Hendra Kurniawan/Istimewa

Solopos.com, SOLO — Menyambut tahun baru Imlek 2571 Kongzili yang bertepatan dengan 25 Januari 2020 lalu, berbagai kegiatan budaya dan kesenian Tionghoa digelar. Hampir setiap kota besar di Indonesia ada perayaan tahun baru Imlek dalam berbagai gelar seni budaya sekaligus untuk meningkatkan daya tarik wisata.

Kota Solo yang mengemas perayaan tahun baru Imloek dengan menarik. Sebagai pusat kerajaan Jawa, Solo begitu semringah memberi ruang yang lapang saat perayaan tahun baru Imlek tiba. Kawasan Pasar Gedhe Hardjonagoro menjadi merah meriah dengan hiasan lampion, lambang shio, dan ornamen Tionghoa lainnya.

Kemeriahan itu belum termasuk festival budaya yang dilaksanakan beberapa hari menjelang dan sesudah tahun baru Imlek, seperti Grebeg Sudiro, wisata Kali Pepe, pertunjukan barongsai dan liong, karnaval, wayang potehi, dan sebagainya.

Kota kembaran Solo yang juga pusat kerajaan Jawa, Jogja, juga memberi ruang bagi penyelenggaraan perayaan tahun baru Imlek. Meski tak semolek perayaan tahun baru Imlek di Kota Solo, Kota Jogja juga memiliki gelar besar budaya Tionghoa yang disebut Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) yang dipusatkan di Ketandan.

Di Kota Semarang, Kota Surabaya, Kota Bandung, dan tentu  Kota Jakarta serta kota-kota lain di luar Pulau Jawa juga memberi ruan lapang dan lega bagi perayaan budaya Tionghoa bertepatan dengan tahun baru Imlek.

Kurang Familier

Seni pertunjukan yang acap kali mengundang perhatian dalam momentum perayaan tahun baru Imlek adalah barongsai dan liong (naga). Dapat dipastikan pada setiap perayaan tahun baru Imlek, pentas seni atraktif yang satu ini tak pernah absen bahkan tak jarang pula dilombakan.

Kota Jogja termasuk salah satu kota yang rutin menggelar festival barongsai dan pernah memecahkan rekor liong terpanjang. Seni barongsai kini telah masuk ke dalam salah satu cabang olahraga wushu dan keduanya sering tampil bersama.

Selain barongsai dan liong, dalam gelar seni budaya Tionghoa biasanya juga tampil pentas wayang potehi. Sayangnya seni pertunjukan yang satu ini relatif jarang dan kurang familier bila dibandingkan dengan barongsai atau liong.

Penyebab utamanya adalah dalang wayang potehi sangat sedikit. Kebanyakan dari mereka berusia lanjut dan mengalami kesulitan dalam mewariskan keahlian itu. Hampir tidak ada generasi muda, khususnya Tionghoa, yang berminat menekuni kesenian wayang potehi.

Wayang potehi merupakan seni pertunjukan boneka tradisional yang berasal dari Fujian, daerah asal utama imigran Tionghoa di Indonesia. Potehi berasal dari kata poo (kain), tay (kantong), dan hie (wayang). Kong Yuanzhi (1999) menjelaskan potehi merupakan boneka kayu dengan kantong kain.

Ukuran boneka kecil, bagian kepala tersambung dengan kantong kain, dan mengenakan pakaian karakter wayang. Tangan dalang dimasukkan ke dalam kantong untuk mengendalikan gerak boneka, terutama bagian kepala dan kedua tangan.

Wayang potehi konon bermula pada zaman Dinasti Han (206 SM-220 M) yang berkembang pada masa Dinasti Tang (618-907 M) dan Dinasti Song (960-1279 M). Wayang potehi sangat populer di daerah Fujian dan Taiwan. Potehi dibawa ke Indonesia oleh imigran dari Fujian alias orang Hokkian.

Wayang potehi populer di Batavia dan beberapa daerah lain di Jawa pada abad ke-17. Wayang ini menjadi semakin populer karena dipentaskan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang umumnya dipakai oleh kaum Tionghoa peranakan. Penonton beragam, tak hanya masyarakat Tionghoa.

Wayang potehi biasa dimainkan saat hari raya atau akhir pekan di kelenteng-kelenteng. Tema lakon kebanyakan diangkat dari cerita sejarah atau kisah cinta Tiongkok, misalnya legenda Samkok (tiga kerajaan), Hong Kian Cun Ciu, Cun Hun Cauw Kok, Poei Sie Giok, Sie Djien Kui Ceng Tang, Sie Djien Kui Ceng See, Sun Wu Kong (Perjalanan ke Barat), dan sebagainya. Sampai tahun 1940-an, pertunjukan wayang potehi masih banyak dijumpai.

Pentas wayang potehi berangsur-angsur sepi setelah peristiwa tragedi politik dan kemanusiaan pada 1965. Pada zaman Orde Baru, pertunjukan wayang potehi hanya dapat dinikmati secara terbatas, itu pun di beberapa daerah saja.

Tahun 1970 sampai 1990-an merupakan masa suram bagi wayang potehi. Pementasan dilarang meskipun wayang ini dimainkan oleh dalang yang bukan berasal dari kalangan Tionghoa. Wayang potehi sebenarnya juga telah mengalami akulturasi dan tumbuh bersama sebagai budaya lokal yang mendukung khazanah budaya nasional.

Dikemas Berbeda

Setelah penerbitan Instruksi Presiden No. 6/2000 yang ditandatangani Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, masyarakat Tionghoa bebas mengekspresikan budaya mereka, termasuk wayang potehi. Budaya Tionghoa kini telah memperoleh ruang selayaknya bagian dari budaya nasional. Pembelengguan budaya Tionghoa selama lebih dari tiga dekade tak ayal membuat budaya ini menjadi kurang dikenal oleh generasi muda.

Salah satu upaya untuk mengangkat kembali wayang potehi adalah dengan inovasi, misalnya iringan musik yang digunakan berasal dari kolaborasi alat musik Tionghoa, Jawa, dan modern (Barat). Alat musik khas Tionghoa yang digunakan antara lain erhu, kecapi, suling, tambur, dan ceng-ceng.

Alat musik Jawa diambil beberapa bagian dari gamelan seperti bonang, saron, kendang, dan gong. Alat musik modern bassdrum dan simbal memberi sensasi kekinian. Akulturasi berbagai jenis alat musik ini ternyata menghasilkan sebuah pertunjukan berbeda, lebih mengentak, dan dapat dikatakan liar dibandingkan wayang potehi tradisional.

Kolaborasi ini mirip dengan kesenian gambang kromong di Betawi. Gagasan ini membuktikan wayang potehi di Indonesia telah menjadi produk budaya yang begitu cair. Wayang potehi dapat disajikan dalam kemasan budaya setempat. Budaya yang tanpa sekat ini mampu menghasilkan tampilan yang unik, menarik, indah, dan harmonis.

Wayang potehi yang lebih kekinian dan antimainstream ini relatif lebih mudah diterima oleh banyak kalangan, khususnya generasi muda. Hal ini penting sebagai upaya pelestarian karena semakin jarang yang tertarik dengan wayang potehi.

Perkembangan teknologi sedikit banyak menenggelamkan minat terhadap pentas seni pertunjukan wayang, padahal wayang potehi juga pernah dikembangkan menjadi produk budaya yang baru dan unik yakni wayang kulit China-Jawa alias wacinwa atau wayang thithi oleh seniman bernama Gan Thwan Sing di Jogja.

Jangan sampai pada saat ruang kebebasan budaya Tionghoa terbuka lebar, malah generasi muda Tionghoa perlahan-lahan kehilangan identitas budaya. Apresiasi kaum muda harus ditumbuhkan guna melestarikan seni budaya luhur wayang potehi dalam konteks kekinian! Xin Nian Kuai Le!


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten