Dengan Mesin TB, Tes Corona Bisa Dilakukan di RS dan Puskesmas
Ilustrasi tes virus corona atau Covid-19 (Freepik)

Solopos.com, JAKARTA -- Pemerintah sedang melakukan pengadaan mesin Tuberkolosis atau TB yang telah dimodifikasi untuk tes corona di Indonesia.

Dengan menggunakan mesin TB yang telah tersedia di 320 rumah sakit (RS) dan puskesmas terpilih ini, tes corona bisa dilakukan lebih cepat.

Virus Corona Bisa Menyebar Lewat Uang Kertas?

"Jadi setting mesinya akan diubah. Pemerintah juga akan mendatangkan cartridge [alat tambahan] serta melatih SDM [sumber daya manusia] untuk dapat mengoperasikannya. Kita optimis minggu ini alat itu bisa digunakan," terang Juru Bicara Pemerintah Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto saat jumpa pers, dilansir Okezone.com, Kamis (2/4/2020).

Harapannya, dengan mesin TB modifikasi ini, dapat memperpendek tes corona. Di mana sebelumnya, tes corona harus dilakukan di laboratorium yang ditunjuk oleh pemerintah.

Jumlah Kematian Wabah Corona di New York Melonjak, Truk Es Jadi Kamar Jenazah

"Harapannnya semakin cepat dilakukan pemeriksaan. Karena pemeriksaan PCR adalah antigen sehingga interpretasinya adalah pasti. Apakah pasien terbukti terinfeksi atau tidak. Ini bukan pemeriksaan antibodi yang dilakukann pada mekanisme rapid test," lanjutny.

"Basis semua itu adalah untuk memutus rantai penularan, ini menjadi dasar penting dan menentukan sukses tidak kita menanggulangi Covid-19," tukasnya.

Rapid Test

Hingga kini pemerintah masif melakukan rapid test untuk mendeteksi masyarakat yang terinfeksi corona.

Beberapa provinsi juga telah memanfaatkan rapid test ini, salah satunya Jawa Barat (Jabar). Di daerah tersebut, rapid test menggunakan sistem drive thru seperti yang dilakukan di Korea Selatan. Hal tersebut dilakukan untuk menerapkan physical distancing antar warga maupun tim medis.

Cara Mencairkan JHT BPJS Ketenagakerjaan Saat Pandemi Corona

Meski begitu, penggunaan rapid test ini harus diperhatikan. Pasalnya, hasil rapid test negatif ternyata tidak menjamin seseorang bebas dari virus corona. Achmad Yurianto mengatakan meskipun hasilnya negatif, rapid test perlu diulang satu pekan kemudian.

Dia mengatakan bisa saja seseorang terinfeksi virus corona, tetapi masih terdeteksi negatif melalui tes cepat (rapid test). Kondisi ini terjadi karena respons dari sistem imun seseorang belum muncul.

“Ini sering terjadi pada infeksi di bawah 7 hari atau 6 hari. Oleh karena itu, ini akan diulang lagi 6 - 7 hari kemudian dengan pemeriksan yang sama,” katanya melalui siaran resmi di Graha BNPB Jakarta, Sabtu (21/3/2020).

Darurat Kesehatan Setelah Ratusan Kematian Pasien Corona, Yusril: Terlambatgi


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho