Dihantam Pandemi Covid-19, 50 Juta Pekerja Sektor Pariwisata Dunia Rontok
Peserta Bimbingan Teknis Wisata Alam Budaya dan Buatan dengan Penerapan Protokol CHSE pada Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berfoto bersama saat pembukaan acara di Swiss Belhotel Gilingan, Banjarsari, Solo, Jumat (23/10/2020) siang. (Solopos/Kurniawan)

Solopos.com, SOLO -- Kondisi pandemi Covid-19 yang terjadi beberapa bulan terakhir memangkas 50 juta pekerjaan pada sektor pariwisata dunia. Pekerja pariwisata Benua Asia yang paling banyak terdampak pandemi ketimbang benua-benua lainnya.

Direktur Wisata Alam Budaya dan Buatan Kemenparekraf, Alexander Reyaan, mengungkapkan hal tersebut saat membuka Bimbingan Teknis Wisata Alam Budaya dan Buatan dengan Penerapan Protokol CHSE pada Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Bimbingan teknis yang berlangsung di Swiss Belhotel Gilingan, Banjarsari, Solo, Jumat (23/10/2020), itu diikuti 50 kaum milenial Soloraya dengan status pelajar dan mahasiswa.

Tertangkap! Ini Sosok Terduga Pembunuh Yulia Yang Terbakar Dalam Mobil Di Sukoharjo

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Agustina Wilujeng Pramestuti, membuka acara bimbingan teknis terkait sektor pariwisata pada masa pandemi Covid-19 itu. Kegiatan itu berlangsung hingga Sabtu (24/10/2020).

Para peserta itu diharapkan menjadi agen-agen yang akan membantu promosi wisata wilayah tempat tinggal masing-masing. Selama bimbingan mereka harus membuat profil dan promosi pariwisata untuk diunggah via media sosial.

Selanjutnya hasil karya mereka akan dinilai oleh narasumber untuk mendapat koreksi dan evaluasi. “Dampak pandemi Covid-19 terhadap sektor pariwisata global bisa memangkas 50 juta pekerjaan industri pariwisata. Asia terkena dampak yang paling buruk,” terang Alexander.

Begini Penampakan Kandang Ayam di Bendosari Sukoharjo Tempat Pembunuhan Yulia 

Dari sisi tren, Alexander mengatakan juga telah banyak mengalami perubahan. Wisatawan lebih memilih wisata dalam negeri sendiri, tak melakukan perjalanan luar negeri.

Ia mengatakan dampak pandemi Covid-19 juga terasa pada kalangan pekerja pariwisata Tanah Air. Saat ini perkiraannya pekerja pariwisata tinggal 6,5 juta orang dari sebelumnya 13 jutaan.

Dana Hibah

“Sudah, sudah [terjadi]. Karena terasanya [Covid-19] Indonesia kan mulai Maret [2020]. Bahkan untuk tempat-tempat destinasi wisata yang wisatawannya dari Tiongkok sudah terasa sejak Januari-Februari,” sambungnya.

Waduh! 33,2% Klaim JKN Pasien Covid-19 Soloraya Bermasalah

Untuk mendorong menggeliatnya kembali sektor pariwisata Tanah Air yang terdampak pandemi Covid-19, menurut Alexander, Kemenparekraf akan menggelontorkan dana hibah kepada pemerintah kabupaten/kota. Anggarannya sekitar Rp3,3 triliun.

“Unit-unit usaha pariwisata harus bangkit. Maka Kemenparekraf akan menggelontorkan dana hibah kepada pemerintah daerah dan usaha industri. Ini sedang tahap akhir mendistribusikan,” urainya.

Covid-19 Solo: Transmisi Lokal Terus Merebak, Kasus Konfirmasi Positif Tambah 20 Orang

Alexander menerangkan industri pariwisata beberapa daerah belum bergerak normal kembali kendati sudah buka kembali sejak Juni-Juli 2020. Ia mencontohkan pariwisata Bali yang merupakan magnet bagi wisatawan mancanegara.

“Orang Bali itu kulturnya jadi tuan rumah yang baik, bukan wisatawan. Ini kami sedang luncurkan program Bali Bangkit agar terdengar masyarakat atau wisatawan dunia,” imbuhnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom