Peneliti LIPI soal Tawon Vespa: Agresif di Siang Hari, Hanya Betina yang Menyengat
Ilustrasi tawon ndas (LIPI)

Solopos.com, SOLO -- Dua bocah asal Sragen disengat tawon Vespa affinis atau ndas saat diboncengkan naik motor oleh ibu mereka di Dusun Dukuh RT 008, Desa Majenang, Sragen, Selasa (25/2/2020).

Sebelum kejadian, beberapa bocah lain iseng melempari sarang tawon seukuran galon air mineral itu dengan batu. Dua bocah yang terserang tawon itu sempat dirawat intensif di Puskesmas Sukodono.

Dalam beberapa waktu terakhir, serangan tawon ndas membuat resah warga di beberapa daerah seperti Klaten, Sragen, dan daerah lainnya. Tercatat lebih dari 250 orang di Jawa Tengah menjadi korban serangan tawon ndas alias Vespa affinis. Beberapa korban di antaranya bahkan sampai meninggal.

Sungai Garuda Sragen Ternyata Habitat Ular Piton

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengajak masyarakat mengenal perilaku tawon ndas termasuk penanganan sengatan. Pusat Penelitian Biologi LIPI memaparkan ada dua jenis tawon di Indonesia yaitu soliter dan sosial. Jenis soliter yaitu Eumeninae hidup sendiri. Tidak ada fase pemeliharaan anak dan material sarang terbuat dari tanah atau lumpur.

Sementara Polistinae, Stenogastrinae, dan Vespinae ynang masuk dalam tawon sosial yang hidup berkoloni. Ada fase pemeliharaan anak dan material sarang dari tumbuhan (pulp). Tawon ndas alias Vespa affinis ini termasuk tawon sosial yang hidup berkoloni.

Tawon ndas termasuk jenis Vespinae yang cenderung agresif dan berbahaya. Secara umum tawon merupakan satwa predator. Meskipun sebenarnya tawon cenderung tidak agresif dan menyerang, kecuali diganggu atau merasa terganggu.

Dijuluki Sekolah Artis, Ini Deretan Alumni SMA 7 Solo Yang Jadi Artis

Melihat banyaknya kejadian serangan tawon ndas, LIPI menyebut konflik tawon dan manusia perlu dikaji secara bijak.

”Upaya pengendalian outbreak permasalahan dan penanganan satwa sudah menjadi salah satu arah kegiatan penelitian LIPI untuk menjaga keseimbangan dan keberlangsungan ekosistem dan ekologi”, ungkap Kepala Bidang Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cahyo Rahmadi, di laman LIPI, beberapa waktu lalu

Peneliti tawon dari Pusat Penelitian Biologi LIPI Hari Nugroho menjelaskan kemungkinan penyebab outbreak populasi tawon di daerah pemukiman disebabkan hilangnya habitat alami tawon.

Hal ini imbas pengalihan tata guna lahan, berkurangnya musuh alami atau predator tawon, perubahan iklim global, dan faktor sumber makanan.

”Tawon ndas agresif di siang hari, hal ini dikarenakan suhu yang hangat berpengaruh terhadap metabolisme tubuh tawon. Berbeda dengan kondisi dingin dan gelap mereka cenderung pasif,” ungkap Hari.

Hanya Betina

Bentuk tawon ndas
Bentuk tawon ndas (LIPI)

Dia mengatakan sengatan hanya dilakukan tawon betina dan berfungsi utama sebagai alat berburu mangsa sekaligus alat pertahanan diri terakhir terhadap gangguan atau ancaman.

”Pada saat tawon menyengat, akan diikuti dengan dikeluarkannya zat kimia feromon yang berfungsi sebagai alarm bagi kawanannya bahwa ada ancaman terhadap koloni. Alarm ini akan mengundang tawon-tawon lain dalam satu koloni untuk ikut menyengat,” kata Hari.

28 Kambing Mati Dengan Leher Dan Perut Tercabik Di Karangtengah Wonogiri

Peneliti lainnya Sih Kahono menambahkan tawon bisa menyengat beberapa kali, berbeda dengan lebah madu yang hanya menyengat satu kali.

Biasanya satu individu yang menyengat pertama mengeluarkan feromon berbahaya yang disebut attack pheromone dengan maksud untuk mengundang individu-individu lain dari satu koloni untuk ikut menyengat bersama sama.

LIPI mengingatkan meski sudah memakan korban jiwa, penanganan tawon ndas perlu dilakukan secara komprehentif. Upaya penanganan dan pengendalian tawon perlu dilakukan secara tuntas hingga akar permasalahan.

Mereka mengingatkan pembasmian tawon cukup dilakukan hanya di lokasi yang membahayakan keselamatan manusia sehingga tidak menimbulkan permasalahan ekologi.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah upaya pemindahan sarang secara rutin. Termasuk membuat sarang palsu untuk menekan munculnya sarang baru sampai membuat perangkap tawon di lokasi dengan populasi tinggi, dan membersihkan hingga tuntas sarang lama yang sudah kosong.

”Di samping itu penanganan secara local wisdom juga dapat menjadi solusi alternatif, namun tetap harus mengedepankan keselamatan dan sesuai prosedur”, imbuh Kahono.

Kahono mengingatkan yang perlu diperhatikan masyarakat saat menghadapi tawon ndas adalah hindari memindahkan sarang yang berukuran besar tanpa pemantauan dari pihak yang berwenang.

Janda Sragen Diteriaki Maling Dan Ditempeleng, Pemerintah Kecamatan Turun Tangan

”Selama masa outbreak tawon, lakukan pemeriksaan rumah dan lingkungan secara berkala dan jika terkena sengatan tawon dalam jumlah banyak segera hubungi rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat,” kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, tawon vespa di Sragen menyerang kepala dan lengan dua bocah bernama Mustofa, 7, dan Raisal, 8.

Tim Search and Rescue (SAR) Pengamanan Ormas Lingkungan Desa (Poldes) Sidoharjo kemudian memusnahkan sarang tawon dengan cara dibakar.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho