Setahun Terakhir 20 Orang Bunuh Diri di Sragen, Ini Imbauan FKUB
Ilustrasi korban bunuh diri (Dok. Solopos)

Solopos.com, SRAGEN -- Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Sragen mendorong peran serta masyarakat dalam menekan angka bunuh diri. Dalam setahun terakhir, terdapat sekitar 20 kasus bunuh diri di Kabupaten Sragen.

Wakil Ketua FKUB Sragen, Moechtingudin, mengatakan tingginya angka kasus bunuh diri di Kabupaten Sragen menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama.

Tidak hanya pihak keluarga, pemerintah daerah, FKUB hingga tokoh agama dan tokoh masyarakat juga punya tugas yang sama untuk menekan kasus bunuh diri di Sragen.

Sekolah Tatap Muka di Sragen Segera Dimulai, Siswa Masuk Digilir

Caranya ialah dengan mengampanyekan bahwa tindakan bunuh diri itu merupakan dosa besar.

“Dalam waktu dekat, FKUB akan terjun ke masyarakat. Empat pengurus eks kawedanan di Sragen kami minta untuk terjun ke masyarakat,” ujar Moechtingudin kepada Solopos.com, Jumat (14/8/2020).

"Ada banyak PR yang dititipkan kepada FKUB. Termasuk di dalamnya upaya pencegahan kasus bunuh diri. Semua tokoh masyarakat dan tokoh agama diharapkan memberikan tausiyah dengan tema pencegahan tindakan bunuh diri," kata dia.

Punya Kain Goyor dan Batik, UMKM Sragen Didorong Go International

Moechtingudin menilai kasus bunuh diri bisa terjadi karena faktor situasional. Karena dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan, seseorang mengalami gejolak emosi yang berlebihan.

Hal itu yang membuat warga nekat menghabisi nyawanya sendiri dengan cara gantung diri atau pakai cara lain seperti terjun ke sungai, menenggak racun, hingga menabrakkan diri ke kereta api.

Mencarikan Solusi Masalah

Masyarakat diharapkan bisa mengambil peran bila menyadari ada warganya yang mengalami gejolak emosi berlebihan.

“Sebisa mungkin jangan sampai ada gejolak emosi yang berlebihan. Segera redam dengan mencarikan solusi atas masalah yang dihadapi seseorang,” ucapnya.

3 Terdakwa Kasus Korupsi RSUD Sragen Dituntut 18 Bulan Bui

Selain masalah bunuh diri, FKUB juga mendapat PR untuk turut mengampanyekan pencegahan bertambahnya kasus HIV-AIDS di Bumi Sukowati.

Dalam catatan Solopos.com, jumlah kasus HIV/Sragen sudah berada di kisaran 1.300 terhitung sejak 2000. Data hingga Maret 2020, jumlah kasus meninggal dunia karena AIDS di Sragen mencapai 136 orang.

"Masyarakat juga perlu diedukasi. Kalau ada pengidap HIV/AIDS yang meninggal dunia ya jangan takut. Jangan sampai jenazah itu dikembalikan ke rumah sakit. Kalau ada orang meninggal, hukumnya fardu kifayah. Tidak betul kalau jenazah itu ditolak masyarakat karena takut tertular," papar Moechtingudin.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom