Silent City, Membicarakan Kembali Kultur Kreatif Kota Solo...
Potongan adegan film dokumenter Silent City (2018)yang akhirnya dirilis di kanal YouTube Rambo Wadon Video Gangster, Kamis (18/2/2021). (Solopos.com-dok.SilentCity)

Solopos.com, SOLO — Film dokumenter berjudul Silent City (2018) akhirnya diunggah di kanal YouTube Rambo Wadon Video Gangster, Kamis (18/2/2021). Film yang diproduksi Lumban Tobing Films bersama Rambo Wadon Video Gangster, Creative Studio, dan Muara Market ini menjadi kado spesial Kota Solo yang berulang tahun ke-276 pada Rabu (17/2/2021).

“Perilisan film ini sebenarnya direncanakan sejak lama. Pada 2018 lalu setelah screening pertama di bulan Agustus. Lalu Muara Market pindah karena Pasar legi kebakaran. Kami adaptasi dengan tempat baru, mandek karena pandemi, dan baru sekarang ini ada momentumnya,” terang produser Silent City Tatuk Marbudi saat diwawancara Espos, Jumat (19/2/2021).

Apresiasi positif mewarnai perilisan mereka di kanal YouTube. Ada yang meromantisasi ruang kesenian Kota Solo sebelum pandemi, bersemangat untuk kembali berkarya, atau sekadar mengagumi video dokumentasi yang disutradarai Firman Prasetyo dan Co-Producer Andy Susanto tersebut. Setelah ini, Tatuk berharap diskusi soal ruang kreatif Kota Solo tak sekadar wacana. Perubahan bersama Walikota Solo yang baru sangatlah diharapkan. Apalagi dalam kampanyenya Walikota Solo terpilih, Gibran Rakabuming Raka, sering menyampaikan terobosan program khusus milenial.

Baca jugaEmpati Musikus Indie Solo Hidupkan Lagu Anak-Anak

Sementara, film Silent City sendiri berisi curhatan dan kegelisahan anak muda kreatif Kota Solo dari berbagai bidang dengan durasi 42 menit. Tatuk cs mewawancarai mereka yang berpengaruh. Seperti Adia Prabowo (mcdan entertainer), Alib Isa (caligraphy artist), Bani Nasution (filmmaker), Dewadji “Djiwo” Ratriarkha (metalhead), Kusdarmawan Aryo Baskoro (pengusaha muda), serta pengamat dari Dosen Sosiologi FISIP UNS Akhmad Ramdhon.

Cerita Silent City diawali dengan fakta Solo yang selalu dibandingkan dengan Kota Yogyakarta, insecurity pegiat seni Solo yang akhirnya membuat mereka tak berkembang, juga soal kenyamanan kota dilihat dari makanan dan suasananya. Disusul cerita tentang kultur kreatif kota dan upaya survive mereka. Sebagai penengah, ada Ramdhon yang membaca Solo dan anak muda dari latar sejarah budayanya.

Baca juga: Joe Taslim Beraksi di Mortal Kombat, Trailer-nya Keren…

Kegelisahan

“Segala hal yang disuguhkan di sini bisa dibilang adalah hal-hal negatif yang selama ini menghantui kota Solo. budaya-budaya negatif yang justru lebih banyak menghasilkan hal kontraproduktif dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah membudaya di Solo,” jelas Tatuk.

Tujuan utama pembuatan film Silent City adalah mengulas kegelisahan antar bidang kreatif di Kota Solo. Permasalahan itu kemudian bisa jadi bahan diskusi soal pergerakan apa yang bisa dilakukan untuk mendukung pengembangan Kota Solo ke depan. Film diproduksi sekitar pertengahan 2018. Diputar perdana pada Agustus bertepatan dengan ulang tahun ke-2 Ruang Kreatif Muara Market. Tiga bulan kemudian Pasar Legi kebakaran yang akhirnya membuat Muara Market harus dipindah. Rencana pemutaran film mandek sampai hari ini.

Kendati tertunda tiga tahun, tema film Silent City mereka masih dianggap related dengan kebutuhan sekarang. Menurut Tatuk sekarang ini yang mereka butuhkan adalah ruang yang representatif, mendukung kreativitas, dan kemudahan akses. “Ya semoga program Walikota yang baru nanti enggak hanya terjebak di seremonial,” kata Tatuk.

 

 



Berita Terkini Lainnya








Kolom