Petani dan Ibu-Ibu di Wonoboyo Klaten Cuma Butuh 1 Jam Olah Sampah Jadi Kompos
Petani dan ibu rumah tangga (IRT) di Wonoboyo, Jogonalan belajar membuat pupuk kompos di desa setempat, Selasa (2/3/2021). (Solopos-Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN -- Sejumlah petani dan ibu rumah tangga (IRT) di Wonoboyo, Kecamatan Jogonalan, Klaten, berkomitmen mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos dalam satu jam di desa setempat, Selasa (2/3/2021).

Kegiatan pengolahan sampah menjadi kompos itu menjadi bagian mewujudkan Desa Wonoboyo berdaulat di bidang ketahanan pangan dan menuju lingkungan bersih.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, kegiatan itu bertajuk Sosialisasi dan Pemberdayaan Masyarakat tentang Ketahanan Pangan Sehat Berbasis Pengolahan Sampah.

Baca juga: Produksi Beras di Jateng Susut 95.250 Ton Disebut Masih Surplus

Selain petani dan IRT, kegiatan itu di antaranya dihadiri pamong desa di Pemerintah Desa (Pemdes) Wonoboyo, Pemerintah Kecamatan Jogonalan, dan perwakilan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pembuatan kompos dipandu seorang mentor, yakni Dimas Drissen.

"Persoalan sampah ini dari tahun ke tahun terus meningkat. Sampah organik sampai sekarang belum dimanfaatkan dengan baik. Mulai hari ini, kami berkomitmen mengubah pola pikir untuk memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk kompos atau pun menjadi pakan ternak. Berbekal pemanfaatan ini, tanah menjadi subur dan lingkungan bersih. Di desa kami terdapat 3.500 jiwa penduduk. Setiap rumah tangga, minimal menghasilkan sampah setengah kilogram per hari," kata Kepala Desa (Kades) Wonoboyo, Supardiyono, saat ditemui wartawan di desanya, Selasa.

Camat Jogonalan, Sutopo, mengatakan keberadaan sampah perlu dilakukan penanganan khusus. Sejauh ini, sampah selalu menjadi momok bagi masyarakat.

Penyebab Lingkungan Tak Sehat

Selain dapat menimbulkan bau tak sedap, sampah juga menjadi penyebab terjadinya banjir dan lingkungan yang tak sehat di lingkungan masyarakat.

"Di Jogonalan yang jadi percontohan pengelolan sampah organik menjadi pupul kompos, yakni Wonoboyo dan Ngering. Nantinya, hal ini akan dikembangkan ke seluruh desa di Jogonalan. Jadi nantinya, sampah itu sudah dipilah sejak di tingkat rumah tangga," katanya.

Baca juga: Adu Banteng Motor Bronjong Vs Truk di Gedangan Sukoharjo, 1 Orang Meninggal

Kepala Bidang (Kabid) Evaluasi dan Tindak Lanjut Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sumartinah, mengapresiasi pelatihan pupuk kompos selama satu jam di Wonoboyo. Umumnya, pembuatan kompos membutuhkan waktu berhari-hari.

"Di sini menjadi upaya mengedukasi belajar bersama. Bagaimana memperlakukan sampah sehingga berdaya guna," katanya.

Cofounder Wasteless Project, Alexander Enrico alias Kiko, mengatakan pengolahan pupuk kompos dari sampah organik bertujuan meningkatkan kemakmuran petani.

"Tinggalkan pupuk kimiawi dan gunakan pupuk kompos [organik]. Pembuatan kompos di sini cukup dilakukan selama satu jam dengan memanfaatkan fermentasi," katanya.

Baca juga: Jos! Warga Gotong-Royong Bangun Tanggul Ban Bekas di Tepi Sungai Mungkung Sragen



Berita Terkini Lainnya








Kolom