Stok Bawang Putih Jateng Tipis, Harus Impor Lagi?
Pedagang bawang putih kating di Pasar Jungke, Karanganyar, Jateng pada Rabu (5/2/2020). (Solopos-Candra Mantovani)

Solopos.com, SEMARANG — Jawa Tengah terancam menghadapi krisis komoditas atau bahan pokok bawang putih. Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Jateng mencatat ketersediaan bawang putih di wilayah ini minus alias tidak mencukupi kebutuhan masyarakan.

“Memang bawang putih kita sempat mengalami surplus pada April 2020 kemarin, atau saat panen. Tapi, setelah itu terus mengalami minus,” ujar Kepala Dishanpan Jateng, Agus Wariyanto, kepada Semarangpos.com—grup Solopos.com, Senin (1/3/2021).

Berdasarkan neraca ketersediaan pangan Jateng tahun 2020, kebutuhan bawang putih masyarakat di provinsi tersebut mencapai 64.106 ton. Sementara, ketersediaan bawang putih hanya sekitar 31.715 ton. “Berarti ada minus sekitar 32.391 ton,” imbuhnya.

Baca Juga: Ini 7 Tips Fengsui Rumah di Tahun Kerbau Logam 2021

Menurut Agus, kebutuhan dan ketersediaan yang tidak sebanding itu harus segera diatasi. Jika tidak segera teratasi bakal menyebabkan inflasi yang berdampak buruk pada perekonomian warga.

Terlebih lagi saat ini harga eceran tertinggi (HET) bawang putih di pasaran sudah mencapai Rp30.000 per kg. “Kondisi ini harus segera diatasi. Apalagi ini juga mau bulan puasa dan lebaran. Kita tunggu kebijakan dari pusat. Apakah nanti mau impor atau ada kebijakan lain,” tutur Agus.

Harus Impor Lagi?

Agus menambahkan masalah ketersediaan bawang putih memang terbilang klasik. Kebutuhan masyarakat tidak bisa dipenuhi dengan produksi dalam negeri. “Bawang putih itu kan tergolong tanaman subtropis. Jadi kurang berkembang di Indonesia,” terangnya.

Baca Juga: 7 Tips Fengsui Lorong Rumah Ini Undang Energi Positif

Di Jateng, lanjut Agus sebenarnya ada beberapa daerah yang menjadi sentra penghasil bawang putih seperti Temanggung, Karanganyar, dan Kabupaten Tegal. Meski demikian, pasokan dari daerah-daerah itu tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Alhasil, pemerintah pun harus melakukan impor ke negara penghasil bawang putih, yakni Tiongkok. Meski demikian, impor tersebut tersendat tahun lalu menyusul pandemi Covid-19 yang melanda Tiongkok.

Selain bawang putih, ada dua komoditas bahan pokok lain yang ketersediaannya di Jateng juga mengalami minus. Dua komoditas itu yakni kedelai dan gula pasir. “Kalau untuk bahan pokok lainnya kita tergolong surplus. Bahkan untuk beras tahun ini surplus sekitar 2,9 juta ton,” ujar Agus.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

Sumber: Semarangpos.com



Berita Terkini Lainnya








Kolom