Solopos Hari Ini: Jaga Solo Damai
Koran Solopos Hari Ini edisi Kamis (17/9/2020) mengulas tentang menjaga Solo damai.

Solopos.com, SOLO--Koran Solopos Hari Ini edisi Kamis (17/9/2020) mengulas tentang menjaga Solo damai.

Penyerangan terhadap anggota Persatuan Setia Hati Terate (PSHT) Parluh 16 di Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Selasa (15/9/2020) dinihari, berbuntut panjang, berbuntut pergerakan massa di Solo.

Semua pihak diminta menahan diri dan menunggu kepolisian mengungkap kasus secara terang.

Sosiolog Universitas Sebelas Maret, Nurhadi menjelaskan kasus penyerangan terhadap anggota kelompok perguruan silat sebagai gejala masyarakat yang kehilangan katup penyelamat kehidupan sosial. Katup penyelamat merupakan mekanisme yang digunakan masyarakat untuk mencegah terjadi letupan apabila terjadi konflik.

Selengkapnya baca E-paper Solopos.

Jadi Tontonan, Wanita Cantik Asal Karanganyar Bersihkan Kali Pepe Solo Akibat Terjaring Razia Masker

Guru Menyapa Siswa di Udara

Pandemi Covid-19 memacu guru di SMPN 2 Ceper berinovasi membikin model pembelajaran jarak jauh (PJJ). Lebih dari sebulan terakhir, guru di sekolah yang dikenal dengan nama Esperda itu menyampaikan materi pembelajaran melalui stasiun radio Gema Suara Esperda (GSE) FM.

Saban Senin-Sabtu mulai pukul 07.30 WIB hingga 14.30 WIB, para guru bergiliran mengudara sesuai jadwal. Suara mereka bisa didengarkan melalui sinyal radio FM 95,6 MHz yang dipancarkan dari studio GSE FM yang berada di dalam sekolah.

Ide menggulirkan pembelajaran melalui siaran radio itu setelah PJJ diterapkan sekitar pertengahan Maret lalu.

Selengkapnya baca E-paper Solopos.

Solo Pilih Isolasi Mikro Kecil

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai 14 September 2020. Kebijakan itu diambil dengan sejumlah pertimbangan, mulai dari kapasitas rumah sakit hingga masih tingginya angka kematian akibat penyakit Covid-19. Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, mengaku tak bisa mengambil kebijakan tersebut karena skalanya terlalu besar. Ia memilih isolasi wilayah skala mikro kecil (Micil).

"Solo ini tidak bisa lockdown PSBB seperti yang diterapkan Jakarta, tanpa dukungan kabupaten sekitar. Karena kan (eks-Karesidenan Surakarta), sentralnya di Solo," kata dia, Selasa (15/9). Rudy, sapaan akrabnya, mengatakan isolasi wilayah micil menyasar keluarga atau lingkungan yang terpapar Covid-19. Selain itu, memperketat protokol kesehatan dan penerapan sanksi pelanggaran.

Selengkapnya baca E-paper Solopos.

Rudy Emoh Terapkan PSBB Di Solo, Ini Alasannya!

Uji Swab Mandiri Sumbang Penambahan, Kasus Positif Covid-19 di Solo Capai 562

Enam warga yang menjalani uji swab mandiri dan dua pasien suspek naik kelas jadi kasus konfirmasi menambah kumulatif kasus Covid-19 di Kota Bengawan menjadi 562 pada Rabu (16/9).

Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, mengatakan seperti kasus-kasus sebelumnya, pihaknya bakal menggelar tracing menyasar seluruh kontak erat dan dekat.

“Sebagai upaya menekan persebaran, tentu kami akan tracing. Nah, yang kami khawatirkan kalau ada ekor yang berlapis seperti klaster lintas keluarga. Makanya untuk sementara yang kondisinya sehat atau asimtomatik wajib karantina mandiri di rumah, kecuali kalau rumahnya tidak memadai, bisa menghubungi kami untuk dirujuk ke rumah sakit (RS),” kata dia, saat dihubungi Espos, Rabu.

Selengkapnya baca E-paper Solopos.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom