Tutup Iklan
Ilustrasi produk mebel (Dok/JIBI/SOLOPOS)

Solopos.com, SOLO -- Kota Solo Solo disebut sebagai daerah potensial untuk pasar ekspor beberapa komoditas. Beberapa produk yang rutin mengisi pasar ekspor di antaranya adalah batik, mebel kayu, tekstil dan produk tekstil.

Berdasarkan data dari Dinas Perdagangan Kota Solo, realisasi ekspor pada semester pertama 2019 mencapai sekitar US$23 juta dengan volume sekitar 4,52 juta kg. Realisasi tersebut berasal dari beberapa komoditas.

Di antaranya adalah batik, mebel kayu, mebel rotan, kantong plastik, tekstil dan produk tekstil (TPT), biskuit, kartu ucapan, perabotan kayu, cerutu, gula kelapa, peralatan kantor, dan sebagainya.

Kasi Perdagangan Luar Negeri Dinas Perdagangan Solo, Endang Kurnia Maharani, mengatakan jenis komoditas dan tujuan ekspor secara umum masih sama dengan tahun lalu.

"Untuk komoditas kurang lebih masih sama, ada batik, mebel, dan sebagainya," kata dia kepada solopos.com, Senin (21/10/2019).

Sedangkan memasuki bulan Juli, nilai ekspor yang tercatat sekitar US$3,35 juta dengan volume sekitar 1,013 juta kg.

Pada 2018 lalu realisasi ekspor Solo mencapai US$44,126 juta. Nilai tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$30,252 juta.

Realisasi ekspor di 2018 berasal dari 15 jenis komoditas, di antaranya adalah arang, batik, biskuit, cerutu, gula kelapa, kantong plastik, kartu ucapan, kerajinan rotan, mebel kayu, mebel rotan, mesin, minuman rempah kemasan, perabotan kayu, peralatan kantor serta tekstil, dan produk tekstik.

Dari semua komoditas tersebut, terdapat empat jenis komoditas yang mencapai nilai tertinggi, yaitu tekstil dan produk tekstil, batik, kantong plastik dan mebel kayu.

Tekstil dan produk tekstil menduduki nilai tertinggi, yaitu US$20.955.183,11. Batik mencapai nilai US$8.951.706,66. Kantong plastik mencapai nilai US$6.409.969,16. Sedangkan mebel kayu senilai US$4.155.187,93.

Wakil Ketua Bidang Organisasi DPP Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo), David R. Wijaya, mengatakan secara nasional ekspor mebel tercatat US$1,7 miliar.

Dari jumlah itu, Jawa Tengah menguasai hampir 50%. Sedangkan kawasan Soloraya memiliki kontribusi sekitar 35% dari potensi Jawa Tengah.

"Jadi secara potensi, Soloraya cukup besar. Cukup lengkap, ada metal, kayu, rotan dan sebagainya. Hampir sama dengan Jepara. Hanya beda segmen dan jenis," kata dia kepada solopos.com, Senin.

Namun untuk produksi, kebanyakan ada di wilayah sekitar Kota Solo.

"Jika ada izin di Solo, lebih banyak untuk galeri atau kantor," terang dia.

Selain dari potensi mebel, David menyebut Soloraya memiliki potensi ekonomi yang cukup bagus. Bahkan ketika muncul wacana Soloraya sebagai sebuah provinsi, David menyebut potensi ekonomi di Soloraya sudah cukup memenuhi.

"Dari sisi jumlah penduduk, perputaran uang, infrastruktur dan sebagainya, sudah mencukupi. Ada bandara, terminal, tol dan sebagainya. Termasuk keberadaan perbankan, hotel dan sebagainya. Pertanian juga mendukung. Satu daerah dengan daerah lain saling mendukung melalui potensi masing-masing daerah," lanjut dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten