Tutup Iklan -->
Bukan Covid-19, Endemi Paling Mematikan di Jateng DBD
Ilustrasi (Dokumentasi)

Solopos.com, SEMARANG - Selain wabah virus corona, kesehatan masyarakat di Jawa Tengah (Jateng) juga dihantui berbagai ancaman penyakit. Salah satu yang paling parah di Jateng adalah penyakit demam berdarah atau demam berdarah dengue atau DBD.

Bahkan, angka kematian yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypty itu lebih tinggi dibanding Covid-19. Data yang diterima Solopos.com, jaringan Solopos.com, dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng menyebutkan selama Januari-Maret 2020, ada 40 orang yang meninggal akibat demam berdarah.

Dinkes Bantah Rasio Kematian Pasien Corona di Jateng Tinggi

Angka tersebut nyaris dua kali lipat jika dibandingkan jumlah kematian yang disebabkan virus corona di Jateng, yakni 22 orang.

Sementara itu, jumlah kasus demam berdarah yang ditemukan di Jateng dalam tiga bulan terakhir mencapai 2.115, atau 10 kali lipat lebih banyak dibanding kasus positif virus corona yang mencapai 144 kasus.

Kasus Positif DBD Jateng

Kepala Dinkes Jateng, Yulianto Prabowo, menyebutkan kasus DBD terbilang cukup tinggi. Dari 2.115 kasus yang ditemukan itu persebarannya hampir merata di 35 kabupaten/kota di Jateng.

Tes Virus Corona Lambat, Jateng Dapat Jatah 3 Alat PCR

Yulianto pun meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dari ancaman penyakit demam beradar. Masyarakat diminta untuk terus melakukan upaya pemberantasan sarang nyamuk dengan memastikan tidak ada jentik nyamuk di lingkungannya.

"Maka dari itu perlu dibentuk Jumantik atau juru pemantau jentik. Jumantik ini yang bertugas memantau adanya jentik-jentik nyamuk baik di permukiman, sekolah, perkantoran, dan lain-lain. Kalau ditemukan, segera musnahkan," tutur Yulianto.

14 Hari Karantina di Graha Wisata Niaga Solo, Apa Saja Kegiatan Pemudik?


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho