Penggunaan Branjang Kian Menjamur, Nelayan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri Resah

Nelayan di Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri resah karena kian maraknya penggunaan branjang.

 Salah satu nelayan di Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Basuki, saat menangkap ikan menggunakan perangkap ikan, Bubu Icir, di Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Jumat (16/9/2022). Nelayan di WGM Wonogiri meminta Pemkab Wonogiri membantas Branjang di WGM. (Solopos.com/Muhammad Diky Praditia)

SOLOPOS.COM - Salah satu nelayan di Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Basuki, saat menangkap ikan menggunakan perangkap ikan, Bubu Icir, di Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Jumat (16/9/2022). Nelayan di WGM Wonogiri meminta Pemkab Wonogiri membantas Branjang di WGM. (Solopos.com/Muhammad Diky Praditia)

Solopos.com, WONOGIRI — Jarum jam menunjukkan pukul 06.00 WIB ketika Basuki menyalakan mesin tempel perahunya. Ia bergegas mengarahkan perahu ke tengah perairan Waduk Gajah Mungkur (WGM) di wilayah utara Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Jumat (16/9/2022). 

“Ini sudah agak kesiangan sebetulnya. Biasanya saya berangkat lebih pagi dari ini,” kata Basuki kepada Solopos.com, Jumat pagi.

PromosiDaihatsu Rocky, Mobil Harga Rp200 Jutaan Jadi Cuma Rp99.000

Saat itu, Basuki baru saja memotong ikan berukuran sekitar 15 cm menjadi beberapa bagian kecil lagi. Basuki memotongi ikan di dek perahu bagian depan.

Potongan-potongan ikan itu bakal menjadi umpan di perangkap Ikan yang sudah ia sebar di beberapa lokasi di tengah WGM. Ia menyebut hal itu sebagai perangkap ikan bernama Bubu Icir. Biasanya, hanya Ikan Betutu yang masuk perangkap ikan milik Basuki.

Matahari sudah mulai meninggi ketika perahunya sampai di tengah perairan WGM. Mesin perahu berbahan bakar minyak itu ia matikan.

Baca Juga: Kisah Nyoto, Nelayan Pertama di WGM Wonogiri yang Belajar secara Autodidak

Basuki beralih menggunakan dayung kayu untuk menjalankan perahu berwarna biru itu. Selain hemat bahan bakar minyak (BBM), cara itu lebih mudah untuknya menghampiri dan mengangkat Bubu Icir yang sudah ia sebar.

Jarak antarperangkap yang dipasang tidak terlalu jauh, lebih kurang 10 meter. Setiap Bubu Icir dikaitkan dengan tali tambang plastik dengan dibebani botol plastik di atasnya. Hal itu guna memudahkan mengangkat perangkap ikan.

Basuki memiliki 100 Bubu Icir dengan rerata volume masing-masing 78.000 cm3. Basuki mengangkat 50 Bubu Ircir setiap dua hari sekali.

Dengan kata lain, setiap hari Basuki hanya mengangkat 50 Bubu Icir. Tidak setiap Bubu Icir yang ia angkat terdapat ikan. Pagi itu, dari 50 Bubu Icir yang ia angkat, hanya setengahnya yang berhasil menjebak ikan. 

Baca Juga: Sempat Ditertawakan Orang, Petani Hortikultura di Wonogiri Ini Justru Sukses

“Kosong lagi. Sudah sedikit ikannya,” ujar Basuki setelah beberapa kali mengangkat Bubu Icir dan nihil tangkapan.

Saat satu Bubu Icir membuahkan hasil, isinya tidak lebih dari tiga ekor ikan. Pernah juga berisi satu ekor.

Ikan yang berhasil ditangkap rata-rata berukuran 1-2 ons. Pagi itu, dari 50 Bubu Icir yang diangkat, Basuki mendapatkan 5,5 kg Betutu.

Harga jual Betutu seharga Rp15.000/kg. Hari itu, ia mendapatkan Rp82.500, belum dipotong untuk beli BBM seharga Rp20.000.

Baca Juga: Banyak Ditemukan di Wonogiri Bagian Selatan, Ini Manfaat Tanaman Sorgum

Tidak jauh dari tempat Bubu Icir yang Basuki sebar, terdapat alat tangkap ikan jenis branjang. Menurut Basuki, Alat tangkap itu menjamur di perairan WGM di wilayah Kecamatan Wuryantoro bagian selatan, Eromoko, Baturetno, hingga Nguntoronadi. Branjang mudah terlihat dan dikenali. 

Alat tangkap itu biasanya menggunakan tiang-tiang pancang berbahan bambu, menjulang membentuk segi empat. Ukuran tiap branjang berbeda-beda.

Solopos.com mencoba mendekati beberapa branjang di Wuryantoro Selatan. Ukuran branjang itu sekitar 150-300 meter persegi. Branjang merupakan jenis jaring angkat atau lift net.

“Salah satu yang membuat ikan di WGM ini semakin sedikit, ya branjang itu. Mata jaring [lubang jaring] branjang itu berukuran 1-1,5 inci. Makanya ikan-ikan berukuran kecil pun ikut tertangkap. Itu merusak habitat di WGM ini,” kata dia. 

Baca Juga: Ini Dia Keistimewaan Kacang Sacha Inchi Wonogiri

Dia melanjutkan, penggunaan branjang di WGM sudah berlangsung bertahun-tahun. Padahal menurut Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Wonogiri, penggunaan branjang itu dilarang. Terlebih yang memiliki mata jaring ukuran 1-1,5 inci. Jumlah branjang bahkan semakin bertambah ketika air sedang pasang. 

Dibandingkan dengan jaring insang atau gill net yang biasa digunakan nelayan pada umumnya, hasil tangkapan branjang jauh lebih banyak. Hal itu menimbulkan kecemburuan sosial sehingga banyak orang yang kepincut menggunakan branjang.

“Mereka tidak berpikir efek jangka panjangnya. Mereka hanya berpikir sekarang. Branjang itu lama-lama akan merusak habitat ikan. Sekarang saja sudah terasa dampaknya. Hasil tangkapan nelayan semakin sedikit. Tidak cuma nelayan, para pemancing ikan pun kena dampaknya. Mereka jadi jarang dapat ikan,” jelas Basuki.

Kondisi itu diperparah dengan pasar yang mau menerima hasil tangkapan dari branjang. Pasar tetap mau menerima meski ikan dari hasil penggunaan branjang berukuran kecil. Di sisi lain, tidak ada tindakan tegas dari Pemkab terhadap pelaku-pelaku pengguna branjang. Padahal hal itu jelas melanggar Perda. 

Baca Juga: Hasil Tangkapan Ikan Turun, Banyak Nelayan WGM Wonogiri Alih Profesi

“Saya itu pernah usul kepada pemerintah, mbok ya sekali tempo, pelaku pengguna branjang itu dihukum sesuai peraturan yang berlaku. Jangan hanya diberi pembinaan. Itu tidak akan ada efek jera baik bagi pelaku atau nelayan lain,” ucap dia.

Dampak penggunaan jaring branjang juga dirasakan salah satu nelayan yang menggunakan gill net, Ngatimo. Ia biasa menangkap ikan putihan. Hasil tangkapan Ngatimo tidak sebanyak dulu. Bahkan Ngatimo menyebut kondisi ikan WGM saat ini mendekati punah karena ikan yang ditangkap tidak sebanding dengan benih ikan yang ditebar. 

“Ditambah lagi, kalau kemarau kayak gini, ada nelayan yang pakai jaring garuk, modelnya kayak pukat harimau di laut itu. Kalau pakai itu lebih ngeri lagi, semua ikan yang terperangkap di dalamnya pasti terjaring. Itu jaringnya sampai ke dasar air. Jelas merusak habitat,” kata Ngatimo saat berbincang dengan Solopos.com di Tempat Pendaratan Ikan, Kecamatan Wuryantoro.

Daftar dan berlangganan Espos Plus sekarang. Cukup dengan Rp99.000/tahun, Anda bisa menikmati berita yang lebih mendalam dan bebas dari iklan dan berkesempatan mendapatkan hadiah utama mobil Daihatsu Rocky, sepeda motor NMax, dan hadiah menarik lainnya. Daftar Espos Plus di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Solopos.com - Panduan Informasi dan Inspirasi

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Berita Terkini

      Diresmikan 17 November, Utusan Presiden UEA Cek Masjid Raya Sheikh Zayed Solo

      Utusan dari Presiden Uni Emirat Arab (UEA) dalam waktu dekat akan datang mengecek progres pembangunan Masjid Raya Sheikh Zayed di Gilingan, Solo, sebelum diresmikan 17 November nanti.

      Lengkap dan Nyaman, Ini Daftar Hotel di Dekat Stasiun Gawok Sukoharjo

      Rincian hotel yang berada di dekat Stasiun Gawok, Sukoharjo.

      Omzet Anjlok, Pemilik Toko Dekat Jembatan Mojo Solo Ingin Proyek Cepat Kelar

      Kalangan pemilik toko di Jl Kyai Mojo mengeluhkan omzet turun drastis sejak Jembatan Mojo, Solo, ditutup untuk perbaikan, Senin (26/9/2022) lalu.

      Upaya Diversifikasi Pangan, DPRD Boyolali Dukung Selodoko Jadi Sentra Alpukat

      DPRD Boyolali mengapresiasi program diversifikasi pangan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Selodoko, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, lewat penanaman alpukat kalibening.

      8 Tujuan Pengelolaan Dana Bergulir Masyarakat oleh BUMDes Bersama di Wonogiri

      Kabupaten Wonogiri memiliki 23 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bersama hingga sekarang.

      Kaum Hawa Karanganyar Didorong Punya Konstribusi Nyata di Politik

      KPU dan Bawaslu Karanganyar mendorong perempuan di Bumi Intanpari mengambil lebih banyak peran dana dunia politik.

      Fraksi PDIP Perjuangkan Ada Anggaran dari APBD Solo 2023 untuk Masjid Sriwedari

      Fraksi PDIP DPRD Solo akan memperjuangkan agar ada alokasi anggaran untuk penyelesaian pembangunan Masjid Sriwedari pada APBD 2023.

      Cek! Cara Legal Beli BBM Bersubsidi Pakai Jeriken di Sragen

      Pembelian BBM bersubsidi menggunakan jeriken diperbolehkan untuk sejumlah kalangan dengan syarat tertentu. Cek di sini caranya.

      Soto Gunting Klaten, Pembeli Leluasa Potong Jeroan dan Daging sesuai Selera

      Soto Gunting Pak Randi menjadi salah satu menu soto yang terkenal di sepanjang jalan raya Solo-Jogja.

      Doakan Korban Tragedi Kanjuruhan, Besok Masjid Agung Solo Adakan Salat Gaib

      Masjid Agung Solo akan mengadakan Salat Gaib berjamaah yang ditujukan bagi para korban tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jatim, setelah Salat Jumat, siang ini.

      Rest Area Candi Sukuh Karanganyar Mangkrak 3 Tahun

      Sejak selesai dibangun pada 2019, rest area di kawasan wisata Candi Sukuh, Karanganyar belum pernah digunakan. Padahal proyek pembangunannya menelan dana hingga Rp2 miliar.

      Wah, Ada Nama Anak FX Hadi Rudyatmo di Daftar Usulan Caleg DPRD Solo 2024

      Nama anak FX Hadi Rudyatmo, Rheo Fernandez, masuk bakal daftar caleg sementara DPRD Kota Solo 2024 dari hasil penjaringan PAC PDIP Jebres.

      BLT Sapu Jagat Belum Cair, Bupati Karanganyar Minta Warga Bersabar

      Bupati Karanganyar meminta warga bersabar menunggu pencairan BLT sapu jagat yang saat ini masih pendataan calon penerima. Menurutnya perlu kehati-hatian dalam pendataan agar tidak ada doble penerima.

      Kurang dari 24 Jam, Polres Sukoharjo Berhasil Tangkap Pembobol Rumah di Grogol

      Polres Sukoharjo berhasil menangkap pembobol rumah kosong di Perumahan Baiti Jannati, No. A 29, Pandeyan, Grogol, dalam waktu kurang dari 24 jam.

      Terus Bertambah, Kini Ada 181 Nama Warga Wonogiri yang Dicatut Parpol

      Kasus pencatutan nama warga Wonogiri sebagai anggota partai politik (parpol) terus bertambah.