Seorang guru melihat kondisi atap ruang Kelas VII-D yang rusak akibat kebakaran di SMPN 2 Sambirejo, Sragen, Rabu (18/9/2019). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Sebanyak 32 siswa Kelas VII-D SMPN 2 Sambirejo, Sragen, terpaksa pindah belajar di ruang kelas lain setelah ruang kelas mereka terbakar pada Selasa (17/9/2019).

Mereka menempati ruang Kelas VIII-E. Sementara siswa Kelas VIII-E yang jumlahnya 22 orang disebar untuk mengikuti KBM di empat kelas lain, yakni Kelas VIII-A, VIII-B, VIII-C, dan VIII-D.

Kepala SMPN 2 Sambirejo, Sragen, Tri Priyadi, saat ditemui Solopos.com, Rabu (18/9/2019) siang, mengatakan ruang laboratorium IPA yang semula akan digunakan siswa Kelas VII-D ternyata sudah digunakan para siswa Kelas VII-E yang ruang kelasnya tidak layak dan membahayakan. Kuda-kuda atapnya melengkung ke bawah dan terancam roboh.

Tri menerangkan penempatan siswa itu berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan para guru pada Rabu (18/9/2019) untuk menyikapi kebakaran di sekolah setempat sehari sebelumnya. Dia memastikan kegiatan belajar mengajar untuk semua siswa di SMPN 2 Sambirejo yang jumlahnya 400-an anak berjalan lancar.

“Kerugian akibat kebakaran setelah dihitung tidak sampai Rp300 juta tetapi berkisar Rp100 juta-Rp200 juta. Ruang yang terbakar hanya di ruang Kelas VII-D, kamar mandi siswa, dan gudang. Atap ruap laboratorium komputer itu rusak karena untuk antisipasi kebakaran agar tidak merembet," jelas Tri.

Kebakaran itu terekam kamera CCTV sehingga tidak ada api yang merembet ke gedung lain tetapi hawa panas api yang berkobar besar di utara sekolahan itu berdampak pada melelehnya kabel listrik di sekolah.

Dia menyampaikan kabel yang meleleh itu memicu terjadi korsleting sehingga terjadi api memercik dan membakar kayu di bawah kerpus atap. Tri segera membuat laporan kronologi kebakaran itu kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen agar segera ada bantuan perbaikan akibat musibah kebakaran itu.

Dia berharap ruang Kelas VIII-E yang tidak layak itu juga dapat bantuan dari pemerintah. “Ruang Kelas VIII-E yang rusak itu sudah jauh hari dilaporkan tetapi belum ada respons bantuan rehabilitasi. Justru kami mendapat bantuan dana alokasi khusus [DAK] senilai Rp200 juta untuk pembangunan ruang guru dan ruang tata usaha pada 2019. DAK itu sampai September ini juga belum turun,” ujarnya.

Ruang Kelas VIII-E itu dibangun pada 1996. Dindingnya sudah retak-retak. Para guru tidak berani menggunakan ruang itu untuk kegiatan belajar atau aktivitas siswa lainnya.

Sedangkan untuk ruang Kelas VII-D yang terbakar juga tertutup rapat. Material genting masih tercecer di lantai. Sementara ruang laboratorium komputer sudah bersih tetapi gentingnya yang rusak.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten