Usaha Batik Naufakencana, Mencoba Bangkit di Saat Pandemi
Pemilik usaha batik Naufakencana, Sragen, Joko Waloyo. (Istimewa)

Solopos.com, SOLO – Usaha batik yang dijalani Joko Waloyo, warga Sragen pada awalnya adalah usaha sampingan. Karena sebelum memulai usaha tersebut dia sudah memiliki usaha toko handphone sejak 2008. Namun, kondisilah yang membuatnya akhirnya fokus dengan usaha batik.

Kini usaha batiknya di Sumber RT 016/RW 004, Bentak, Sidoharjo, Sragen pun telah berkembang dengan brand Naufakencana. Pangsa pasarnya pun tak hanya di Solo Raya dan Indonesia saja. Karena batik produksinya sudah dipasarkan hingga Eropa dan Asia Tenggara.

“Jadi awalnya saya punya usaha grosir handphone sejak 2008, namun empat tahun kemudian gagal. Karena sudah tidak punya modal akhirnya pada 2012 mulai usaha batik. Sebab kami bisa pinjam produknya, setelah laku baru dibayar,” ujar Joko ketika dihubungi Solopos.com, Selasa (20/10/2020).

Solo Leading Industry Expo, Ajang Promosi Pelaku IKM Kota Solo

Selain itu, lanjut Jolo, batik selain warisan leluhur juga memiliki nilai seni tinggi dan filosofi yg bagus khususnya untuk masyarakat Jawa. Tak hanya itu di luar negeri, mereka tertarik dengan batik Indonesia karena punya nilai seni yang bagus.

“Sejak itulah saya dan istri mantap usaha batik dengan brand Naufakencana. Kemudian pada 2016 mulai mengenal pemasaran secara online. Bahkan pada 2017 sudah 50 persen pemasaran lewat online. Melalui media sosial Facebook, Instagram, dan website www.naufakencana.com,” kata Joko.

Digelar Virtual, Pameran Pasar Modal Indonesia Dongkrak Literasi dan Inklusi Pasar Modal

Kembali Bersemangat

Sejak 2018 fokus pemasaran online sehingga pasar pun menjangkau Eropa yakni Jerman, kemudian Singapura dan Malaysia. Bahkan sampai sebelum pandemi masih repeat order dan hampir MOU dengan buyer dari Pakistan. Omzet per bulan sebelum pandemi sekitar Rp100 juta, tapi saat ini turun.

“Karena setelah pandemi order tidak sebanyak saat normal. Namun perlahan kami mulai bangkit. Pekerja yang semula dikurangi mulai kami tambah. Semoga kondisi semakin membaik,” kata Joko.

Terdepresi Cukup Dalam, Pasar Otomotif Soloraya Optimistis Membaik

Apalagi di Indonesia banyak kantor pemerintah yang mewajibkan pegawainya menggunakan baju batik pada hari tertentu. Bahkan itu, sambung Joko, pernah dirasakan pada 2018 ketika ada BUMN memesan seragam batik Naufakencana.

Tidak hanya itu,  menurut Joko, semangatnya kembali bangkit setelah ikut UMKM Expo yang diselenggarakan Solopos dan Bank Indonesia.

“Setelah mengikuti UMKM Expo tambah wawasan, tambah ilmu dan bisa merambah ke berbagai market place,” ujar Joko optimis.

 

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom