, disebut sebagai mutasi D614G. Mutai ini telah menjadi strain Covid-19 yang dominan di dunia sejak pertengahan Maret 2020.

Sumber: Okezone


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho