Tak Patah Arang! Tangan Diamputasi, Warga Pedan Klaten Belajar Melukis dengan Kaki

Penyandang disabilitas di Klaten ada yang melukis dengan kaki lantaran kedua tangannya telah diamputasi pascakecelakaan kerja di tahun 2015.

 Ponimin Hadi Raharjo (kanan), penyandang disabilitas yang menggambar dan melukis dengan kaki di Sanggar Seni Mewarnai Dunia di Desa Palar, Trucuk, Rabu (3/3/2021) pagi. Di lokasi tersebut, sejumlah penyandang disabilitas menggali potensi diri dengan menggambar dan melukis. (Solopos/Ponco Suseno)

SOLOPOS.COM - Ponimin Hadi Raharjo (kanan), penyandang disabilitas yang menggambar dan melukis dengan kaki di Sanggar Seni Mewarnai Dunia di Desa Palar, Trucuk, Rabu (3/3/2021) pagi. Di lokasi tersebut, sejumlah penyandang disabilitas menggali potensi diri dengan menggambar dan melukis. (Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN - Sejumlah penyandang disabilitas di Palar, Kecamatan Trucuk dan sekitarnya serius berlatih menggambar dan melukis di Sanggar Seni Mewarnai Dunia di desa setempat, Rabu (3/3/2021) pagi. Selain berkursi roda, di antara penyandang disabilitas itu ada yang melukis dengan kaki lantaran kedua tangannya telah diamputasi pascakecelakaan kerja di tahun 2015.

Ponimin Hadi Raharjo, 46, warga Troketon, Kecamatan Pedan menempuh perjalanan jauh ke Palar, Kecamatan Trucuk untuk menimba ilmu menggambar dan melukis. Di Sanggar Seni Mewarnai Dunia Desa Palar, Ponimin berbaur dengan penyandang disabilitas lainnya.

PromosiHari Keluarga Nasional: Kudu Tepat, Ortu Jangan Pelit Gadget ke Anak!

Selain Ponimin, ada penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda saat belajar menggambar dan melukis. Di sanggar itu, tujuan mereka satu, yakni sama-sama menggali potensi di bidang seni bersama seorang mentor, Pitut Saputra.

Baca Juga: Balai Bahasa Jateng Ajak Guru Aktif Kelola Media Massa Sekolah

Selama menggambar dan melukis, para penyandang disabilitas tak menggunakan kain kanvas. Sebaliknya, mereka memanfaatkan bekas spanduk atau pun bekas baliho. Melalui cara seperti itu, mereka ingin mengkampanyekan pentingnya pemaanfaatan spanduk dan baliho bekas agar berdaya guna kembali.

"Saya baru kali ini belajar melukis dengan kaki. Bisa dikatakan saya belajar menggambar dari nol. Di sini, saya menggambar pemandangan gunung. Terus terang ini belum bagus. Saya memang enggak berpikir soal hasilnya. Yang penting mencoba dahulu. Semoga ke depannya bisa," kata Ponimin, saat ditemui wartawan di Palar, Trucuk, Rabu (3/3/2021).

Sembari menggambar dan melukis dengan kaki, Ponimin bercerita tentang kehidupan di masa lalunya. Ponimin sebenarnya terlahir sebagai manusia normal. Ponimin yang menjadi tulang punggung keluarga pun giat bekerja sebagai tukang bangunan. Ponimin memiliki dua anak dan seorang istri.

Sejak tahun 2015, Ponimin harus merelakan kedua tangannya untuk diamputasi. Mulai saat itu, Ponimin lebih banyak berdiam diri di rumah dan mengandalkan pemasukan keuangan keluarga dari seorang istrinya sebagai bakul pecel.

Nasib naas yang dialami Ponimin di tahun 2015 berawal saat dirinya bekerja sebagai tukang bangunan. Waktu itu, Ponimin hendak memasang keramik di sebuah bangunan di Mireng, Trucuk. Di bangunan yang sudah didak alis berlantai II itu, tiba-tiba Ponimin tersetrum.

Saking tingginya aliran listrik, Ponimin sempat pingsan. Ponimin mengalami luka serius di kedua tangan. Hal tersebut mengakibatkan kedua tangan Ponimin harus diamputasi.

Pertemanan

Berawal dari pertemanan dengan penyandang disabilitas lainnya, Ponimin akhirnya memiliki kesibukan baru, yakni belajar menggambar dan melukisi di Sanggar Seni Mewarnai Dunia, Palar, Trucuk.

"Saya menikah dengan Mas Ponimin sekitar 16 tahun lalu. Saya mendukung penuh kegiatan yang dilakukan suami saya ini. Di sini, suami saya bisa tambah teman dan tambah pengalaman. Bisa belajar menggambar dan melukis juga," kata istri Ponimin, yakni Sunarni.

Pitut Saputra selaku mentor di Sanggar Seni Mewarnai Dunia Desa Palar mengatakan mengajari penyandang disabilitas menggambar dan melukis harus memiliki tingkat kesabaran yang tinggi. Di samping itu, harus peka dan pandai melihat situasi hati para penyandang disabilitas.

Baca Juga: Anak Usia 5 Tahun ke Atas Boleh ke Mal di Solo, SGM Perketat Prokes

"Saya persilakan masing-masing mengeksplorasi diri. Selama mengajari para penyandang disabilitas, jangan sampai menyinggung perasaan atau emosi mereka. Suasana ceria harus terus diciptakan di sini. Pelatihan ini bersifat gratis. Saya meyakini, di balik kekurangan pasti ada kelebihan. Tak menutup kemungkinan, ke depan juga bisa dilakukan pameran hasil karya dari teman-teman penyandang disabilitas," katanya.

Ketua Komunitas Difabel Palar Sejahtera, Nurbertus Trisno Nugroho, mengatakan seluruh penyandang disabilitas yang mengikuti pelatihan menggambar dan melukis berawal dari tingkat dasar. "Semua teman-teman penyandang disabilitas yang belajar melukis di sini berangkat dari nol. Selain dari Palar, ada juga penyandang disabilitas dari daerah lain yang belajar melukis di sini," katanya.

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

Generasi Z Indonesia Paling Stres

+ PLUS Generasi Z Indonesia Paling Stres

Generasi Z di Indonesia menjadi generasi yang mudah cemas dan mudah mendapat tekanan batin atau stres. Tingkat kecemasan generasi kelahiran 1997-2012 ini paling tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.

Berita Terkini

Minimal Lulusan SMA, Ini Syarat Isi Jabatan Perangkat Desa di Klaten

Sebanyak 394 jabatan perangkat desa di Klaten dipastikan kosong hingga sekarang.

Sopir Ditemukan Meninggal Dalam Mobil di Halaman Hotel Sunan Solo

Seorang laki-laki yang bekerja sebagai sopir ditemukan meninggal di dalam mobil Toyota Fortuner di halaman Hotel Sunan Solo.

Daftar 10 Kampus di Karanganyar, Cek di Sini!

Inilah daftar 10 kampus perguruan tinggi di Karanganyar.

Ini Kecamatan Terluas di Sragen, Ternyata Lebih Luas dari Kota Solo

Kecamatan terluas di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, ini luasnya hampir dua kali lipat dari luas Kota Solo.

Temuan Benda Ritual di Candi Kethek, Tempat Pembebasan Dosa

Penelitian di Candi Kethek yang berlokasi di lereng Gunung Lawu menemukan sejumlah benda-benda dan alat ritual yang terkait dengan upacara pemujaan, ruwatan, dan pembebasan kutukan serta dosa.

BRT Trans Jateng Rute Solo-Wonogiri: Murah, Aman, & Nyaman

BRT Trans Jateng rute Solo-Wonogiri bakal menjadi sarana transportasi yang murah, mudah, aman, dan nyaman.

Hore! PTM 100 Persen Digelar di Boyolali Mulai Pekan Depan

PTM 100% tersebut akan dimulai pada tahun ajaran 2022/2023 pada seluruh sekolah dari tingkat PAUD hingga SMP.

Rute BRT Trans Jateng Solo-Wonogiri: Keliling 3 Kota Cuma Bayar Rp4.000

Rute BRT Trans Jateng rute Solo-Wonogiri yang bertarif Rp4.000 akan melintasi tiga wilayah sekaligus dengan jarak tempuh 68 menit

Kecamatan Terkecil di Sragen: Paling Padat Dibanding Lainnya

Memiliki dua desa dan enam kelurahan, kecamatan terkecil di Sragen diklaim terpadat di Bumi Sukowati.

Harga Tiket BRT Trans Jateng Solo-Wonogiri Murah, Fasilitas Ciamik

Harga tiket BRT Trans Jateng jurusan Solo-Wonogiri lebih murah dari bus bumel dan dilengkapi fasilitas ciamik.

Begini Kronologi Penemuan Mayat Pria di Sawah di Cangkol Mojolaban

Korban ditemukan di area persawahan di Dukuh Cangkol, Desa Cangkol, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo. Korban merupakan warga sekitar bernama Mulyosuwito, 73. Berdasarkan keterangan dokter, korban meninggal karena terjatuh dan terjadi pendarahan dalam

Jaga Kewan, Cara Pemkab Boyolali Atasi Wabah PMK

Jaga Kewan merupakan upaya Pemkab Boyolali dalam menangani wabah PMK di Boyolali.

Kecamatan Terkecil di Sragen Ternyata Hanya Punya 2 Desa

Kecamatan terkecil di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, ternyata hanya memiliki dua desa dan enam kelurahan saja.

Solopos Hari Ini: Aglomerasi Transportasi

Moda transportasi dengan wilayah operasi aglomerasi Soloraya membuka harapan sejumlah pihak, salah satunya pelaku wisata.

Mantap, Vaksinasi PMK Tahap I di Boyolali Selesai

Sebanyak 1.896 dosis telah disuntikkan untuk 1.400 sapi perah dan 500 sapi potong.