Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati (kedua dari kanan) bersama pimpinan daerah menyanyikan lagu kampanye kesehatan seusai upacara HKN di Alun-alun Sasana Langen Putra Sragen, Selasa (12/11/2019). (Solopos-Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGENStunting atau gagal tumbuh kembang anak menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang menjadi perhatian Kementerian Kesehatan pada lima tahun ke depan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah (Jateng), kasus stunting masih di angka 10,2%. Angka itu berdasarkan hasil screening bayi di 25 puskesmas di Sragen.

Meski persentase masih sama, namun angka kasus stunting di Sragen terhitung turun selama dua bulan terakhir. Berdasarkan data yang disampaikan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen per Agustus 2019, jumlah stunting berdasarkan hasil screening adalah 5.814 anak balita atau 10,2% dari total 57.001 anak balita.

Kemudian berdasarkan data anak balita stunting intervensi integrasi per Oktober 2019, angka stunting turun menjadi 5.672 bayi atau 10,2% dari total 55.601 balita di Sragen. Jumlah stunting selama dua bulan terakhir turun 142 kasus.

Data yang disampaikan Sekretaris DKK Sragen Fanny Fandani, Selasa (12/11/2019), mengungkap jumlah anak balita dengan status sangat pendek sebanyak 1.523 dan anak balita dengan status pendek sebanyak 4.149. Jumlah anak balita stunting paling banyak masih di wilayah Mondokan dengan 536 anak balita.

Kepala DKK Sragen, Hargiyanto, saat ditemui wartawan seusai upacara Hari Kesehatan Nasional (HKN) di Alun-alun Sasana Langen Putra Sragen, Selasa (12/11/2019), menyampaikan angka stunting di Sragen masih di bawah standar WHO, yakni 10,2%.

Dia mengatakan kalau dari hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 angka stunting di Sragen tinggi, yakni mencapai 39,32%. "Stunting menjadi salah satu penekanan untuk diselesaikan dari Kementerian Kesehatan. Selain itu, daerah juga diminta menyukseskan jaminan kesehatan nasional (JKN)," ujarnya.

Menurutnya, ada dua permasalahan yang juga dapat perhatian, yakni mengenai obat-obatan dan alat kesehatan yang mahal. Di sisi lain, lanjut Hargiyanto, penggunaan obat dan alat kesehatan dalam negeri belum optimal.

Hargiyanto menejelaskan penekanan angka stunting itu berdampak pada turunnya angka kematian ibu dan angka kematian bayi. Dia menyebut hingga November 2019, ada lima kasus kematian ibu dan diharapkan angka tersebut bertahan sampai akhir tahun.

Kemudian angka kematian bayi per November 2019, sebut dia, ada 80 kasus dan diharapkan tak lagi bertambah. "Angka kematian ibu dan bayi itu turun bila dibandingkan kasus di 2018. Pada tahun lalu angka kematian ibu mencapai 15 kasus dan angka kematian bayi sebanyak 146 kasus," bebernya

Hargiyanto menjelaskan penurunan yang menurutnya signifikan itu terjadi karena kekompakan tim medis. "Dokter spesialis mau turun ke puskesmas dan seterusnya," tandasnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten