Ancaman Erupsi Merapi Berubah Arah, Wisata Bunker Kalidem dkk Tetap Tutup
Guguran lava dari puncak Gunung Merapi terlihat dari Turi, Sleman, D.I Yogyakarta, Rabu (20/1/2021). (Antarafoto-Hendra Nurdiyansyah)

Solopos.com, SLEMAN -- Bupati Sleman mengeluarkan Surat Edaran atau SE Bupati No. 361/0178 untuk menyikapi perubahan potensi bahaya erupsi Gunung Merapi ke arah barat daya, yang salah satunya mencantumkan tentang objek wisata.

SE Bupati Sleman yang juga memuat tentang wisata tersebut ditujukan khusus tiga panewu di tiga kapanewon di lereng Merapi, yakni Kapanewon Cangkringan, Pakem dan Turi, terkait antisipasi perubahan arah bahaya ancaman bencana erupsi Merapi sesuai rekomendasi dari BPPTKG.

Dalam rekomendasi tersebut tersurat bahaya erupsi Merapi saat ini ke arah barat daya dengan hulu sungai Kali Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng dan Kali Putih.

Baca juga: Gara-Gara Proyek Ini Tommy Soeharto Gugat Pemerintah Rp56 Miliar

Terkait pergeseran bahaya erupsi Merapi tersebut, maka Pemkab mempersilahkan warga di pengungsian Glagaharjo untuk kembali ke rumah masing-masing.

"Warga Kali Tengah Lor yang saat ini berada di barak pengungsian dapat dipulangkan ke daerah asal beserta ternaknya," kata Sekda Sleman Harda Kiswaya, Sabtu (23/1/2021).

Meningkatkan Kewaspadaan

Warga Kali Tengah Lor bisa kembali setelah penerapan Pembatasan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) berakhir pada 25 Januari 2021.

"Warga boleh kembali ke rumah masing-masing tetapi dengan tetap meningkatkan kewaspadaan. Jika terjadi kondisi kritis Merapi setiap saat, warga dapat diungsikan lagi," katanya.

Meskipun potensi bahaya Merapi saat ini ke arah barat daya, katanya, Pemkab tetap menutup kegiatan pertambangan pasir di sungai-sungai yang berhulu Merapi di kawasan rawan bencana (KRB) III.

Baca juga: PPKM Diperpanjang, PKL Taman Pancasila dan Alun-Alun Karanganyar Boleh Jualan Tapi ...

Selain itu, kawasan wisata dibolehkan beroperasi secara terbatas kecuali wisata yang masuk KRB III mulai Bukit Klangon, Bunker Kaliadem, Kinahrejo, dan Wisata Religi Turgo.

"Bulan Januari-Februari ini masa musim hujan sehingga antisipasi terjadinya ancaman bencana sekunder Merapi berupa banjir lahar hujan di sungai yang berhulu Merapi harus diperhatikan," kata Harda.

Sementara itu, jumlah pengungsi dari Dusun Turgo, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem berangsur berkurang. Hingga kini, warga yang menginap di gedung SD Sanjaya Tritis tinggal 33 orang terdiri dari 10 laki-laki dan 23 perempuan.

Baca juga: BPPTKG: Merapi Muntahkan Belasan Kali Guguran Lava Pijar

Panewu Pakem Suyanto mengatakan warga Turgo berada di tempat pengungsian sementara hanya saat malam hari. Adapun siang hari mereka kembali ke rumah masing-masing.

Sebagian warga Turgo menempati gedung SD sejak Rabu (20/1/2021) malam. "Jadi sebenarnya bukan mengungsi tapi hanya bergeser saja saat malam hari," ujarnya, Sabtu.

Awan Panas Guguran

Awalnya warga yang mengungsi berjumlah 47 orang. Sehari setelahnya, jumlah pengungsi bertambah menjadi 63 orang kemudian turun 35 orang dan saat ini hanya tersisa 33 orang.

Kondisi ini terjadi seiring mulai berkurangnya kejadian awan panas guguran dari Gunung Merapi. Pemukiman warga di Turgo sendiri berjarak 6 km atau di luar yang direkomendasikan oleh BPPTKG.

Terkait pengungsian di luar rekomendasi ini, Sekda Sleman Harda Kiswaya mengatakan meskipun warga yang mengungsi di SD Sanjaya Tritis tersebut tidak mau disebut pengungsi namun Pemkab tetap akan memfasilitasi kebutuhan dasar mereka ketika di barak pengungsian.

"Ya tetap diperbolehkan bagi warga di luar rekomendasi untuk mengungsi jika memang diperlukan. Kami akan fasilitasi kebutuhan dasarnya," kata Harda.

Sumber: harianjogja.com



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom