Terlanjur Beli Masker Scuba, Begini Cara Mengakali Pemakaiannya
Ilustrasi masker dari bahan scuba. (Freepik)

Solopos.com, SOLO – Polemik scuba yang dianggap bukan masker masih menjadi perbincangan. Apalagi setelah Dierjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes, Achmad Yurianto, menegaskan scuba dan buff bukan masker.

Menurutnya masker bukan sekadar penutup hidung. Tetapi bahan yang aman dipakai untuk melindungi diri dari droplet, seperti masker kain.

Lantas, bagaimana jika terlanjur membeli banyak masker dari bahan scuba? Apakah harus dibuang? Tentu tidak, scuba bisa dimanfaatkan sebagai masker dengan cara khusus.

Dosen, peneliti, dan scientific consultan, Daisy Irawan, mengatakan scuba yang dijahit sebagai bisa dipakai menjadi masker. Caranya dengan melapisi bagian dalamnya dengan kain belacu.

Kemenkes: Scuba dan Buff Bukan Masker, Jangan Dipakai! 

“Bisa dijahit atau dilapis saja pakainya. Kain belacu ini hidrofilik, jadi bisa menahan droplet kita di dalam,” terangnya, Kamis (17/9/2020).

Sementara bahan scuba ini bersifat hidrofobik yang membantu mencegah droplet orang lain menempel di lapisan kain belacu. Adapun kain belacu yang dimaksud adalah kain katun yang belum diputihkan. Teksturnya kasar dan warnanya agak kekuningan.

Lantas bagaimana jika scuba dilapisi tisu? Daisy Irawan menyebut hal ini tidak anjurkan lantaran tisu mengandung pemutih yang semestinya tidak dihirup.

“Lebih aman sapu tangan zaman dulu yang sudah dicuci berulang kali. Tisu ini mengandung pemutih yang semestinya tiak dihirup,” sambung dia.

Jadi Tontonan, Wanita Cantik Asal Karanganyar Bersihkan Kali Pepe Solo Akibat Terjaring Razia Masker 

Diberitakan sebelumnya, hasil penelitian yang dilakukan Duke University menyebutkan buff dan scuba yang sering dipakai pengendara sepeda motor hasilnya lebih buruk dari masker kain biasa. Sebab, kedua jenis penutup hidung itu hanya memberikan sedikit perlindungan.

Sebelumnya PT KAI Commuter Indonesia (KCI) menyosialisasikan pengguna KRL menghindari pemakaian masker buff dan scuba. Melalui akun media sosial mereka menjelaskan kedua jenis masker itu tingkat efektivitasnya hanya 5% dalam mencegah risiko terpapar debu, virus, dan bakteri.

Masker scuba dan buff sebagiknya tidak dipakai di dalam KRL lantaran udaranya lebih dingin. Suhu rendah bisa membuat droplet menjadi airbone dan bertahan di udara dalam waktu lebih lama, sehingga penularan Covid-19 menjadi lebih tinggi.

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom