Soloraya
Jumat, 25 April 2014 - 23:15 WIB

PENCABULAN SOLO : Pelaku Bujuk Siswa SD Uang Rp2.000, Aksi Biadab pun Dilakukan

Redaksi Solopos.com  /  Rini Yustiningsih  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Ilustrasi kekerasan terhadap anak (JIBI/Solopos/Dok.)

Solopos.com, SOLO—Kasus pencabulan terjadi di Solo, September 2013 lalu. Sudiyono warga Sambeng Solo divonis empat bulan penjara terkait kasus pelecehan seksual terhadap siswa SD di Solo, inisial Mls. (Baca: Pelecehan Seksual Timpa Siswa SD Solo, Pelaku Hanya Dihukum 4 Bulan)

Pejabat Humas PN Solo sekaligus salah satu hakim yang menyidangkan perkara tersebut, Kun Maryoso, saat dimintai konfirmasi Solopos.com, Jumat (25/4/2014), mengatakan pembacaan vonis putusan sudah dilakukan Senin (21/4/2014) lalu.

Advertisement

Peristiwa itu dikatakan Kun terjadi ketika Mls pulang sekolah. Kebetulan saat itu pelaku menjemput anaknya yang ternyata satu kelas dengan korban.

Berdasar fakta di persidangan Sudiyono kala itu membujuk korban terlebih dahulu dengan memberinya uang Rp2.000.

Advertisement

Berdasar fakta di persidangan Sudiyono kala itu membujuk korban terlebih dahulu dengan memberinya uang Rp2.000.

Saat korban menerima uang itu Sudiyono memegang payudara Mls sebelah kiri satu kali. Peristiwa disaksikan beberapa teman korban.

Sementara itu, orang tua Mls, Htn, 54, saat ditemui Solopos.com di rumahanya di Mangkubumen, Jumat, membeberkan sebenarnya Sudiyono melecehkan anaknya secara seksual sebanyak dua kali.

Advertisement

Sejak semula, lanjut dia, keluarga ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Berulang kali dia berusaha menemui Sudiyono untuk membicarakan masalah itu.

Simak Juga Korban Pelecehan Seksual Trauma

Advertisement

Korban Pelecehan Seksual Trauma

“Tapi Sudiyono tak pernah beritikad baik. Bahkan dia menantang saya agar saya melaporkannya ke polisi. Lalu dia saya laporkan ke Polresta Solo, 4 Oktober 2013. Biar dia jera dan tidak ada anak-anak lain yang menjadi korban,” urai Htn.

Peristiwa tersebut dikatakan dia membuat Mls trauma. Mls menjadi tak bersemangat bersekolah. Jika bersekolah dia meminta diantar dan dijemput.

Advertisement

Selain itu dia ketakutan jika bertemu orang yang belum pernah dikenalnya. Dia menginformasikan, Sudiyono didampingi pengacara Suharsono selama berhadapan dengan hukum.

Terpisah, Suharsono, saat dihubungi Espos untuk dimintai konfirmasi tidak mengangkat telepon. Pesan singkat (SMS) yang dikirim Espos juga tidak dibalas.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif