Beberapa Pasal RKUHP Mengancam Iklim Usaha dan Investasi

Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) yang kini belum selesai dibahas DPR bersama pemerintah mengandung pasal-pasal yang mencampuri urusan sektor privat dunia usaha.

 Seorang mahasiswa mengangkat poster dalam unjuk rasa menggugat Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) di DPRD Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (6/7/2022). Mereka menuntut pemerintah dan DPR membuka draf RKUHP yang mereka nilai mengandung sejumlah pasal bermasalah yang merugikan publik. (Antara/Jessica Helena Wuysang)

SOLOPOS.COM - Seorang mahasiswa mengangkat poster dalam unjuk rasa menggugat Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) di DPRD Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (6/7/2022). Mereka menuntut pemerintah dan DPR membuka draf RKUHP yang mereka nilai mengandung sejumlah pasal bermasalah yang merugikan publik. (Antara/Jessica Helena Wuysang)

Solopos.com, SOLO – Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) yang kini belum selesai dibahas DPR bersama pemerintah mengandung pasal-pasal yang mencampuri urusan sektor privat dunia usaha.

Pasal-pasal ini berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum dan mengganggu iklim berusaha dan berinvestasi di Indonesia. Pemerintah dan DPR kembali melanjutkan pembahasan RKUHP yang pada 2019 terhenti setelah ditolak banyak elemen masyarakat.

Kelanjutan pembahasan RKUHP dilakukan dengan fokus perubahan formula 14 masalah atau isu krusial yang menjadi perdebatan. DPR dan pemerintah sepakat tidak membahas ulang substansi di luar 14 isu kontroversial tersebut.

Espos Plus Lainnya

+ PLUS Menghalang Sengkala, Sukerta Gelar Ruwatan Murwakala

Masyarakat Jawa masih meyakini menggelar ruwatan murwakala dapat menghalang sengkala atau keburukan bagi seseorang yang bergelar sukerta.

+ PLUS Gas Air Mata Penyebab Asfiksia, Mati Lemas Kurang Oksigen di Tragedi Kanjuruhan

Gas air mata hingga mengakibatkan penghirupnya mengalami asfiksia diduga menjadi penyebab utama jatuhnya ratusan korban jiwa pada tragedi di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (1/10/2022) malam.

+ PLUS Lilin Sawit Pertegas Batik Laweyan Kian Ramah Lingkungan

Setelah mengganti jenis pewarna kimia dengan pewarna alami, para pengrajin batik Laweyan kini menggunakan lilin sawit sebagai pengganti cairan malam. Penggunaan lilin sawit itu pun membuat produk batik Laweyan semakin ramah lingkungan.

+ PLUS Pemuda Rusia Ramai-Ramai Kabur dari Wajib Militer Negara

Ribuan warga Rusia ramai-ramai kabur melintasi perbatasan untuk melarikan diri dari panggilan untuk berperang dalam perang Rusia di Ukraina.

+ PLUS Pasak Bumi dan Ramuan Obat Kuat Para Raja

Pasak bumi, purwaceng dan aneka empon-empon merupakan ramuan obat kuat yang biasa dipakai oleh masyarakat Jawa, terutama di kalangan para raja. Namun, penggunaan berlebihan ramuan obat kuat itu bisa saja berakibat fatal.

+ PLUS Mendorong Kedelai Lokal Naik Kelas

Guna mendorong petani menanam kedelai, pemerintah berjanji bakal membeli hasil panen yang tergolong tinggi. Jika sebelumnya harga jual kedelai dari pertani berkisar Rp6.000 hingga Rp7.000/kg, pemerintah bakal membeli kedelai dari petani seharga Rp10.000/kg.

+ PLUS Sejatinya Mataram is Love, Devide et Impera Pemecah Mataram

"Tidak ada lagi Mataram is red Mataram is blue, yang bener cuma Mataram cinta damai, Mataram Is Love," tulis Kaesang Pangarep dalam cuitannya di Twitter menyikapi tragedi kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan, Malang.

+ PLUS Temuan Situs Perbengkelan Purba di Dasar Waduk Gajah Mungkur

Sebuah penelitian pada 1980 menemukan situs perbengkelan purba yang kini sebagian telah tergenang bendungan serbaguna Wonogiri yang lebih dikenal dengan Waduk Gajah Mungkur.

+ PLUS Menanti Wajah Baru Gemolong

Wajah baru Gemolong layak dinanti. Selain akan berdiri factory sharing atau rumah produksi bersama mebel dan furnitur unggulan Sragen, di Gemolong juga bakal dibangun sebuah kampus Politeknik Pariwisata (Poltekpar) yang diyakini akan memberi multiplier effects di sektor ekonomi,

+ PLUS 44 Jembatan Penyeberangan Perahu di 600 Kilometer Sungai Bengawan Solo

Sebelum berdiri jembatan megah yang melintang di sepanjang hampir 600 kilometer Sungai Bengawan Solo di Pulau Jawa, masyarakat masa kuno menggunakan 44 perahu penyeberangan atau tambangan.

+ PLUS Akulturasi Budaya Arab dan China Lahirkan Kebaya, Lambang Emansipasi Wanita

Kebaya berasal dari bahasa Arab yakni kaba yang berarti pakaian dan diperkenalkan lewat bahasa Portugis ketika mereka mendarat di Asia Tenggara. Sementara versi lain mengatakan kebaya ada kaitannya dengan pakaian tunik perempuan pada masa Kekasiran Ming di China.

+ PLUS Garam Langka Jono dari Sumur Air Laut Selat Muria

Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan menghasilkan garam langka bersumber dari air sumur yang konon asin karena berasal dari air laut Selat Muria yang terperangkap.

+ PLUS Jejak Batik dari Zaman Majapahit hingga Dinobatkan sebagai Warisan Budaya Dunia

Pada Oktober 2009, batik dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Unesco. Jauh sebelum mendapat pengakuan internasional, tradisi membatik sudah jadi bagian dari budaya Kerajaan Majapahit.

+ PLUS Sebelum jadi Alat Pengendali Massa, Gas Air Mata Dipakai dalam Perang Dunia I

Dewasa ini gas air mata dipakai aparat untuk membubarkan massa yang berpotensi menimbulkan keributan seperti saat terjadi demonstrasi. Jauh sebelum itu, gas air mata pernah dipakai sebagai salah satu kelengkapan persenjataan dalam Perang Dunia I.

+ PLUS Gas Air Mata, Penyebab Tragedi Stadion Nasional Peru, Kini Kanjuruhan

Tragedi penembakan gas air mata yang menyebabkan jatuhnya ratusan korban jiwa di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022), pernah terjadi di Lima, Peru yang mengakibatkan 328 orang tewas.

+ PLUS Ujung Tanduk Nasib Piala Dunia U-20 setelah Tragedi Kanjuruhan

Nasib sepak bola Indonesia berada di ujung tanduk. Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 153 orang berpotensi mengganjal Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 pada 2023. Indonesia pun terancam mendapat sanksi berat lainnya dari FIFA.

+ PLUS Mencari Jodoh Cara Jawa, Menimbang Bibit Bebet Bobotnya

Bibit, bebet, dan bobot masih digunakan sebagian masyarakat Jawa dalam mencari jodoh.

+ PLUS Pernah Terkubur Tanah, Primbon Imam Tabbri Khasanah Perjuangan Islam

Kitab Primbon Haji Syekh Imam Tabbri yang khasanah perjuangan Islam sudah sedikit rapuh lantaran pernah terkubur dalam tanah.

+ PLUS Belajar dari Rizky Billar, Awas Jejak Digital Bisa Bikin Sial

Aktivitas aktor Rizki Billar di media sosial yang meninggalkan jejak digital jadi perbincangan beberapa hari terakhir.

+ PLUS Menakar Untung Rugi Cukai Minuman Berpemanis dalam Kemasan

Pengenaan cukai untuk minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) ini memiliki dua tujuan mulia yaitu untuk tujuan menjaga kesehatan penduduk Indonesia serta memberi tambahan pemasukan negara.