Seiring Bertambahnya Usia, Risiko Buruk Konsumsi Makanan Pedas Lebih Terasa?
Ilustrasi makanan pedas (orichinese.com)

Solopos.com, JAKARTA- Saat usia masih muda setelah makan mi pedas atau menyantap makanan dengan level pedas tingkat tinggi mungkin tidak mengganggu sistem pencernaan Anda sedikit pun.

Namun, seiring bertambahnya usia, Anda bahkan mungkin harus mempertimbangkan kembali menyantap hidangan pedas jika tidak ingin langsung ke kamar mandi setelahnya. Ini bukan semata perkara bibir, lidah, dan mulut yang merasa "tertendang" saat Anda makan sajian pedas.

Tetapi juga ada reseptor di seluruh saluran gastrointestinal (GI) yang dapat mendeteksi capsaicin, bahan kimia dalam cabai, paprika, dan berbagai bahan pedas, menciptakan sensasi terbakar.

Demikian dijelaskan Dr. Andrew Ong, konsultan di Departemen Gastroenterologi & Hepatologi di Singapore General Hospital seperti dilansir Antaranews, Selasa (15/9/2020).

Menurutnya, inilah alasan Anda mungkin merasakan sakit perut, diare, dan sensasi panas di perut dan bahkan rasa seperti terbakar di anus sehari setelah makan malam dengan hidangan pedas. Diare terjadi karena reseptor pendeteksi capsaicin juga ditemukan di usus kecil serta usus besar dan reseptor ini juga dapat merasakan sensasi seperti terbakar

Sebagai mekanisme pertahanan, reseptor bekerja keras untuk mengeluarkan makanan pedas dari Anda dengan cepat.

Tetapi karena material limbah bergerak sangat cepat melalui usus besar, maka usus tidak ada cukup waktu untuk melakukan tugasnya yakni menyerap air dari limbah. Hasilnya, feses encer yang dikenal sebagai diare.

Sebagian SD Di Solo Gelar Penilaian Tengah Semester Secara Luring, Ini Sebabnya

Alasan Diare Usai Makan Pedas

Orang berusia menengah lebih cenderung memulai pengobatan untuk penyakit kronis seperti kolesterol dan tekanan darah tinggi. “Beberapa efek samping dari obat-obatan ini juga dapat mengiritasi saluran pencernaan dan membuat pasien lebih sensitif terhadap efek makanan pedas," kata Ong seperti dilansir Channel News Asia.

Kedua, jika Anda bagian dari Generasi Sandwich, Anda mungkin berada dalam tekanan. Ini bisa menjadi alasan Anda lebih mungkin sakit perut bahkan dengan sedikit sambal. “Penelitian menunjukkan, stres menurunkan ambang nyeri pada saluran pencernaan. Jadi, pasien yang mengalami situasi stres lebih cenderung merasakan gejala,” tutur Ong.

Kemungkinan lainnya, bisa jadi kurang terpapar makanan pedas bertahun-tahun dan karena itu memiliki toleransi yang lebih rendah saat mengonsumsinya.

Solusi

Pengobatan terbaik konsumsi makanan pedas secukupnya, terutama jika Anda mengalami gejala parah usai menyantapnya. Jika ketidakmampuan Anda mentoleransi cabai karena tak terbiasa, berikan tubuh Anda waktu untuk beradaptasi lagi.

“Anda mungkin bisa menurunkan kepekaan diri dengan mengonsumsi makanan pedas secara teratur selama beberapa waktu; ini, bagaimanapun, tergantung pada toleransi Anda terhadap gejala yang muncul," saran Ong.

Perlukah antasida untuk mengatasi luka bakar di usus? Beberapa penelitian menunjukkan, capsaicin dapat mendorong produksi asam di perut dan hanya ada sedikit bukti antasida membantu. Meskipun efek menenangkan dari antasida dapat membantu mengurangi beberapa ketidaknyamanan.

Menurut Ong, Anda mungkin lebih baik minum obat seperti omeprazole untuk mengurangi produksi asam. Tapi obat ini bekerja paling baik hanya jika diminum setengah jam sebelum makan.

September Ini, Pedagang Pasar Tradisional Solo Kembali Harus Bayar Retribusi

Benarkah Makan Pedas Sebabkan Maag?

Di sisi lain, makanan pedas sering dikaitkan sebagai penyebab maag. Namun ilmuwan nutrisi Dr Matthew Blaylock, PhD membantah mitos yang menyebutkan bahwa makanan pedas bisa menyebabkan radang lambung atau maag.

"Makanan pedas sebabkan maag itu cuma mitos, maag itu justru disebabkan makanan tercemar oleh bakteri ganas bernama Helicobacter pylori," ujar ilmuwan nutrisi sekaligus dosen pascasarjana Universitas Ciputra Surabaya, Matthew Blaylock, di Jakarta seperti dilansir Antaranews belum lama ini.

Matt mengatakan, Helicobacter pylori itu sejenis bakteri yang masuk ke dalam lambung dan bisa menghilangkan lapisan mukosa dalam lambung.

Akibatnya lambung menjadi radang atau bisa lebih parah menjadi tukak lambung.

Manfaat Yogurt

Di dalam presentasinya seputar manfaat dan kebaikan yogurt di Artotel Jakarta, beberapa waktu lalu Matt  menyarankan pentingnya mereka yang mengalami sakit maag agar mengonsumsi yogurt.

"Konsumsi yogurt bisa menghilangkan sakit maag karena kandungan bakteri baik dalam yogurt bisa melawan bakteri yang ganas (h. pylori) sehingga bisa mengembalikan keseimbangan yang dibutuhkan tubuh," jelas Matt.

Matt juga menampik adanya pendapat bahwa kandungan asam pada yogurt memperburuk penyakit maag.

"Justru bagi penderita maag ringan, konsumsi yogurt 500 mililiter per hari sudah cukup mengatasi masalah penyakit maag ringan," ujarnya

Sebab, menurut berbagai penelitian, bakteri Bifidobacterium, Lactobacillus acidophilus dan Lactobacillus casei dalam yogurt dapat lolos dari asam lambung dan mencapai usus besar serta berkembang biak menekan pertumbuhan bakteri jahat, sehingga pencernaan menjadi lebih sehat.

Namun jika sakit maag tergolong parah, Matt mengatakan, dokter akan menyarankan penderita untuk mengonsumsi obat jenis antibiotik.

Sumber: Newswire



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom