Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Gusti Ayu Bintang Darmawati (kedua dari kanan) membuka Kongres Perempuan Jateng I didampingi Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (kanan), Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jateng Siti Atikoh (kedua dari kiri), dan Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Jateng Nawal Arafah (kanan) yang juga selaku panitia Kongres Perempuan Jateng I di Kota Semarang, Jateng, Senin (25/11/2019). (Antara-Nur Istibsaroh)

Solopos.com, SEMARANG — Tidak seperti rencana semula, Kongres Perempuan Jawa Tengah I di Kota Semarang, Jateng, Senin (25/11/2019), tidak dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Sebagaimana foto yang dipublikasikan Kantor Berita Antara, gong pembuka acara dipukul Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan I Gusti Ayu Bintang Darmawati. Sebelumnya, dipublikasikan Antara, Kongres Perempuan Jateng I bakal dibuka Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Darmawati, menurut rencana itu mestinya tampil menyampaikan keynote speech pada saat stadium general. Nyatanya, Antara menegaskan acara itu akhirnya dibuka Bintang Darmawati. Ganjar Pranowo dan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jateng Siti Atikoh hanya mendampingi.

Terkait pelaksanaan kongres itu, Gubernur Ganjar Pranowo mengingatkan banyaknya pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan perempuan Jawa Tengah dalam kongres dua hari, Senin-Selasa, (25-26/11/2019) itu. Persoalan-persoalan tersebut antara lain masih adanya 8.640 perempuan yang melapor dirinya mengalami kekerasan berbasis gender, lebih dari 50% perempuan kepala keluarga (Pekka) di Jateng tidak memiliki akta nikah, 78% bercerai karena KDRT, 40% buta huruf, serta 56% anak mereka tidak memiliki akta kelahiran.

"Saya titip PR itu diselesaikan dalam kongres ini. Saya menyambut baik Kongres Perempuan ini dan jargon Perempuan Berdaya, Jateng Maju harapannya bisa diurai. Hadirkan perempuan-perempuan hebat di ruangan ini, lalu tiru agar mempunyai acuan yang baik," tutur Ganjar.

Ganjar menjelaskan Kongres Perempuan Jateng I diperlukan karena diharapkan bisa menjadi solusi segala persoalan yang ada sekaligus untuk mempersiapkan perempuan menghadapi perubahan zaman agar mereka berdaya.

"Jika mereka tidak terlatih tidak bisa, sementara dunia persaingan semakin ketat. Banyak pintu yang bisa diberikan dengan keahlian yang dimiliki dari mereka yang sudah sukses atau para pendahulu. Harapannya di kongres ini dapat dirumuskan, sehingga banyak akses untuk mereka terhadap ekonomi, pendidikan, dan kesehatan," katanya.

Ganjar Pranowo juga mengingatkan para perempuan dapat terus bersuara dan berbicara terutama dalam sejumlah forum penting seperti dalam musyawarah rencana pembangunan agar program pemerintah tidak maskulin, tetapi juga berprespektif gender. "Kami tunggu rekomendasi yang dihasilkan dari Kongres Perempuan Jateng I," tegas Gubernur Ganjar Pranowo.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten