Potensi Pendapatan Miliaran Rupiah Hilang, Bisnis Pariwisata di Wonogiri Kian Terpuruk
Wisata Pasar Doplang Slogohimo, Wonogiri tetap terawat meski tutup lebih dari sembilan bulan akibat terdampak pandemi Covid-19. Foto diambil, Minggu (24/1/2021). (Istimewa)

Solopos.com, WONOGIRI — Bisnis pariwisata di Wonogiri semakin berat seiring masih berlanjutnya masa penutupan tempat wisata akibat terdampak pandemi Covid-19.

Potensi pendapatan miliarah rupiah menguap. Pengelola tempat wisata yang baru buka gagal mencapai target untuk menutup modal. Pengelola swasta dinilai paling berat menghadapi kondisi ini.

Pengelola Wisata Pasar Doplang Slogohimo, Wonogiri, Abdul Wahid Ahmadi, mengatakan keterpurukan bisnis pariwisata masih akan berlanjut. Kabar terbaru pemerintah melanjutkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM selama dua pekan setelah PPKM pertama 11-25 Januari 2021 berakhir.

Baca Juga: 2 Acara Hajatan Dibubarkan Tim Cipta Kondisi Solo, Lurah Ngaku Kecolongan

Selama 2020 lalu tempat wisata di Desa Pandan yang khusus menyajikan berbagai kuliner dan penganan tradisional setiap Minggu itu hanya buka Januari-pekan ketiga Maret. Setelah Covid-19 mewabah tempat wisata yang berdiri di lahan 3.500 m2-4.000 m2 tersebut tutup pada 22 Maret hingga akhir tahun atau selama lebih dari sembilan bulan.

Abdul menyebut potensi pendapatan pedagang dan pengelola yang hilang selama tutup mencapai miliaran rupiah. Potensi pendapatan setiap bulan yang hilang mencapai lebih dari Rp144 juta. Angka itu diperoleh berdasar penghitungan kasar dengan patokan pendapatan rata-rata minimal pada kondisi normal, yakni lebih kurang Rp36 juta/buka sepekan sekali.

Sebenarnya, pendapatan setiap pekan sering mencapai Rp40 juta-Rp50 juta. Apabila dihitung berdasar pendapatan maksimal setiap pekan, yakni Rp50 juta, pendapatan bulanan bisa mencapai lebih kurang Rp200 juta.

“Usaha pariwisata semakin berat. Apalagi tidak bisa diketahui pandemi Covid-19 kapan akan berakhir,” kata Abdul saat dihubungi Solopos.com, Minggu (24/1/2021).

Pengelola Doplang sempat optimistis sektor wisata bakal bisa bangkit saat Pemkab mulai membolehkan tempat wisata dibuka, akhir November 2020 lalu, meski dengan syarat dan pembatasan tertentu. Pengelola dan pedagang sangat antusias menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut pengunjung.

Kegiatan

Bahkan, pengelola sampai bekerja sama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) untuk menggelar kegiatan bertema seni budaya. Sedianya kegiatan itu digunakan sebagai simbolisasi Doplang siap memulai era baru yang lebih baik.

Namun, rencana itu gagal terealisasi setelah Pemkab kembali melarang tempat wisata dibuka, sebagai respons melonjaknya kasus Covid-19. Abdul dapat memahami kondisi tersebut, sehingga memutuskan batal membuka Doplang. Kemudian muncul PPKM yang membuat Pemkab memperpanjang masa penutupan tempat wisata.

“Walau begitu pedagang tetap kompak. Pedagang ada 66 orang yang aktif. Mereka bekerja bakti sepekan sakali secara bergiliran antarkelompok. Jadi, Doplang tetap terawat,” imbuh Abdul.

Baca Juga: Exalos Evakuasi 2 Ular Piton, Salah Satunya Di Kantor Samsat Solo

Terpisah, Manajer Kitagawa Pesona Bali Sidoharjo, Lukman Budi Prasetyo, menyampaikan usaha wisata di tengah pandemi Covid-19 ini kian berat karena sama sekali tak mendapat pemasukan selama tutup. Potensi pendapatan besar yang mestinya diperoleh hilang begitu saja.

Sebelum Covid-19 mewabah, pendapatan Kitagawa mencapai lebih kurang Rp22 juta/pekan atau Rp88 juta/bulan. Dengan estimasi itu pengelola manargetkan modal bisa kembali setelah dua tahun tempat wisata beroperasi.

“Pemilik membuka Kitagawa kali pertama pada 25 Desember 2019. Modal awal Rp2 miliar. Ditarget bisa kembali modal dalam waktu dua tahun. Tapi kemungkinan besar target tak bisa tercapai karena baru lebih kurang tiga bulan beroperasi ada pandemi Covid-19 dan entah sampai kapan kondisi ini akan berakhir,” ucap Lukman.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom