Ini Penyebab Kuliner Daging Anjing Sulit Dihapuskan
Ilustrasi penolakan konsumsi daging anjing (Solopos)

Solopos.com, SOLO -- Peredaran daging anjing di beberapa daerah di Indonesia kerap ditentang. Namun, upaya menghapus kuliner daging anjing bukan perkara mudah karena menyangkut berbagai aspek.

Kepala Disnakkeswan Jawa Tengah Lalu M. Syafriadi menyatakan di Jateng ada beberapa daerah yang memiliki tingkat konsumsi daging anjing yang tinggi. Di Solo misalnya, pihaknya masih menemukan adanya olahan daging ini, meski pemerintah sudah berupaya melakukan penghentian.

”Namun, olahan segawon [daging anjing] bagi sebagian orang menjadi kultur. Alasannya, dagingnya lebih murah dan menurut mereka rasanya enak. Kami sudah berupaya melakukan penyetopan terhadap rantai distribusi, tapi banyak ‘jalan tikus’ yang digunakan untuk masuk,” papar dia sebagaimana dikutip dari Bisnis.com, Sabtu (29/2/2020).

Eks Tukang Rosok Di Klaten Kantongi Rp80 Juta/Bulan Dari Jualan Sup Ayam

Dia menyebutkan konsumsi daging anjing rentan menyebarkan penyakit rabies. Lalu mengatakan sejak 1996 provinsi ini sudah dideklarasikan bebas dari penyakit rabies. Untuk mencegah rabies, tahun ini Disnakkeswan Jateng menyediakan 8.000 dosis vaksin rabies.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut ada hambatan sosial budaya dalam pengendalian rabies di Indonesia. Anjing memiliki nilai sosial budaya bahkan ekonomis bagi sebagian masyarakat Indonesia.

Di Sumatra Barat, anjing digunakan untuk berburu babi. Ada adu bagong (babi hutan) bagi masyarakat Sunda. Masyarakat Bugis kerap membawa anjing untuk keselamatan pada pelayaran tradisional. Kemudian di Flores, Nusa Tenggara Timur, anjing menjadi mas kawis atau istilah di sana disebut dengan belis.

Selain itu ada kebiasaan mengonsumsi daging ini bagi masyarakat tertentu di beberapa daerah di Indonesia. Kota Solo, Bali, NTT, sampai Sulawesi Utara, menjadi daerah yang kerap disebut tempat kuliner daging anjing.

Perampok Bersenpi Satroni Gudang Wonogiri Di Siang Bolong, Korban Diikat Dan Mulut Dilakban

Di Sulawesi Utara, banyak restoran di Manado yang menyediakan daging gukguk yang kerap disebut daging RW. Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey mengatakan pasar yang menjual daging anjing melekat dengan budaya kuliner masyarakat Minahasa yang gemar memakan ‘daging unik’.

Di Sumatra Utara, daging anjing merupakan salah satu kuliner Batak sejak berabad-abad lalu. Biasanya olahan daging anjing disajikan di wilayah yang dihuni mayoritas Kristen. Daging anjing dipandang sebagai penambah stamina dan obat beberapa penyakit. Selain itu, harga daging gukguk jauh lebih murah dibanding daging babi.

Aplikasi Sapi Ketawa

Hal tak jauh berbeda ada di Kota Solo. Upaya pengendalian yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo melalui pendataan seluruh hewan peliharaan dan ternak milik warga berbasis teknologi dengan Sistem Aplikasi?Kesehatan Hewan (Sapi Ketawa).

Sampai saat ini, pendataan baru menyasar anjing peliharaan di dua kecamatan, yakni Banjarsari dan Jebres. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Distan KPP) Solo, Said Romadhon, mengatakan jumlah anjing di dua kecamatan itu mencapai 836 ekor.

Pendataan anjing peliharaan merupakan upaya pengendalian penyakit hewan menular strategis dan zoonosis (PHMSZ) khususnya rabies. Namun, Said menyebut sistem ini belum bisa digunakan untuk mendata anjing yang dijual untuk konsumsi.

Lulus Kuliah, Bakul Sayur Karanganyar Wisuda Bawa Beronjong Dagangan

Dia hanya mampu mengawasi dan mendata warung penjual kuliner daging anjing. Hal itu dikarenakan anjing-anjing bakal konsumsi kebanyakan berasal dari luar Solo, bahkan luar provinsi.

”Dari data kami, anjing yang dikonsumsi itu dari Jawa Barat. Per hari sekitar 80an ekor untuk sekitar 22 warung,” kata Said.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho