Suwarmin/Dokumen Solopos

Solopos.com, SOLO -- Tahun 2019 segera berlalu, tahun 2020 segera menjelang. Banyak yang terjadi sepanjang 2019. Apa pun itu, segalanya akan berlalu. Sebagian menjadi catatan sejarah. Sebagian menjadi sampah.

Tahun berganti, usia bertambah tua. Dunia olahraga dan politik, punyai elan cerita sendiri terkait fakta usia ini. Kita mulai dari dunia olahraga. Di cabang bulu tangkis, masyarakat Indonesia baru saja mendapat kado manis dari ganda putra veteran Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan.

Hendra kini 35 tahun, dan Ahsan 32 tahun. Tahun ini meraih empat gelar juara. Tiga gelar juara adalah gelar utama, yakni All England, kejuaraan dunia, dan gelar BWF World Tour Finals. Tahun depan mereka masing-masing berusia 36 tahun dan 33 tahun. Kita sangat berharap mereka bisa menyumbang medali emas di Olimpiade Tokyo 2020. Emas olimpiade adalah tradisi bulu tangkis Indonesia sejak Susy Susanti dan Alan Budikusuma pada 1992, 27 tahun silam.

Hendra dan Ahsan, yang punya julukan the Daddies, memang lebih tua daripada duo Minions, Kevin Sanjaya dan Marcus Fernaldi. Ketika Minions beberapa kali terlihat labil, Hendra dan Ahsan justru kian matang dan tangguh. Di cabang tenis, dunia masih menunggu sepak terjang veteran dari Swiss, Roger Federer, kini 38 tahun, dan Rafael Nadal (Spanyol), kini 33 tahun. Tahun depan, Federer dan Nadal masih ingin bertualang, bersaing dengan para jagoan muda seperti Stefanos Tsitsipas (Yunani), 21, atau jagoan Jerman Alexander "Sascha" Zverev Jr, 22.

Di arena sepak bola, Lionel Messi baru saja menutup 2019 dengan gol ke-50. Ini merupakan tahun keenam secara berturut-turut dia menutup tahun dengan mencetak minimal 50 gol. Tahun ini dia juga meraih penghargaan tertinggi sebagai pemain terbaik dunia, yakni Ballon d’Or, yang merupakan gelar keenam.

Panggung Politik

Messi tahun depan 33 tahun. Pesaing Messi, Cristiano Ronaldo, tahun depan 35 tahun. Ronaldo tetap menjadi andalan Portugal di kejuaraan Eropa, Euro 2020. Messi dan Ronaldo seolah-olah tak peduli dengan kedatangan para bintang muda seperti Kylian Mbappe (Prancis), 21, atau Neymar (Brazil), yang kini sudah 27 tahun, dan pemain muda lainnya.

Tetesan keringat di gelanggang olahraga adalah keadilan dari persaingan yang sempurna. Ada kalanya yang tua dan matang yang menang. Akan tiba pula masa yang muda dan bertenaga yang jawara.

Kisah para veteran di arena olahraga hampir berkebalikan dengan kisah para politikus muda di berbagai belahan dunia. Para pemimpin muda bermunculan bak jamur di musim penghujan. Presiden Prancis Emanuel Macron kini 42 tahun, Perdana Menteri Kanada Justin Tradeau kini 48 tahun, Emir Qatar Tamim bin Hamad al-Tsani kini 39 tahun. Belgia juga punya pemimpin muda, Perdana Menteri Charles Michel yang berusia 38 tahun saat mulai menjabat.

Ada pula para pemimpin sepuh yang kini berkuasa. Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad kini 94 tahun.  Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini 73 tahun. Logika yang berlaku di arena olahraga memang tidak selalu sama dengan logika politik. Di arena olahraga berlaku adagium, seperti semboyan olimpiade, citius, altius, forties; lebih cepat, lebih tinggi, dan lebih kuat. Siapa yang lebih cepat, lebih tinggi, atau lebih kuat bisa dilihat dan diukur oleh siapa pun. Di dunia politik, siapa yang lebih tinggi, lebih kuat, atau cepat tidak selalu bisa dibaca dengan mudah.

Siapa yang mengira Trump mengungguli Hillary Clinton pada pemilihan presiden Amerika Serikat, 2016 lalu. Itulah yang terjadi. Logika politik tersembunyi di balik strategi dan siasat yang tidak selalu matematis. Tidak semuanya bersih. Tidak selalu jujur. Bisa bengis dan kotor. Trump saat ini menghadapi sidang pemakzulan oleh Senat Amerika Serikat setelah DPR meloloskan dakwaan. Trump diprediksi lolos persidangan ini dengan mudah karena kubu Republik mendominasi kursi Senat. Inilah logika politik itu.

Patgulipat Narasi

Bukan benar atau salah kasus yang dihadapi Trump, namun berapa jumlah anggota senator Republik yang berada di kubu Trump. Ini bukan sidang kriminal yang akan memvonis seseorang bersalah atau tidak, ini “hanyalah” peristiwa politik. Pembelaan hukum bisa diputar dalam patgulipat narasi.

Trump diprediksi akan menghadapi tantangan rumit pada Pemilu Presiden AS tahun depan, 3 November 2020. Dunia berharap dia kalah sehingga amuk perang dagang AS vs Tiongkok akan mereda. Tetapi di dalam negeri AS, Trump disebut-sebut semakin kuat.

Gambaran logika politik juga muncul dalam pernyataan Ketua DPP PDI Perjuangan yang juga merangkap sebagai Ketua DPD PDIP Jawa Tengah, Bambang Wuryanto. Dia menyatakan syarat maju menjadi calon kepala daerah dari PDIP harus berkartu anggota minimal tiga tahun berturut-turut bukan syarat yang kaku.

“Keputusan pilkada itu memakai pertimbangan politik, bukan pertimbangan administrasi. Hal-hal khusus berdampak nasional, seperti juga keputusan menentukan calon dalam pilkada, adalah hak prerogatif Ketua Umum, ada di tangan Ibu Megawati Soekarnoputri," kata Bambang Wuryanto, Selasa (17/12), seperti dikutip detik.com.

Bambang tak mempermasalahkan keanggotaan Gibran Rakabuming Raka di PDIP yang baru hitungan bulan. Gibran, kini 32 tahun, akan bersaing dengan Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo yang kini 70 tahun. Ini bukan tentang tua atau muda, tetapi tentang kerja logika politik. Hal itu sering kali di luar jangkauan para awam. Ada hal menarik dari sidang impeachment atas Trump di Amerika Serikat. Betapa pun panasnya adu argumen di parlemen, masyarakat setempat tenang-tenang saja.

Tak ada adu gerakan massa. Semoga demikian pula di Solo. Wajar dalam politik ada persaingan, tetapi biarlah itu berhenti di panggung politik semata. Tak perlu melibatkan gerakan massa yang tidak perlu di luar arena kontestasi. Toh masyarakat kelak akan ikut berperan serta, melalui pilihan “suci” yang menentukan di bilik suara…


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten