Perempuan Istimewa Jateng Terima Tali Asih dalam Kongres Perempuan
Pejabat Sekda Jateng Heru Setiadhie didampingi Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jawa Tengah Retno Sudewi menyerahkan tali asih dalam acara penutupan Kongres Perempuan Jateng I di Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (26/11/2019). (Antara-Nur Istibsaroh)

Solopos.com, SEMARANG — Belasan perempuan terpilih sebagai penerima tali asih pada Kongres Perempuan Jawa Tengah I. Tali asih itu diserahkan pada puncak acara di Kota Semarang, Jateng, Selasa (26/11/2019).

Belasan perempuan tersebut berasal dari beragam latar belakang, mulai dari korban kekerasan dalam rumah tangga hingga perempuan yang memperjuangkan isu pekerja migran serta aktifis komunitas. Seluruhnya secara bergantian menerima tali asih yang diserahkan oleh Pejabat Sekda Jateng Heru Setiadhie dan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jawa Tengah Retno Sudewi.

Belasan penerima tali asih Kongres Perempuan Jateng I tersebut, antara lain Sikoh, perempuan dengan kepemimpinan yang menjabat sebagai kepala Desa Tamangede, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Kemudian Tri Suprihatin, perempuan kepala keluarga yang pernah menjadi buruh migran sekaligus korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Selanjutnya, Asti Wulan Sari, perempuan kepala keluarga yang juga aktifis perempuan dalam pembangunan desa di komunitas Perempuan Desa Tamangede. Selain itu, Budiati, perempuan dengan pembangunan desa selaku aktifis perempuan dalam pembangunan desa di komunitas dan aktifis dalam isu perempuan pekerja migran.

Selain itu, Nova, perempuan dengan pembangunan desa selaku aktifis perempuan di Musrenbang dalam komunitas Perempuan Desa Temangede, Kendal. Penerima lainnya, Umi dan Dian Kartika selaku penggerak Komunitas Dewi Shinta (perempuan dengan rob Semarang).

Kemudian Suriyati, pekerja rumah tangga harian di beberapa tempat dalam satu hari sekaligus aktivis serikat pekerja rumah tangga. Ada pula PW, perempuan yang menikah pada usia 17 tahun sekaligus menjadi korban KDRT yang berasal dari Semarang. Lalu W, perempuan dengan HIV yang aktif melakukan advokasi.

Berikutnya, Nunuk, perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan hidup mandiri dengan tanggungan anak dan cucu. Terakhir, Ririn, perempuan pekerja rumahan dengan Kab Semarang dan Irmalia, perempuan disabilitas netra berprofesi sebagai penyiar radio dan terkapasitasi pendidikan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho