Cerita Anggota Tim Kubur Cepat Kamboja Klaten: Pemakaman Siang Hari Lebih Berat

Di tengah pandemi Covid-19 di negeri ini, para sukarelawan Tim Kubur Cepat Kamboja Klaten terus bekerja tak kenal takut.

 Ilustrasi pemakaman pasien meningggal dunia karena Covid-19  (Istimewa)

SOLOPOS.COM - Ilustrasi pemakaman pasien meningggal dunia karena Covid-19 (Istimewa)

Solopos.com, KLATEN-- Di tengah pandemi Covid-19 di negeri ini, para sukarelawan Tim Kubur Cepat Kamboja Klaten terus bekerja tak kenal takut.

Salah satu sukarelawan Tim Kubur Cepat Kamboja Klaten, Yuli Pratama Adi mengatakan tugas seorang sukarelawan saat memakamkan jenazah berdasarkan protokol Covid-19 lebih berat saat siang hari dibandingkan malam hari.

Di tengah menahan pengapnya suhu udara saat memakai APD, Adi terkadang harus menandu peti jenazah. Dalam kondisi tersebut, Adi juga harus mendengarkan isak tangis dari keluarga yang baru saja kehilangan orang-orang terkasih.

"Seperti di Bayat itu, pernah harus ke perbukitan dengan menandu peti jenazah. Lalu di Juwiring atau di perbatasan dengan Sukoharjo, saya harus ber-APD hingga tiga jam. Saya sering terharu juga saat melihat anggota keluarga yang tak bisa mendekat ke jenazah atau bahkan tak pernah melihat orang-orang terdekatnya di hari-hari terakhir [menjelang meninggal dunia]. Saya ikut merasakan itu [kesedihan yang dialami keluarga dari orang yang telah meninggal dunia]," katanya kepada Solopos.com, Sabtu (26/6/2021).

Baca Juga: Kali Pertama Terjadi, Pemakaman Jenazah dengan Prokes di Klaten 39 Orang dalam Sehari

Disinggung tentang ledakan kasus Covid-19 di Klaten dalam beberapa hari terakhir, Adi mengatakan anggota keluarganya sempat waswas dengan keselamatannya.

Namun, Adi seolah berani mengatakan ke anggota keluarganya bahwa dirinya akan selalu baik-baik saja sepanjang menaati SOP dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Adi juga rutin berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selalu diberi kelancaran dan keselamatan dalam menjalankan tugasnya.

"Di tengah melonjaknya kasus Covid-19, keluarga saya juga khawatir. Itu manusiawi. Mereka pun kadang tak habis pikir dengan orang-orang yang tak percaya dengan Covid-19. Padahal, Covid-19 ini benar-benar nyata," katanya.

Baca Juga: Kisah Anggota Tim Kubur Cepat Kamboja Klaten: Dijauhi Teman hingga Dinyinyiri Demi Bayaran

Ledakan Kasus

Di kesempatan yang sama, Koordinator Tim Kubur Cepat Kamboja Klaten sekaligus Wakil Komandan Bidang Organisasi Search and Rescue (SAR) Klaten, Sasongko Agung Wibowo, mengatakan jumlah sukarelawan yang tergabung ke dalam timnya sudah mencapai 300 orang-400 orang. Jumlah tersebut tersebar di 26 kecamatan di Kabupaten Bersinar.

"Latar belakang yang masuk tim di sini bermacam-macam. Ada yang dari tukang becak, pedagang di angkringan, buruh bangunan, buruh pabrik, aparatur sipil negara (ASN), anggota TNI/Polri. Semua semangat teman-teman masih terjaga [untuk terlibat dalam memakamkan jenazah secara protokol Covid-19]. Saya sering bilang ke teman-teman, jangan dijadikan beban dalam menjalankan tugas ini. Ini sangune awake dewe [di akhirat kelak]," katanya.

Baca Juga: 27 Juta Lebih Orang RI Telah Divaksin, Pemerintah Targetkan 1 Juta Orang Per Hari pada Juli

Sebagaimana diketahui, pemakaman jenazah dengan protokol Covid-19 di Klaten meledak hingga 39 orang dalam sehari, Sabtu (26/6/2021). Tingginya kasus kematian yang berbanding lurus dengan ledakan penambahan kasus Covid-19 tersebut tak pernah terjadi di Kabupaten Bersinar di waktu sebelumnya.

Di sisi lain, Koordinator Penanganan Kesehatan Satgas PP Covid-19 Klaten, Cahyono Widodo, mengatakan ledakan kasus Covid-19 masih terjadi di Klaten, Sabtu (26/6/2021). Dalam sehari, kasus Covid-19 bertambah 510 orang. Di samping itu terdapat penambahan 19 kasus kematian karena virus corona dan 132 pasien Covid-19 dinyatakan sembuh.

"Jumlah kumulatif Covid-19 di Klaten hingga, Sabtu (26/6/2021) mencapai 12.725 kasus. Sebanyak 2.539 orang menjalani perawatan/isolasi mandiri. Sebanyak 9.447 orang dinyatakan telah sembuh. Sebanyak 739 orang telah meninggal dunia," kata Cahyono Widodo.


Berita Terkait

Berita Terkini

Pengumuman! Keraton Solo Kembali Tiadakan Gerebeg Maulud, Ini Alasannya

Keraton Solo tahun 2021 ini kembali meniadakan acara Grebeg Maulud untuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Pamit ke Sawah, Nenek-nenek di Sragen Tersambar Kereta Api

Nenek dari Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Hartini, 69, ditemukan meninggal diduga tersambar KA saat pergi ke sawah pada Senin (18/10/2021).

Muncul Klaster PTM di Solo, Ini Tanggapan Gibran

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, memastikan pembelajaran tatap muka (PTM) di Solo tak terganggu dengan kasus Covid-19 di sejumlah sekolah.

Puting Beliung Terjang Gantiwarno, 5 Rumah Rusak

Sebanyak 5 rumah di Dukuh Sangiran, Desa Katekan, Kecamatan Gantiwarno rusak setelah diterjang puting beliung, Senin (18/10/2021) pukul 16.00 WIB.

Klaster PTM Solo Berkembang ke 5 SD, 47 Warga Sekolah Positif Covid-19

Sedikitnya 47 siswa dan pengajar SD di Kota Solo terpapar Covid-19 dalam masa pembelajaran tatap muka (PTM).

4 Peserta CPNS Sukoharjo Diundang Ujian Susulan, Ini Penyebabnya

Sebanyak empat orang peserta ujian Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Sukoharjo diundang untuk mengikuti ujian susulan pada Rabu (20/10/2021) dan Minggu (31/10/2021).

Perlintasan KA Bedowo Sudah Berpintu Palang, Tapi Tak Ada yang Jaga

PT KAI telah memasang pintu palang di perlintasan KA Bedowo, Sragen. Sayangnya, pintu palang itu tak berfungsi lantaran tak ada petugas yang mengoperasikannya.

2022, Pemkab Karanganyar Usul Tambah 718.000 Tabung Melon

Kabupaten Karanganyar mengusulkan tambahan 718.000 tabung elpiji bersubsidi pada 2022.

Jatuh Bangun Menjaga Nyala Para Pendamping ADS

Pandemi Covid-19 berdampak buruk pada perkembangan ADS, para orangtua pendamping harus melakukan berbagai upaya untuk menjaga anak-anak mereka di tengah minimnya layanan fisioterapi.

Siapkan Hadiah Untuk Atlet, Dispora Sukoharjo Rahasiakan Wujudnya

Dispora Sukoharjo merahasiakan hadiah bagi atlet asal Sukoharjo yang berprestasi di PON XX Papua.

Sudah 20 Kali Naik Haji, Ini Komentar Pimpinan KBIH Solo soal Dana Haji

Dari pengawasan yang dilakukan DPR, dapat dipastikan tidak terdapat penggunaan dana haji untuk membiayai proyek infrastruktur pemerintah.

Asosisasi Penghulu Sragen Bicara Keabsahan Nikah Siri, Kesimpulannya?

Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Sragen mengatakan lembaga pemerintah tidak bisa menerbitkan atau menyimpulkan pernikahan siri.

Muncul Klaster PTM di 4 SD di Solo, PTM di Sekolah Lain Jalan Terus

Muncul klaster pembelajaran tatap muka (PTM) di empat SD di Kota Solo. Pemkot Solo memastikan PTM di sekolah lain akan terus berjalan.

Kejayaan Kol Kuning di Era 90-an, Warga Klaten Rindu Bergelantungan

Warga Klaten berharap kol kuning yang menjadi transportasi umum primadona di Kabupaten Bersinar era 1990-an hingga 2000-an dihidupkan lagi dengan wajah baru.

Sopir Kelelahan, Ertiga Nyungsep Perkebunan Tawangmangu

Supir Suzuki Ertiga lebih dulu mengantuk dan mengalai kecelakaan di Tawangmangu sebelum dapat tempat yang nyaman untuk istirahat.