Salim Said Nilai Mega Tak Tulus Dukung Jokowi

Salim menilai Megawati mendukung Jokowi karena tidak ada pilihan lain mengingat elektabilitas politikus asal Solo itu pada 2014 tak terbendung.

 Pengamat politik dan militer, Salim Said (kanan). (Antara)

SOLOPOS.COM - Pengamat politik dan militer, Salim Said (kanan). (Antara)

Solopos.com, JAKARTA — Pengamat politik dan militer, Salim Said, menulis buku yang berisi kritikan untuk Presiden Jokowi, berjudul Jokowi Menghadapi Debt Collector. 

Dalam buku tersebut, Salim Said menyebut Jokowi dikuasai beberapa kekuatan besar di sekitarnya yang berpengaruh kepada kebijakan-kebijakan yang diambil.

Promosi36 Tahun Lalu Diturunkan People Power, Dinasti Marcos Kembali Berkuasa

Salah satu kekuatan besar itu berasal dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Salim menyebut Megawati tidak tulus mendukung Jokowi sebagai Presiden RI.

Dalam perbincangan di kanal Youtube Akbar Faisal Uncencored, Salim yang mengalami masa pemerintahan sejak Orde Lama mengatakan dirinya berbincang dengan banyak tokoh senior PDIP, salah satunya mendiang Sabam Sirait.

Baca Juga: Megawati Kritik Jokowi Tapi Tetap Membela

“Saya berbicara dengan tetua-tetua PDIP, yang paling menonjol Sabam Sirait. Dia sangat terbuka, kami saling tukar informasi. Dia bilang hasil survei (2014) jika Mega menghadapi Prabowo akan kalah. Ke saya dia (Sabam) cerita ‘Sudahlah Mega, kau tidak terpilih, kau dukung saja Jokowi’,” ujar Salim menirukan ucapan almarhum Sabam Sirait seperti dikutip Solopos.com, Jumat (28/1/2022) malam..

Salim menilai Megawati mendukung Jokowi karena tidak ada pilihan lain mengingat elektabilitas politikus asal Solo itu pada 2014 tak terbendung.

Kondisi ini, menurutnya, menjadi tekanan besar bagi Jokowi selain dari sejumlah kekuatan lain yang ia sebut sebagai oligarki.  “Mega terpaksa mendukung Jokowi, tidak pernah ikhlas. Lihat saja ucapan-ucapannya misalnya si kurus. Bagi seorang pelajar politik itu statement politik. Ingat saat ada anggota PDIP, Mega tidak membela Jokowi,” nilainya.

Berdasarkan catatan Solopos.com, Presiden Ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri dan sejumlah petinggi PDIP kerap mengritik kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu terakhir.

Baca Juga: Megawati Kritik Banyak Daerah Lamban Tangani Bencana

Namun Megawati menegaskan tetap berada di belakang murid politiknya tersebut. Putri Bung Karno itu bercerita tentang dirinya menangis karena membela Jokowi.

Megawati menyebut Jokowi terus memikirkan rakyatnya bahkan sampai badannya kurus.

Awalnya, Mega berbicara terkait dirinya pernah mengunjungi Indonesia hingga pelosok yang orang-orang jarang mendengar nama daerahnya.

Dia pun menantang Jokowi untuk melakukan hal serupa.

“Saya sampe bilang ke Presiden ‘Bapak kita tarohan yo, Bapak sudah pernah ke Dobo?’ Beliau belum, makanya saya tagih janji, Dobo itu kecil, di daerah Kepulauan Maluku itu, saya pernah ke Tobelo, Jailolo,” kata Megawati dalam tayangan di YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (18/8/2021).

Megawati melakukan blusukan ke daerah pelosok itu ketika memimpin Indonesia. Hal itu dilakukan Megawati karena sebagai pemimpin harus turun ke bawah melihat nasib rakyatnya.

Baca Juga: Megawati Kritik Minimnya Sosialisasi Hak Paten

Lalu, dia pun menyinggung soal Jokowi berbadan kurus. Megawati siap membela Jokowi sekalipun di-bully banyak orang.

“Seperti sekarang beliau, saya sampe Pak Jokowi saya tangisi kenapa? Mikiri rakyat sampe badannya kurus, dan saya tidak terima bapak. Biar saja saya mau di-bully saya nggak takut, saya bilang saya dukung Pak Jokowi, mau di-bully 1.000 kali saya nggak takut,” ucapnya.

Megawati menyebut dalam merekrut pemuda-pemudi menjadi duta Pancasila tak sembarangan.

Ada sejumlah syarat yang mesti dimiliki para kader duta Pancasila, jika tidak bisa melaksanakannya diminta mundur lebih awal.

“Karena ndak mau karena mungkin ya ini kan hanya sebuah pekerjaan, ini kaderisasi politik, kalau ndak mau ya ndak popo, tapi mundur, tidak ikut duta Pancasila. Siapa mau daftar karena akan digembleng. Gemblengannya itu syaratnya adalah turun ke bawah ketemu sama rakyat, tanya penderitaannya,” ujarnya.

“Sanggupnya tapi jangan setengah hati, maka, kalau ndak sanggup sorry saya ndak siap mundur, mangga jangan jadi duta Pancasila. Ini bukan kerja gampang,” tambahnya.

Baca Juga: Salim Said Menilai Isu PKI Muncul Karena Khawatir Pelurusan Sejarah

Salim Said menilai Jokowi saat ini dikuasai oligarki. Akibat dikuasai oligarki itu, kata dia, Jokowi tidak leluasa berbuat yang terbaik untuk rakyat.

“Jokowi berutang banyak kepada kekuatan oligarki. Apa yang dihadapi Jokowi adalah pengutang-pengutang yang mengutanginya menjadi Presiden,” ujar pemikir yang hidup di tiga zaman sejak Orde Lama itu.

Wartawan senior itu memberi contoh, salah satu bentuk ketidakberdayaan Jokowi menghadapi oligarki adalah diberikannya kekuasaan yang sangat besar kepada Luhut Binsar Panjaitan.

Selain menjabat sebagai Menteri Kooordinator Maritim dan Investasi, Luhut juga mendapat banyak pekerjaan teknis seperti koordinator penanganan Covid-19 hingga proyek kereta cepat Bandung-Jakarta.

Baca Juga: Salim Said Menilai Isu PKI Muncul Karena Khawatir Pelurusan Sejarah

“Tindakan Jokowi yang aneh misalnya memberi kekuasaan yang besar kepada Luhut. Itu harus dilihat sebagai orang-orang tersebut sedang menagih utang kepada Jokowi,” ujarnya.

Penulis sejumlah buku militer dan politik itu menyebut kondisi demokrasi di Indonesia saat ini sangat buruk, bahkan mendekati era Orde Baru.

Pasalnya politik pemerintahan telah mencapai 82% dan tinggal menyisakan PKS dan Partai Demokrat sebagai oposisi.

“Kondisi sekarang tidak bagus, nyaris tidak ada oposisi. Prabowo dan Sandiaga Uno mengejutkan buat saya, bagaimana perasaan pendukung mereka yang dulu berjuang. Itu ada pimpinan PAN yang dulu ikut berjuang bersama Amien Rais tiba-tiba ikut ke pemerintahan. Itu kan parah, moral saja tidak ada,” katanya.

Baca Juga: Salim Said Sebut SBY Awali Kudeta Partai Demokrat, Mengapa?

Salim Said menuding saat ini Jokowi sedang mempraktikkan KKN yang menjadi musuh bagi reformasi. Praktik ini bisa terjadi karena secara politik, kekuatan pemerintahan hampir menyentuh angka 90 persen.

“Anak dan menantunya bisa menjadi wali kota ya karena dukungan dari partai-partai politik tadi. Ini bukan contoh yang baik. Reformasi kan melawan KKN, lah ini kok terang-terangan dipraktikkan. Anaknya (Gibran Rakabuming Raka) cuma punya pengalaman jualan martabak bisa jadi wali kota. Menantunya yang Medan tidak pernah terdengar tiba-tiba jadi wali kota. Ini konsolidasi yang melukai demokrasi di Indonesia,” sesalnya.

 

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

Pencapaian SDGs Desa Langkah Penting Mengatasi Kemiskinan Ekstrem

+ PLUS Pencapaian SDGs Desa Langkah Penting Mengatasi Kemiskinan Ekstrem

Pencapaian Tujuan Pembangunan Desa Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Desa menjadi bagian penting dari strategi mengatasi masalah kemiskinan ekstrem di Indonesia.

Berita Terkini

Ini Respons AHY soal Koalisi Indonesia Bersatu Golkar, PAN dan PPP

Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan partainya tidak tergesa-gesa dalam menyikapi pembentukan Koalisi Indonesia Bersatu.

Pencapaian SDGs Desa Langkah Penting Mengatasi Kemiskinan Ekstrem

Pencapaian Tujuan Pembangunan Desa Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Desa menjadi bagian penting dari strategi mengatasi masalah kemiskinan ekstrem di Indonesia.

Solopos Hari Ini: Sinyal Batal Naik

Nilai keekonomian bahan bakar minyak (BBM) terus melambung. Meski demikian, belum ada tanda-tanda pemerintah memutuskan kenaikan harga BBM di dalam negeri, khususnya Pertalite dan solar.

Kata-kata Ucapan Hari Kebangkitan Nasional yang Diperingati 20 Mei

Berikut ini terdapat rekomendasi 10 kata-kata ucapan selamat Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati pada 20 Mei setiap tahunnya.

Sastra di Solo, Ekspor Serat Nanas, Lubang Hitam, dan Elektabilitas

Kota Solo pernah menjadi pesemaian sastra patriotik dan revolusioner. Yang dimaksud revolusioner adalah mendobrak penjajahan dari segala segi yang mungkin.

Kota Solo Pernah Jadi Pesemaian Sastra Patriotik dan Revolusioner

Kota Solo pernah menjadi pesemaian sastra patriotik dan revolusioner. Yang dimaksud revolusioner adalah mendobrak penjajahan dari segala segi yang mungkin.

7 Orang Meninggal, Ini Kronologi Kecelakaan di Jl. Purwasari Karawang

Polisi mengungkap kronologi kecelakaan maut yang menyebabkan tujuh orang meninggal di Jl. Raya Purwasari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada Minggu (15/5/2022).

Kecelakaan Maut di Jl. Raya Purwasari Karawang, 7 Orang Meninggal

Sebanyak tujuh orang meninggal dunia dan sepuluh orang lainnya luka-luka dalam peristiwa kecelakaan di Jl. Raya Purwasari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Minggu (15/5/2022).

Beri Dukungan Airlangga Jadi Capres, Begini Penjelasan Ridwan Kamil

Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pertemuannya dengan Ridwan Kamil yang berlangsung sekitar 30 menit itu juga diwarnai guyonan-guyonan.

Pengamat: Koalisi Golkar, PAN, dan PPP Tinggal Tentukan Capres-Cawapres

Qodari melihat ini adalah koalisi yang paling nyata hari ini menuju 2024 karena gabungan ketiga parpol sudah memenuhi syarat pencalonan Pilpres 2024 mendatang.

Terkait Pilpres, Ridwan Kamil Ungkap Dukungan untuk Airlangga

Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto menerima silaturahim Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Minggu (15/5/2022).

14 Orang Meninggal Laka Bus di Tol Surabaya, Ini yang Dilakukan Pemkot

Pemkot Surabaya membantu menyiapkan pemakaman warga Kelurahan Benowo, Kecamatan Pakal yang menjadi korban kecelakaan bus di Tol Surabaya-Mojokerto atau Tol Sumo pada Senin (16/5/2022).

Tak Kuat Nanjak, Mikrobus Bawa Rombongan Warga Hantam 2 Mobil di Bantul

Kecelakaan yang melibatkan tiga kendaraan terjadi di Jalan Raya Imogiri-Dlingo, tepatnya di Dusun Sukorame, Kalurahan Mangunan, Kapanewon Dlingo, Bantul.

14 Nyawa Melayang di Tol Surabaya, Sopir Bus Diduga Mengantuk

Kecelakaan Bus Ardiansyah di KM 712+400 jalur A Tol Surabaya - Mojokerto (Sumo), Jawa Timur, pada Senin (16/5/2022) pagi sekitar pukul 06.15 WIB mengakibatkan 14 nyawa melayang

Berkoalisi dengan Golkar dan PPP, Sekjen PAN: Tidak Ada Inisiator

Sekjen PAN Eddy Soeparno menyebut tidak ada inisiator terkait pembentukan Koalisi Indonesia Bersatu yang terdiri dari PAN, Golkar dan PPP.