Ilustrasi Pupuk (JIBI/Dok)

Solopos.com, BOYOLALI -- Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Boyolali, Bambang Jiyanto, meminta seluruh petani tidak tergiur dengan pupuk palsu yang dijual murah.

"Saya meminta kalangan petani di Boyolali tetap mewaspadai peredaran pupuk palsu yang dapat merugikan petani. Jangan sampai petani tergiur tawaran pedagang yang menjual pupuk dengan harga lebih murah," kata dia saat ditemui solopos.com, Senin (20/1/2020).

Bambang mengimbau para petani agar membeli pupuk di distributor resmi.

"Jika masyarakat menemukan pupuk yang diduga palsu segeralah bawa ke Dinas Pertanian agar di cek kandungan pupuk tersebut. Pupuk palsu tidak memiliki kandungan pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga ketika tanaman dipupuk dengan pupuk palsu tidak ada manfaatnya dan tanaman tidak bisa tumbuh baik,” kata dia.

Salah satu petani di daerah Desa Canden, dan Desa Tempursari, Kecamatan Sambi, Sumarno, 46, mengaku kerap kali menjumpai pupuk palsuberedar di masyarakat. Ada salah satu pupuk merek Phoska dijual seharga Rp 30.000–Rp35.000 per karung. Padahal pupuk merek Phonska yang asli dijual Rp130.000 – Rp150.000.

“Kalau masyarakat tidak teliti mereka bisa tergiur, sebab tampilan dan warga karungnya sama seperti yang asli. Saya pernah sekali menggunakan pupuk palsu merek Phoska itu, karena saya tidak tahu itu pupuk palsu. Waktu itu saya ditawari salah satu oknum yang berkeliling di dekat rumah saya. Dia menawarkan pupuk dengan harga yang lumayan murah. Saya tidak melihat detail tulisan ternyata tulisanya kurang huruf n. Pupuk palsu ini jika disebarkan di tanaman tidak hancur, berbeda dengan pupuk yang dibeli di agen resmi,” kata dia saat ditemui Espos, Selasa (21/1).

Ia berharap Dinas Pertanian Boyolali, melakukan tinjauan dibeberapa wilayah untuk mencari oknum–oknum yang menyebarkan pupuk palsu itu. Harapannya, para petani lainnya tidak tertipu seperti dirinya.

“Ya harusnya Dinas Pertanian melakukan operasi dibeberapa wilayah di Boyolali. Soalnya banyak sekali pupuk merek ini yang digunakan petani,” ujarnya.

Hal ini juga dirasakan salah satu petani Desa Tempursari, Kecamatan Sambi, Ahmadi, 44. Petani Desa Tempursari banyak yang membeli pupuk palsu yang murah tersebut.

"Para oknum oknum penjual pupuk palsu ini beroperasi menggunakan mobil pikap pada sore hari. Banyak sekali petani yang tertarik membeli pupuk palsu itu lantaran harganya yang murah," kata dia.

Pilkades 11 Desa di Boyolali 18 April 2020 Pakai Sistem E-Voting

Ia mengatakan para petani membeli pupuk palsu itu lantaran sulit mencari pupuk subsidi di agen agen resmi.

"Mereka membeli pupuk tersebut lantaran pada bulan bulan ini waktunya memupuk tanaman,” ujarnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten