Dua warga Cokro Kembang, Daleman, Tulung berada di mulut terowongan bekas Pabrik Gula (PG) Tjokro Toeloeng, pertengahan Januari lalu. (Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN - Terowongan peninggalan Belanda yang merupakan terowongan bekas Pabrik Gula (PG) Tjokro Toeloeng mampu menyedot perhatian publik. Pascadibuka warga Cokro Kembang, Daleman, Tulung, beberapa waktu lalu, terowongan itu rutin dikunjungi pengunjung.

Pengunjung tak hanya dari Klaten, tapi juga berasal dari Jogja, Semarang, Madiun, dan berbagai kota besar lainnya di Tanah Air. Hingga sekarang, terowongan itu sebenarnya belum dibuka untuk masyarakat umum. Namun kedatangan para pengunjung dari berbagai penjuru Tanah Air seolah tak dapat dibendung.

Persis Solo Bakal Kedatangan 10 Pemain, 4 dari Liga 1

Warga di Cokro Kembang pun juga belum menarik tiket dari pengunjung. Sejumlah perwakilan dari instansi negeri juga tertarik melihat terowongan yang dibangun di zaman penjajahan Belanda tersebut. Di antaranya, perwakilan Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten, akhir pekan lalu.

Terowongan bekas PG Tjokro Toeloeng merupakan terowongan De Suiker Fabriek Tjokro Toeloeng. Terowongan yang dibangun di tahun 1840 ini berada sekitar 6,25 meter dari permukaan tanah. Lokasi terowongan berada di bawah permukiman warga.

Diameter mulut terowongan berkisar 1,6 meter. Semakin masuk ke dalam, ruangan terowongan semakin membesar. Pascamemasuki terowongan sepanjang 17 meter, diameter terowongan mulai membesar, yakni berkisar 2,5 meter. Tinggi terowongan kurang lebih 2,5 meter.

Disalip Madrid, Barcelona Pantang Panik

Terowongan ini diduga memiliki tiga cabang. Pangkal terowongan diduga berada di bekas PG Tjokro Toeloeng atau Pasar Cokro Tulung di era sekarang. Di samping itu ada yang berpangkal di Gedung Ngestidarmo yang berada di barat Pasar Cokro. Terakhir, berpangkal di Umbul Bunder. Berbagai cabang terowongan itu bermuara ke Kali Pusur.

“Pengembangan terowongan dilakukan secara bertahap. Ke depan bisa bareng-bareng antarPemdes, masyarakat, dan Pemkab. Dengan dikaji kekuatan bangunannya itu, tidak saling menyalahkan [jika terjadi apa-apa di waktu mendatang]. Yang dipikirkan adalah keselamatan masyarakat,” kata Sekretaris Disparbudpora Klaten, Sri Nugroho, kepada Solopos.com, Selasa (28/1/2020).


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten