Buka 35 Hari Sekali, Jual Beli di Peken Pinggul Melikan Klaten Tidak Pakai Uang
Pengunjung memadati jalan di pinggir Kali Ujung, Dukuh Bayat, Desa Belikan, Wedi, Klaten, saat digelar Peken Pinggul Melikan, MInggu (1/3/2020). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Warga Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Klaten, menggelar pasar dadakan yang buka saban selapan atau 35 hari sekali. Peken Pinggul Melikan namanya.

Pasar unik ini buka di sepanjang tepi jalan Dukuh Bayat. Peken berarti pasar sedangkan pinggul singkatan dari pinggir tanggul.

Nama itu diambil lantaran pasar dibuka di sepanjang jalan yang berada di pinggir tanggul Kali Ujung. Lokasi pasar itu teduh lantaran dinaungi pepohonan bambu dan jati.

Di pasar ini lapaknya dibikin dari bambu dan daun kelapa. Pedagang mengenakan pakaian tradisional seperti surjan dengan penutup kepala caping.

Semburan Lumpur 40 Meter Muncul di Grobogan, Mirip Lapindo?

Konsep tradisional itu juga dihadirkan para pedagang dengan menyajikan makanan tradisional seperti cenil, onde-onde, pecel, dan jajanan tradisional lainnya.

Ada pula yang menjajakan hasil kerajinan khas bikinan warga Melikan yakni gerabah dengan teknik pembuatan putaran miring.

Tak hanya konsep makanan dan penyajian yang ditampilkan tradisional. Alat pembelian pun dibikin layaknya tempo dulu.

Keping gerabah yang dipakai untuk membeli jajanan atau suvenir di Peken Pinggul Melikan, Klaten. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
Keping gerabah yang dipakai untuk membeli jajanan atau suvenir di Peken Pinggul Melikan, Klaten. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Makanan, minuman, atau kerajinan dibeli menggunakan keping gerabah. Pengunjung bisa mendapatkan uang keping gerabah itu dengan menukarkan uang mereka di meja pengelola pasar saban Peken Pinggul Melikan digelar.

Ekspedisi Mistis Sara Wijayanto Berburu Hantu di Kota Solo Ketemu Arwah Kelaparan

Ada dua jenis keping yang disiapkan. Keping bercat putih senilai Rp2.000 dan keping bercat kuning senilai Rp10.000.

Kepala Desa Melikan, Purwanto, menjelaskan Peken Pinggul Melikan digelar saban Minggu Legi dimulai pukul 06.00 WIB. Para pedagang merupakan warga berbagai dukuh di Melikan.

Pasar itu muncul dari kegiatan program keluarga harapan (PKH) di Desa Melikan. "Program PKH Melikan dapat reward dan diwujudkan dengan membuat pasar ini," kata Purwanto saat ditemui Solopos.com di sela Peken Pinggul Melikan, Minggu (1/3/2020).

Purwanto menjelaskan Peken Pinggul Melikan menjadi salah satu cara untuk mengentaskan kemiskinan. Mayoritas para pedagang merupakan penerima manfaat PKH yang membuka lapak secara kelompok serta pribadi.

WN Korsel Bunuh Diri di Solo Akibat Merasa Terinfeksi Corona Setahun Kerja di Klaten

"Kami akui memang angka kemiskinan di Melikan termasuk tinggi. Sekitar 440 keluarga dari 1.076 keluarga di Melikan masuk kategori miskin. Pasar ini salah satu cara pemberdayaan mereka hingga bisa mandiri," jelas dia.

Salah satu pengelola Peken Pinggul Melikan, Retno, mengatakan pasar itu terinspirasi dari Pasar Papringan di Kabupaten Temanggung. Konsep pasar dibikin setradisional mungkin agar suasana pasar tempo dulu kian terasa.

Retno menjelaskan selama ini pengelola mengampanyekan agar para pedagang menggunakan wadah-wadah tradisional seperti gerabah, tempah, serta daun untuk membungkus makanan guna menghadirkan suasana pasar kian tradisional.

Ini Penyebab Kuliner Daging Anjing Sulit Dihapuskan

Selain itu, kampanye tersebut juga untuk mengurangi sampah plastik. Retno menuturkan saban Peken Pinggul Melikan dibuka, ada 20 hingga 50 pedagang. Pengunjung pasar itu dari berbagai daerah.

Salah satu pedagang, Warsini, 41, mengungkapkan pasar itu menjadi media baginya untuk mempromosikan mainan yang dibikin dari gerabah karyanya sendiri.

"Dengan pasar ini saya terbantu bisa sekalian promosi," kata pedagang asal Dukuh Pagerjurang, Melikan, yang juga berjualan makanan tradisional itu.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom