Salah satu unggahan di Twitter mendesak pembebasan Luthfi, remaja pembawa bendera merah putih saat demo STM September 2019 lalu.

Solopos.com, SOLO -- Luthfi atau Dede Alfiandi, pemuda yang menjadi terdakwa dalam kasus aksi demo anak STM menolak pengesahan RKUHP pada 23 September 2019 lalu, telah mengaku dirinya disiksa dan disetrum oleh polisi. Meski demikian, dia tidak pernah menceritakan hal itu kepada orang tuanya.

Luthfi Alfiandi disiksa dan dipaksa untuk mengakui perbuatan yang menurutnya tidak pernah dilakukan, yakni melempari polisi dengan batu saat aksi demo berlangsung.

Menurut keterangannya dalam program Mata Najwa yang ditayangkan Trans7, Rabu (22/1/2020) malam, Luthfi Alfiandi menjelaskan penyiksaan yang dia alami. Dia mengaku disetrum dengan menggunakan alat yang ditempelkan pada bagian telinga kanan dan kirinya.

Kuota Elpiji 3 Kg untuk Sragen Tahun 2020 Belum Pasti

"Pada saat itu, saya dipukuli badan dan muka. Terus tiba-tiba ada salah satu anggota [polisi], saya dihadapin ke tembok disuruh jongkok dipukul muka, dipukul ulu hati pakai tangan langsung, [rasanya] sakit. Terus mereka mengambil plastik lalu diikat dileher saya tapi enggak lama dan dibuka lagi," jelas Luthfi.

Setelah itu, kata Luthfi, dirinya dibawa polisi tersebut ke dalam sebuah ruangan. Dalam kondisi lemas setelah disetrum dan di bawah tekanan, di situ dia diinterogasi dan dipaksa mengakui pernah melempari polisi.

"Di dalam ruangan, saya ditutup matanya pakai kain. Kuping saya kanan kiri dijepit [sesuatu] apa saya enggak tahu. Saya disuruh jongkok. Ditanya, 'lempar berapa kali?' [saya jawab] Saya enggak lempar Pak'. Langsung setruman itu berjalan sekitar setengah jam. 'Lempar berapa kali?' Pertanyaan itu terus [diulangi]. Sampai akhirnya kepala [saya] pusing, badan lemas karena setruman itu. Akhirnya, saya bilang saya lempar sekali. 'Enggak mungkin lempar sekali,' kata polisinya. Akhirnya ngaku karena dalam tekanan," jelas Luthfi.

Kasus ML dengan Pria Lain di Dekat Suami Berujung Damai: Suami Masih Sayang Istri

Rupanya Luthfi tak pernah menceritakan kejadian tersebut kepada sang ibu, Nurhayati. Saat dihadirkan di Mata Najwa, sambil menitikkan air mata, Sang Ibu mengatakan putranya hanya bercerita pernah dipukuli polisi.

"Kalau masalah penyiksaan enggak pernah cerita. [sebetulnya] Kalau dipukul [dia] cerita, tapi kalau disetrum enggak [pernah bercerita]. Mungkin dia kasihan sama orang tuanya. Saya saja orang tuanya enggak pernah mukul sama sekali. Saya baru tahu itu mbak," ungkap Nurhayati kepada Najwa Shihab.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten