Puncak Gunung Merapi terlihat dari Deles, Klaten, Rabu (30/1/2019) dini hari. (Solopos-Burhan Aris Nugraha)

Solopos.com, BOYOLALI -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali rutin menggelar gladi lapang di beberapa wilayah yang berpotensi terdampak erupsi Gunung Merapi seperti Klakah dan Tlogolele. Hal itu sebagai salah satu upaya meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana letusan Merapi.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Boyolali, Bambang Sinungharjo, mengatakan BPBD juga telah menandatangani MoU sister village (desa saudara) untuk keperluan evakuasi.

"Ada dua desa yang telah dipersiapkan untuk evakuasi bencana Merapi bagi warga Selo. Keduanya berada di wilayah Kabupaten Magelang. Di Tlogolele BPBD juga membangun fasilitas dapur serta MCK untuk keperluan pengungsian sementara," ujarnya, Minggu (22/9/2019).

Diberitakan, luncuran awan panas Gunung Merapi kembali terjadi Minggu kemarin. Seperti ditulis dalam akun Twitter resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) @BPPTKG, awan panas terekam di seismogram dengan amplitudo (simpangan terjauh) 70 mm selama kurang lebih 125 detik dan jarak luncuran 800 meter. Luncuran awan panas ini terpantau dari sejumlah wilayah di lereng Merapi, salah satunya di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali.

Sekretaris Desa Tlogolele, Neigen Achtach, menyebutkan meski Merapi kembali menyembutkan awan panas, namun aktivitas masyarakat masih berjalan normal. “Kami masih bekerja, memasak, mencuci, dan aktivitas rumah tangga lain,” tutur Neigen kepada solopos.com, Minggu siang. Neigen juga menginformasikan tidak ada hujan abu di wilayah Tlogolele hingga Minggu sore.

Dia menambahkan jarak 800 meter termasuk pendek bagi warga Tlogolele. Pasalnya Dusun tertinggi yakni Stabelan berjarak sekitar 3 km dari puncak Merapi. Itu artinya dusun tersebut masih aman dari bencana erupsi.

“Lagipula sejak ditetapkan berstatus waspada, warga desa beberapa kali diberi pelatihan kebencanaan, sehingga bisa lebih tenang dalam menghadapi keadaan,” imbuh Neigen.

Terpisah, Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan guguran awan panas kali ini didahului dengan letusan gas, atau lazim disebut Awan Panas Letusan (APL). Berbeda dengan awan panas guguran (APG), APL disebabkan oleh runtuhnya material kubah lava akibat tekanan gas dari dalam.

Sementara APG disebabkan runtuhnya kubah lava baru tanpa kecepatan yang signifikan. “Aktivitas gunung masih menyuplai magma dan gas vulkanik secara kontinu, karena dinamika tekanan gas tersumbat dan terakumulasi yang kemudian keluar sebagai awan panas,” terang Hanik.

Peningkatan tekanan gas terdeteksi dari Gempa Multiphase (MP) sebanyak 29 kali sejak pukul 00.00 WIB-12.00 WIB. Ditambah 14 kali gempa embusan. Hanik menyebut jumlah ini tergolong tinggi dan merepresentasikan peningkatan intensitas pelepasan gas vulkanik

“Sementara satu jam menjelang letusan ada kenaikan suhu sekitar 100 derajat Celcius di beberapa titik di sekitar kubah,” imbuh Hanik.

Hanik menambahkan baik APG maupun APL masih akan terjadi mengingat suplai magma dan gempa terus berlangsung di dalam kubah lava. Hasil pemodelan juga menunjukkan jika kubah lava yang saat ini bervolume 461.000 m3 runtuh, luncuran awan panas tidak melebihi 3 km. Sementara itu, Merapi tetap ditetapkan dalam status waspada sejak 21 Mei 2018 lalu.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten