Usaha Sepatu di Klaten Ini Justru Kian Eksis Saat Pandemi, Apa Rahasianya?
Founder sepatu bermerek Aerostreet, Adhitya Caesarico alias Rico (kanan) saat memperlihatkan sepatu yang diproduksinya di Bentangan, Wonosari, Klaten, Senin (21/12/2020). (Solopos-Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN -- Berusaha tetap tegar di tengah hantaman pandemi Covid-19 dialami pengusaha muda sekaligus founder sepatu bermerek Aerostreet, Adhitya Caesarico alias Rico.

Pria berusia 34 tahun tersebut menjadi salah satu pengusaha di Tanah Air yang mampu memanfaatkan peluang saat pandemi Covid-19.

Dampak keganasan virus corona ternyata tak mempengaruhi usaha yang digeluti Rico. Kejeliannya mengambil peluang membikin usaha sepatu yang dipusatkan di Desa Bentangan, Kecamatan Wonosari, Klaten, Jawa Tengah, berkembang pesat.

Demi Keamanan Penumpang, Sopir dan Kru Bus di Terminal Klaten Jalani Pemeriksaan Kesehatan

Rico mengawali usaha memproduksi sepatu merek Aerostreet di tahun 2015. Sejak saat itu hingga Maret 2020, Rico mengandalkan penjualan dengan sistem traditional market. Munculnya pandemi Covid-19, mengakibatkan Rico harus banting setir dengan mengoptimalkan market online.

Mulai April 2020, Rico yang memegang komando di PT Adco Pakis Mas itu tak lagi melayani pembelian secara offline.

Sejak mengandalkan penjualan online dengan merekrut tenaga muda yang melek teknologi tersebut, penjualan sepatu Rico mengalami perkembangan pesat.

Mengambil Berkah Pandemi

Jika saat offline hanya mampu melayani penjualan 6.000 pasang sepatu per hari, pelayanan penjualan sepatu secara online mampu menembus 9.000 pasang sepatu per hari. Rata-rata, sepasang sepatu dijual seharga Rp100.000.

"Saat pandemi Covid-19 ini, buat saya pribadi rasanya justru senang. Saya bisa ambil berkahnya. Di saat kompetitor yang lain memilih libur, saya justru bisa mengembangkannya. Market online yang saya jalani, diawali dari media sosial (medsos), terutama Instagram (IG). Hasilnya, saya bisa mempertahankan 1.400 karyawan saya. Produk saya terus berkembang. Kapasitas pembuatan sepatu di tempat saya mencapai 12.000 per hari," kata Rico, saat ditemui wartawan di kantornya, Senin (21/12/2020).

Resmi Raih Perak Olimpiade 2012, Citra Febrianti Terima Bonus Menpora

Kunci lain yang diungkapkan Rico kenapa bisnisnya tetap berkibar di tengah pandemi Covid-19, yakni bahan utama pembuatan sepatu seluruhnya berasal dari lokal.

Bahan karet dan kanvas diambil di berbagai daerah di Indonesia, di antaranya berasal dari Tangerang, Surabaya, Bandung, dan Jakarta.

Bahan lokal tersebut memudahkan Rico memperolehnya meski di tengah pandemi Covid-19. Di samping itu, Rico bisa memperoleh harga bahan baku relatif murah. Harga tersebut dinilai jauh berbeda saat mengandalkan bahan baku impor.

Tangguh! Ibu-Ibu Teknisi Bengkel di Sragen Ini Mampu Sekolahkan 2 Anaknya Jadi Perawat

"Meski bahan baku lokal, kualitas sepatu buatan kami tak kalah dengan yang impor. Sesuai rencana, kami bakal me-launching sepatu #lokaltakgentar," katanya.

Sepatu itu, menurut dia, sekaligus sebagai bentuk protes terhadap barang impor.

Menjangkau Seluruh Kalangan

Disinggung tentang jenis sepatu yang pernah dibuat, Rico mengatakan hingga sekarang sudah membuat 800-an jenis sepatu. Produk yang dibikinnya telah menjangkau seluruh kalangan, baik para pelajar, pegawai kantoran, pegawai lapangan, dan lainnya.

"Untuk saat ini, jenis produk kami yang paling digemari masyarakat, yakni jenis sepatu dua dimensi," katanya.

Berdiri Sejak 1963, Ini Sejarah Panjang Tempat Wisata Tawangmangu Wonder Park

Dalam mengembangkan usahanya, Rico memilih mengoptimalkan padat karya.

Manager Product PT Adco Pakis, Yohan fransisco, mengamini produk sepatu paling nge-hits dan digemari para pembeli saat ini, yakni sepatu dua dimensi. Sepatu jenis tersebut terdiri dari beberapa warna mencolok.

"Sepatu duo dimensi itu sempat ramai di-IG, 11 Desember 2020. Waktu itu, kami menawarkan 2.880 pasang sepatu duo dimensi. Tak diduga, barang tersebut langsung sold out dalam waktu 37 menit," katanya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom