TPA Putri Cempo Solo. (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO – Pemulung yang beraktivitas TPA Putri Cempo, perbatasan Kota Solo dan Kabupaten Karanganyar, khawatir dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Mereka takut proyek tersebut mematikan pekerjaan memungut sampah.

Kekhawatiran tersebut diungkapkan Koordinator Pemulung TPA Putri Cempo, Suparno, 40, saat menghadiri pengukuhan pengurus Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) koordinator wilayah (Korwil) Solo 2019-2022 di Rumah Dinas Wakil Wali Kota Solo, Solo, Jumat (29/11/2019).

Suparno menjelaskan, terdapat 200-an pemulung di area Putri Cempo yang terdiri dari 60% warga Solo dan 40% warga Karanganyar. Para pemulung was-was mengenai masa depan mereka dengan adanya pembangunan PLTSa. Mereka takut tidak ada sampah untuk dipilah dan dijual kembali.

“Kami sudah berdiskusi kepada Wali Kota [Solo] mengenai masa depan kami. Wali Kota bilangnya iya saja. Untuk merekrut kami sebagai karyawan PLTSa,” katanya kepada Solopos.com saat ditemui di Rumah Dinas Wakil Wali Kota Solo.

Menurut Suparno, yang membuat was-was adalah mayoritas pemulung sudah berusia 40-50 tahun. Sementara, PLTSa membutuhkan proses pelaksanaan sehingga para pemulung yang bekerja sudah mendekati masa pensiun.

“Mayoritas pemulung sudah berkeluarga. Kami sudah pensiun enggak mungkin menjadi karyawan,” ujarnya.

Keluhan dan kekhawatiran pemulung tersebut sudah diterima Bidang Penataan Hukum dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo. Perwakilan DLH Solo, Bany, berjanji segera menyampaikan masukan tersebut ke pihak terkait.

Sementara menurut Ketua Umum IPI, Pris Polly D Lengkong, kapasitas PLTsa di Solo tidak terlalu besar. Ia menyarankan Pemkot Solo mendahulukan pengolahan tumpukan sampah lama.

“Sampah yang sudah menumpuk waste to energi dulu. Sehingga sampah lama dimusnahkan akan lebih bagus. Sampah baru memiliki ekonomis yang tinggi,” katanya.

Sedangkan Solid Waste Management Specialist Sustainable Waste Indonesia, Rangga Akib, memberikan saran kepada Pemkot Solo untuk membiarkan pemulung menyortir sampah sebelum diproses di PLTSa. Namun, dia mengakui mengatasi permasalah sampah cukup sulit.

“Kalau bisa kawan-kawan pemulung dibolehkan menyortir sampah. Mereka yang tahu butuhnya apa. Tetapi proses PLTSa membutuhkan tonase tertentu,” ungkapnya.

Rangga, menawarkan konsep sirkular ekonomi untuk pelaksanaan PLTSa. Sirkular ekonomi merupakan upaya menjaga sumber daya yang dipakai selama mungkin dan mendaur ulang sumber daya tersebut.

“Kalau semua dibakar sayang. Plastik memiliki nilai ekonomi tinggi yang terbuat dari minyak bumi. Minyak bumi bisa habis juga kan,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten